Kisah Keluarga Ummi: Perjalanan Balik Kandang
Kisah Keluarga Ummi: Perjalanan Balik Kandang
Oleh: Ummi Sulis
Akhirnya, liburan lebaran Idulfitri 1447 Hijriah pun berakhir. Segala aktivitas kembali ke mode awal: kerja, kerja, kerja. Wah, bukan begitu. Kembali ke aktivitas semula menghadapi berbagai fenomena dan pesonanya. Termasuk kembali lagi hanya berdua di rumah, tanpa anak-anak yang menemani.
Bismillah kita jalan. Sepanjang perjalanan pulang yang terlihat adalah aktivitas orang-orang memulai hari mereka setelah sebelumnya menikmati libur lebaran. Namun, ada beberapa toko yang masih belum beroperasi. Mungkin masih meliburkan karyawannya untuk cuti lebaran sepekan. Termasuk kuliner-kuliner di sepanjang jalan, hanya beberapa saja yang buka. Yang tidak ada tutupnya adalah Alfamart dan Indomart. Untunglah toko buah sudah buka, jadi bisa membeli buah di pinggir jalan saja.
“Awas, Bi, bebek lewat. Kenapa bebek gak melihat kiri kanan kalau nyeberang jalan?” Aku ngingetin Paksu, biar tidak nabrak bebek lewat.
“Bebek gak perlu nengok kiri kanan, Mi, lah wong matanya di kiri kanan, koq. Dia lebih tahu sikon,” jawab Paksu.
“Iya, sih, otomatis gak perlu lihat.” Ummi tersenyum.
Karena haus, Ummi mengambil jeruk santang yang dibawa dan memakannya. “Kenapa lah jeruk ini mahal, ya. Masak, sekilo harganya sampai 60k? Mentang-mentang kecil.” Ummi ngedumel.
“Kan beda, Mi, jeruk impor, kandungan airnya juga lebih banyak. Bukan karena kecil, ada kok, kecil dan murah,” ujar Paksu.
“Kecil dan murah, hmmm jeruk kunci.” Ummi menyandingkan jeruk santang dan jeruk kunci, kemudian tersenyum.
