Oleh: Doni El Malik

Ada masa ketika langkah kaki ke ruang kelas terasa seperti menjejak di lantai yang dingin. Bukan lantainya yang salah, tapi sepatu kita yang tak lagi dianggap perlu menginjaknya.

Semua orang ada. Tapi sapa hanya sampai di bibir, tak turun ke dada. Papan tulis kupenuhi dengan warna, tapi yang memantul di wajah-wajah itu hanya bayang-bayang. Seperti bercerita pada cermin yang retak, kau lihat dirimu sendiri, bukan mereka.

Sempat kusimpan tanya di lipatan sajadah: “Apakah pelita ini memang tak lagi dibutuhkan, atau cahayanya yang tak lagi dicari?”

Aku tak menunggu jawab dari langit. Aku pilih menyalakan pelita itu untuk diriku sendiri. Kutulis, kurancang, kuajari. Bukan karena dilihat, tapi karena api kecil ini akan mati kalau tidak dijaga. Kubimbing dua anak yang matanya masih mau menampung cahaya. Kubawa mereka ke gelanggang.

Baca Juga  Di Antara Warna-warni Dunia Anak

Piala itu pulang tanpa arak-arakan. Hanya disambut tiga pasang tangan dan satu senyum tulus di lorong. Tapi justru karena sepi, bunyinya jadi bening. Seperti tetes air pertama yang jatuh ke tempayan kosong.