Derai-Derai Cemara Mengalun di Malam Mengenang Chairil Anwar
Derai-Derai Cemara Mengalun di Malam Mengenang Chairil Anwar
Oleh: Iyek Aghnia
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Suara Wakil Bupati Bangka Selatan Debby Vita Dewi membelah malam saat membacakan bait-bait puisi Derai-Derai Cemara karya Maestro Puisi Indonesia, Si Binatang Jalang Chairil Anwar di Kawasan Himpang lime Toboali Sabtu (25/4) malam.
Rembulan tersenyum bahagia. Cahaya indahnya menerangi kawasan Alun-alun Himpang Lime. Tepuk tangan bergema.
Sejumlah penyair Bangka Selatan yang diinisiasi Yoelchaidir menggelar acara baca puisi mengenang sastrawan nasional dengan tajuk Jejak Kata Chairil Anwar di Negeri Junjung Besaoh. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Honda dan Tob Creative.
Turut memeriahkan acara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Bangka Selatan Evi Sastra, Camat Tukak Sadai Feli Husaini, dan Toni Pratama dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta Pamong budaya Dwiki Dhaswara, Rusmin Sopian, Dedy Irawan (PWI Basel).
Sejumlah puisi karya Chairil Anwar dibacakan para penyair Bangka Selatan. Di antaranya Yul Haidir, Felli, Agus Bachtiar, Gito, Evi Sastra, Yurdania hingga Ali Achiri.
Chairil Anwar dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 dimana karya-karyanya membakar semangat perjuangan dan kebebasan.
Puisi Chairil Anwar tidak hanya mengekspresikan perasaan individualisme dan pemberontakan, tetapi juga menjadi saksi bisu dari perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Penyair dengan julukan Si Binatang Jalang ini menurut catatan telah menelurkan karya sebanyak 94 dan 70 karyanya berupa puisi.
Di kalangan dunia sastra nama Chairil Anwar mulai dikenal melalui puisinya yang berjudul Nisan yang dibuat pada tahun 1942, jadi waktu itu ia berusia 20 tahun.
