Oleh: Sobirin Malian Dosen (FH UAD)

Sejarah emas Islam mencatat sebuah standar kepemimpinan yang nyaris mustahil ditemukan di era hari ini. Kita mengenang Umar bin Khattab ra., yang perutnya berbunyi keroncongan karena bersumpah tidak akan menyentuh daging dan mentega selama musim paceklik belum usai di tanah Hijaz. Ia memimpin kekhalifahan besar dengan pakaian penuh tambalan, namun kewibawaannya membuat gentar kaisar dan raja-raja dunia.

Begitu pula Ali bin Abi Thalib ra., yang dalam kezuhudannya lebih memilih memakan roti kering yang keras daripada menikmati hidangan istana. Bagi mereka, kekuasaan bukanlah karpet merah menuju kemewahan personal, melainkan beban tanggung jawab (amanah) yang akan dihisab dengan sangat detail di akhirat kelak.

Baca Juga  Tiga Karakter Seorang Pemimpin

Namun, jika kita menengok apa yang terjadi di Kalimantan Timur (Kaltim) belakangan ini, memori sejarah itu terasa seperti cermin yang retak. Kebijakan pengadaan kendaraan dinas mewah di tengah kondisi infrastruktur yang memprihatinkan bukan sekadar persoalan anggaran, melainkan manifestasi dari syahwat fasilitas yang tak terkendali.

Syahwat Fasilitas dan Matinya Kepekaan

Ketika seorang pemimpin merasa martabatnya hanya bisa tegak jika disangga oleh mobil miliaran rupiah, di situlah letak kehancuran wibawa yang sesungguhnya. Syahwat fasilitas ini telah membutakan mata hati para pembuat kebijakan. Mereka seolah terjebak dalam gaya hidup elit yang terputus dari realitas akar rumput.

Akibatnya, terjadi defisit empati yang sangat akut. Bagaimana mungkin seorang pejabat bisa tidur nyenyak di atas jok kulit kendaraan mewah yang dibeli dari pajak rakyat, sementara di sudut lain Kaltim, ibu-ibu harus bertaruh nyawa melewati jalanan berlumpur hanya untuk ke pasar, atau anak-anak sekolah yang harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi? Defisit empati inilah yang membuat penguasa gagal merasakan denyut nadi penderitaan publik.

Baca Juga  Ubur-Ubur Tenun: Damainya Laut Bangka di Balik Kain Cual Maslina

Zuhud: Antara Iran dan Realita Kita

Bahkan di era modern, keteladanan hidup sederhana bukan hal yang mustahil. Kita bisa bercermin pada banyak pejabat tinggi di Iran yang mempraktikkan prinsip Zuhud. Mereka memahami bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak terletak pada mahalnya deretan mobil dinas, melainkan pada kedekatan batin antara pemimpin dan rakyatnya.

Di sana, pemandangan pemimpin duduk lesehan di karpet sederhana adalah simbol bahwa kehormatan bangsa dibangun dari integritas, bukan dari atribut material. Kontras ini menjadi tamparan keras bagi pejabat di negeri kita yang seolah mengalami “disorientasi nilai”—merasa martabatnya jatuh jika tidak tampil glamor.