Oleh: Sobirin Malian — Penulis yang tinggal di Yogyakarta

Kita sedang hidup di sebuah masa yang agak gila. Masa di mana manusia lebih gemetar dibilang miskin daripada takut pada ancaman neraka. Kita rela membelit leher dengan cicilan yang mencekik hanya demi sebuah label “punya”. Kita sikut kanan-kiri, mengaburkan yang halal dan haram, hanya agar terlihat gagah di mata manusia.
Padahal, ada rahasia besar yang sering kita lupakan: Miskin itu bukan vonis, ia hanya sekadar cara Allah menjaga kita.

Pujian yang Menyembelih

Umar bin Khattab pernah memberi peringatan pedas: “Pujian itu adalah sembelihan.” Saat kita haus akan kalimat “Wah, hebat ya, kaya raya!”, di saat itulah kita sedang menyerahkan leher untuk disembelih oleh gengsi. Kita menjadi budak pada ekspektasi orang lain, lupa bahwa di mata Allah, kemuliaan tidak dihitung dari angka di rekening, melainkan dari detak takwa di dalam dada.
Ada sebuah pepatah Arab yang menampar kesadaran kita:
“Aib itu bukan milik mereka yang tangannya kosong. Aib itu milik mereka yang hartanya melimpah, tapi tangannya tergembok kaku karena kikir.”

Baca Juga  Tambang, Gaya Hidup dan Kecukupan Ekonomi: Etikanya di Mana?

Cinta Allah dalam Sempitnya Rezeki

Mungkin hari ini meja makan kita hanya berisi menu sederhana. Namun, jangan pernah menyangka Allah sedang benci. Bisa jadi, itulah cara Allah mendekap kita. Allah tahu, jika hari ini Dia titipkan satu miliar di tangan kita, mungkin kaki ini akan lebih sering melangkah ke tempat maksiat daripada bersujud di sajadah.
Dalam surat Al-Isra, Allah menegaskan bahwa Dia melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai ilmu-Nya. Dia Maha Tahu dosis harta yang pas untuk setiap hamba-Nya agar tidak tersesat.