Oleh: Dr. Darus Altin, SE, MMSI

OPINI TIMELINES.ID, Istilah “Kampung Tua” tentunya bisa identik dengan “tua” sebagai faktor usia dari kampung tersebut. Jika dianalogikan usia pada diri seorang manusia, semakin tua tentunya akan semakin dewasa dan bijak dalam bersikap dan secara otomatis ditunjukkan dengan memiiliki banyak pengalaman dalam hidupnya.

Suatu kampung yang tua dalam usia dapat diprediksi pasti sesuatu yang bernilai lebih dan kemungkinan besar memiliki kekayaan-kekayaan tertentu seperti dari aspek budaya dan kearifan lokal di daerah tersebut.

Berdasarkan sejarah, Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai “Duke of Island” sejak tanggal 20 Mei 1812 dan berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824.

Baca Juga  Prodi BISDIG UBB bersama Pertamina Patra Niaga Gelar Pelatihan Transformasi Bisnis Berbasis Digital

Selanjutnya, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember 1816. Artinya, secara history, tidak dapat dipungkiri Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan teah ada sejak abad 18. Ini menandai bahwa Pulau ini merupakan suatu daerah tua dan pasti meninggalkan kesan tua bagi provinsi ini.

Dari suatu provinsi tentunya memiliki kampung-kampung yang bernilai sejarah dan tua dalam usianya. Jika dikaitkan dengan era kekinian, faktor sejarah dari suatu desa/kampung tentunya dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi kepulauan Bangka Belitung.

Salah satun contoh, Dalam Kaart Van Het Eiland Banka 1819, Toutuna (Tuatunu) adalah salah satu Kampung yang terletak di jalan darat menghubungkan wilayah Barat dan tengah pulau Bangka. Sejak abad 18 artinya telah tertulis bahwasannya Toutuna (Tuatunu) merupakan kampung tua dari faktor usia.

Baca Juga  Standar Moral Pahlawan Nasional: Pertanyaan Anak Muda untuk Masa Depan Bangsa

Tinggal bagaimana kejelian pemerintah dalam hal Pemkot Pangkalpinang dapat mengangkat menjadi suatu yang bernilai historis dilandasasi kearifan lokal di daerah ini.  Selain itu, dalam publikasi lain, di Kabupaten Bangka disebutkan bahwa Kedatangan orang Mapur terjadi pada abad 9 atau 10 dari daratan Indo-Cina secara tidak sengaja karena adanya serangan dari dinasti Nguyon.

Kampung tua yang lain yakni Desa Namang di Bangka Tengah yang secara historis sejak zaman Sriwijaya desa ini merupakan tempat persinggahan orang dari permis kecamatan Sungaiselan dan Toboali  yang hendak ke Pangkalpinang. Selanjutnya, ada Desa Kota Kapur di Kabupaten Bangka dengan temuan-temuan prasasti yang dikaitkan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Adanya Benteng Toboali merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1825 di menandakan adanya kampung ini sejak abad 18. Kemudian, tedapat Kampung Ulu yang merupakan pemukiman Melayu yang didirikan untuk salah satu kaum keluarga bangsawan Negeri Muntok sekitar tahun 1789–1792. Di Belitung seabad ke-15  telah berdiri sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Badau di Desa Badau.