Pantai: Basah tapi Bukan Lautan, Kearifan Lokal yang Mulai Mengering

Oleh: Gito — Penulis yang Tinggal di Bangka Selatan

Di Toboali, nama “pantai” tidak selalu merujuk pada hamparan pasir putih, melainkan sebuah wilayah kedaulatan di belakang rumah saat hajatan berlangsung. Ia adalah panggung dari susunan kayu bulat atau ranting yang sengaja dibuat tinggi agar air cucian langsung meresap ke tanah.

Di sinilah jantung operasional sebuah perhelatan, tempat kuali-kuali besar dan ribuan piring keramik “dijinakkan” dari lemak makanan. Namun kini, seiring berubahnya gaya hidup, eksistensi pantai yang basah dan ramai itu mulai terancam oleh arus kepraktisan yang kering.

Dulu, suara khas sebuah hajatan adalah harmoni antara denting sendok yang beradu dengan piring keramik dan gemerincing gelas kaca yang dicuci massal di atas pantai. Ada kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah saat menyajikan hidangan di atas piring yang berat dan gelas yang kokoh.

Baca Juga  Mobil Sehat PT Timah Tbk, Berikan Layanan Kesehatan Gratis ke Warga Pantai Nyiur Melambai

Namun, wajah meja prasmanan kita kini telah berubah warna. Piring rotan beralas plastik nasi dan minuman kemasan sekali pakai telah menjadi standar baru, menggeser dominasi kaca dan keramik yang dulu harus “mampir” ke pantai untuk dibersihkan.

Perubahan ini dipicu oleh satu mantra utama: praktis. Dengan piring rotan dan kertas atau plastik nasi, tuan rumah tak lagi perlu mengerahkan pasukan besar untuk urusan cuci piring. Cukup tarik plastiknya, buang, dan piring rotan pun siap digunakan kembali.

Kecepatan ini memang memangkas waktu dan tenaga, namun secara perlahan ia juga memangkas kebutuhan akan adanya pantai. Di banyak hajatan modern di Toboali, area belakang rumah kini tetap kering dan sepi, karena beban pekerjaan cuci piring telah lenyap ditelan sampah plastik sekali pakai.

Baca Juga  Heboh, Fenomena Air Pantai Pasir Kuning di Bangka Barat Berubah Warna Hingga Berbau