Oleh: Gito — Pemilik Warung Paksu

Di tengah hiruk-pikuk sebuah hajatan di Kota Toboali, saat ribuan pasang mata terpaku pada kemilau pelaminan di depan, ada sebuah dunia lain yang berdenyut kencang di belakang rumah.

Sebuah dunia yang dikepung kabut asap kayu bakar, riuh rendah piring yang beradu, dan tumpukan bahan makanan raksasa. Di pusat pusaran keriuhan itu, berdirilah satu sosok yang tenang namun tatapannya tegas. Tangannya legam oleh arang dan kasar oleh batu gilingan, namun matanya tajam mengawasi setiap inci kuali. Dialah Mak Panggung.

Bagi masyarakat Bangka Selatan, Mak Panggung bukan sekadar juru masak. Ia adalah sebuah institusi. Ia adalah “Jenderal Dapur” yang pangkatnya tidak disematkan oleh SK pemerintah atau ijazah sekolah kuliner mewah, melainkan disahkan langsung oleh “Kesepakatan Lidah Rakyat”. Gelarnya divalidasi setiap kali tamu hajatan pulang sambil menyeka bibir dan berbisik, “Nyamen uge pemakan e, hape Mak Panggung e?” (Enak juga makannya, siapa Mak Panggungnya?).

Baca Juga  Kepala Sekolahku (bagian 2)

Jika Anda mencari ijazahnya, lihatlah pada kawah-kawah raksasa yang menghitam ditempa api. Ijazah mereka terukir dalam garis-garis kasar di telapak tangan yang telah menumbuk bumbu selama puluhan tahun. Akreditasi mereka adalah kepercayaan mutlak dari tuan rumah, yang menyerahkan kehormatan keluarga sepenuhnya di tangan sang Jenderal. Tanpa Mak Panggung yang mumpuni, sebuah hajatan dianggap belum sempurna dan kehilangan marwahnya.

Tradisi Tangan dan Nyala Kayu Bakar

Kekuatan Mak Panggung Toboali terletak pada prinsip yang tak bisa ditawar. Dapur mereka adalah benteng terakhir yang menolak tunduk pada modernisasi yang mematikan rasa. Meskipun harus melayani ribuan tamu, prinsipnya tetap satu: Semua bumbu harus ditumbuk manual. Mesin blender adalah benda asing, bahkan dianggap “penoda” di dapur mereka. Bagi Mak Panggung, blender tidak menghaluskan, melainkan memotong bumbu secara paksa dan mematikan sari patinya. (walaupun Sebagian sudah mulai ada beberapa bagian yang terpaksa menggunakan blender)

Baca Juga  Persimpangan Tak Lagi Bernama

Di sinilah letak standar sakral yang mereka sebut “Cero-cero”. Cero-cero bukan sekadar halus. Ia adalah titik magis di mana cabai, kunyit, lengkuas, dan terasi kehilangan identitas individunya dan melebur menjadi satu kesatuan rasa yang utuh. Menumbuk sampai cero-cero adalah ritual menyatukan sari bumi; memastikan minyak alami rempah keluar sempurna dan menciptakan lapisan rasa yang “tebal” serta meresap hingga ke sumsum. Bagi Mak Panggung, bumbu yang belum cero-cero adalah sebuah penghinaan bagi masakan itu sendiri.