Panggilan Spiritual dalam Buku “Buk Geriul” Karya Rusmin Sopian

Oleh: Rapi, S.Pd

Buk Geriul. Judul Buku karya terbaru penggiat literasi sekaligus penulis senior di Bangka Selatan, Rusmin Sopian. Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang pernah diterbitkan di media-media lokal hingga nasional.

Judul Buk Geriul sendiri diambil dari salah satu cerpen dalam buku ini. Istilah tersebut menggambarkan seseorang yang tidak selaras antara ucapan dan tindakannya. Namun ketika membaca keseluruhan isi buku, pembaca akan menyadari bahwa makna “Buk Geriul” sesungguhnya meluas ke berbagai sisi kehidupan manusia. Ada kepura-puraan, ada pengkhianatan, ada harapan, dan ada manusia-manusia biasa yang berusaha mencari nilai-nilai kehidupan.

Sebagai karya sastra, buku yang diterbitkan oleh Galuh Patria ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan masyarakat kampung, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan hati nuraninya sendiri. Pembaca diajak memahami bahwa kerusakan moral sering kali bermula dari hilangnya kejujuran terhadap diri sendiri.

Baca Juga  Membangun Citra Bahari Melalui Aset Terumbu Karang di Pulau Kelapan

Cerpen-cerpen dalam buku ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat kecil memiliki persoalan yang kompleks. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan manusia-manusia yang menyimpan harapan, luka, kemarahan, dan impian.

Penulis berhasil menghadirkan mereka secara manusiawi. Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan nuansa religius yang cukup kuat. Hal ini terlihat dari beberapa judul cerpen yang mengankat tema spiritualitas seperti,  Mendadak ke Masjid, Lelaki Pencari Surga, Ambruknya Langgar Kampung Kami, serta Ada yang Menangis Sepanjang Malam di Ujung Ramadan.

Rusmin Sopian tidak menghadirkan agama sebagai khotbah panjang, melainkan melalui kegelisahan manusia, perilaku sosial, dan pergulatan batin tokoh-tokohnya.

Dalam cerpen “Lelaki Pencari Surga” misalnya, kisah dalam cepren ini menghadirkan renungan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Judulnya sendiri sudah menghadirkan pertanyaan besar. Apakah manusia benar-benar mencari surga karena cinta kepada Allah, atau hanya karena takut terhadap hukuman? Cerita ini memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual manusia sering kali penuh keraguan, luka, dan pencarian makna hidup.

Baca Juga  Ketua GPMB Kenalkan Teknik Wawancara di Sekolah Jurnalistik GP Ansor Basel