Jejak Sejarah Perjuangan Batin Tikal Kembali Hidup Lewat Panggung Teater Sanggar Buluh Perindu

Oleh: Putri Simba dan Kulul Sari

PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Sore itu awalnya tampak biasa. Langit terlihat mendung, angin berembus pelan seolah memberi pertanda bahwa hari akan berjalan tenang. Namun, menjelang pukul 16.00 Wib, tepat ketika acara hendak dimulai, suasana mendadak berubah.

Byur…!
Hujan turun deras memecah ketenangan sore. Air mengguyur jalanan tanpa ampun, suara rintiknya berpadu dengan langkah-langkah tergesa orang-orang yang berlarian kecil, melindungi kepala dengan payung seadanya, tas, bahkan selembar kain.

Namun, hujan rupanya tak mampu membendung semangat pementasan teater Sanggar Buluh Perindu di Auditorium Sofyan Tsauri, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Sabtu (16/5/2026).

Baca Juga  Kejamnya Dunia

Tampak para pelajar, mahasiswa, pegiat seni, budayawan, hingga masyarakat umum memenuhi lokasi dengan rasa penasaran yang sama: siapa sebenarnya Batin Tikal?
Nama itu membawa jejak masa lalu, tentang seorang pejuang dari tanah Bangka yang kisahnya perlahan kembali dibangkitkan melalui pementasan teater karya Rita Zahara bersama Sanggar Buluh Perindu.

Sebuah upaya seni yang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga usaha menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang seorang pejuangan.

Memasuki auditorium, suasana terasa berbeda. Kursi-kursi dipenuhi penonton yang masih sibuk berdiskusi kecil tentang sosok Batin Tikal. Ada yang penasaran, ada pula yang tak sabar menanti tabir sejarah dibuka di atas panggung.

Ketika pertunjukan dimulai, ruangan perlahan menjadi hening. Kisah demi kisah mulai dipentaskan. Perlawanan, perjuangan, pengorbanan, hingga semangat juang Batin Tikal dihidupkan kembali lewat dialog yang kuat, gerak tubuh para aktor, tata cahaya dramatis, serta penghayatan mendalam para pemain. Tepuk tangan penonton sekali-sekali pecah di tengah pertunjukan, yang menandakan mereka menikmati pertunjukan itu.

Baca Juga  Kala Lelah

Dan ketika pementasan usai, tepuk tangan Panjang pun kembali pecah menandai kekaguman penonton terhadap sajian teater yang sarat makna sejarah itu.