Oleh: Bella Novianti, A.Md — Aktivis Dakwah Islam

Ramadan tahun ini terasa berbeda. Terutama bagi korban bencana sumatera, khususnya wilayah Aceh. Mereka harus melaksanakan ibadah Ramadan kali ini di tenda- tenda pengungsian.  Berdesak-desakan dengan pengungsi lainnya. Dengan pakaian yang minim dan makanan seadanya. Bahkan dalam kondisi gelap. Karena listrik belum sepenuhnya stabil. Bencana banjir yang menimpa mereka tiga bulan yang lalu telah menenggelamkan segala rumah dan harta mereka. Sampai saat ini kondisi mereka belum sepenuhnya pulih.

Pemerintah yang mempunyai kuasa atas rakyatnya justru terkesan lambat menangani pemulihan pasca bencana. Sampai sekarang sebagian hunian sementara utk korban belum selesai.  Banyak Akses jalan dan jembatan belum diperbaiki.

Pemerintah mengklaim sudah melakukan berbagai kebijakan untuk rekonstruksi pasca bencana. Dimana pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial telah menyerahkan bantuan social senilai 100 miliar untuk menangani dampak bencana alam di wilayah sumatera (obor keadilan.com).

Baca Juga  Relationship Marketing dalam Organisasi Pemerintah

Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan mendesak korban bencana, mulai dari pemenuhan sandang, pangan, papan hingga penyelenggaran program rehabilitasi kesehatan dan psikologis. Pemerintah juga telah menyiapkan pembangunan huntara/hunian sementara di tiga provinsi tersebut mencapai 17.499 unit dengan 4.263 unit diantaranya telah rampung atau setara 24% dari total rencana.

Pemerintah juga telah menyalurkan dana tunggu harian (dth) bagi keluarga terdampak 600.000/bulan kepala keluarga untuk periode tiga bulan (kemendagri.go.id). Tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan riayah yang memadai. Hingga maret 2026, Satuan tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra mengungkapkan, 1.872 KK masih berada di tenda pengungsian (kompas.com).

Sebagian korban belum mendapat keputusan tentang huntara dan belum menerima dana DTH. Pengungsi banjir juga masih mengalami krisis air bersih akibat kerusakan pompa dan infrasturktur PDAM yang belum pulih 100%. Belum lagi sampai saat ini bencana sumatera termasuk aceh tidak ditetapkan sebagai bencana nasional karena khawatir pengeluaran negara akan lebih besar. Akibatnya dana alokasi untuk bencana menjadi terbatas.

Baca Juga  Investasi Kripto dan Saham di Usia Muda: Peluang Masa Depan atau Ancaman Finansial?

Sehingga menghambat pemulihan  lokasi bencana yang terdampak. Yah… begitulah ketika sistem yang dianut negeri ini adalah sistem kapitalisme. Sebuah sistem yang hanya mementingkan materi, hanya melihat untung rugi. Sehingga anggaran untuk penanggulangan bencana pun dihitung dengan logika untung rugi dan efisiensi anggaran.

Akibatnya penanganan pemulihan bencana menjadi lambat dan sampai sekarang kondisi kehidupan para korban bencana masih belum membaik. Negara tidak menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat yang seharusnya menjamin kecepatan pemulihan dan keberlanjutan hidup warganya, terutama dalam kondisi darurat ketika rakyat sepenuhnya bergantung kepada negara.

Sistem Islam Meri’ayah Rakyat dengan Sebenarnya

Sungguh berbanding terbalik dengan islam. Dalam islam, kepemimpinan dipahami sebagai tanggung jawab yang sangat berat. Rasulullah saw bersabda; “Imam (pemimpin) adalah pengurus  rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya” (HR Bukhari dan Muslim ). Hadist ini dengan tegas menjelaskan konsep kepemimpinan dalam Islam yaitu pemimpin harus berada di barisan terdepan dalam melindungi rakyat, menghadirkan keamanan dan menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

Baca Juga  Makaseh Pak Elfan

Apalagi memasuki bulan Ramadan. Sebelum menjelang Ramadan, negara Islam harus memastikan apakah kebutuhan yang diperlukan masyarakat terpenuhi, apakah cukup selama ramadhan. Sehingga masyarkat yang melaksanakan ramadhan tidak kekurangan sesuatu apapun. Seperti yang pernah dilakukan pada masa khalifah Umar bin Khattab.  Menjelang Ramadan, Umar membangun masjid dan fasilitas ibadah.

Umar memerintahkan pembangunan masjid yang lebih besar dan lebih baik di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Masjid Nabawi di Madinah dan masjid lainnya yang tersebar di kota-kota Islam. Supaya umat islam dapat melaksankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk. Umar bin Khattab juga sangat peduli dengan kondisi ekonomi umat Islam selama bulan Ramadan.