Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam

“Kalau masih miskin jangan punya anak”, begitulah bunyi komentar beberapa oknum netizen di media sosial. Biasanya komentar ini muncul ketika ada video anak kecil yang harus berjuang mencari pundi-pundi rupiah atau anak kecil yang terlantar sebab ditinggal orangtua bekerja. Bahkan yang lebih ekstrem, punya anak dalam kondisi miskin dianggap kejahatan, sebab dihitung menyakiti dan tidak mampu memenuhi hak anak. Komentar ini muncul sebagai reaksi geram dan prihatin, wajar. Namun, pemilihan diksi ini tidak lahir kebetulan, melainkan karena adanya pengaruh ideologi.

Penelitian lembaga riset SMERU Institute menunjukkan bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin setelah dewasa 87% penghasilannya lebih rendah dibanding mereka yang sejak anak-anak tidak tinggal di keluarga miskin. Dalam penelitian tahun 2019, tim peneliti menyimpulkan bagaimana anak miskin akan tetap miskin ketika dewasa setelah menguji tujuh faktor yang mungkin berpengaruh pada peningkatan penghasilan mereka dan menemukan bahwa kondisi anak-anak tersebut tidak berubah setelah 14 tahun. Lewat penelitian tahun 2015 bisa disimpulkan bahwa hal ini bisa terjadi karena anak-anak miskin dan anak-anak tidak miskin memiliki modal yang tidak seimbang dari keluarganya. Hal ini yang mengakibatkan mereka tidak berada pada garis awal yang sejajar dalam memperoleh kesempatan ekonomi. (Smeru.or.id)

Dengan demikian bahwa dalam kondisi hari ini yang menjadikan anak-anak dari keluarga miskin ketika dewasa tetap miskin adalah karena tidak adanya modal atau minimnya modal dari keluarga. Sayangnya, kondisi ini tidak diperbaiki oleh negara. Negara jikapun memberikan modal bukan dalam bentuk pemberian cuma-cuma melainkan berbentuk pinjaman yang berbunga (ribawi) dengan kerjasama pihak bank. Ini menjadikan orang miskin ketika ingin membangun usaha sudah dijerat dengan pinjaman riba yang akan semakin menyengsarakan kehidupan.  Mayoritas modal justru dikuasai oleh para kapital (pemilik modal) dan akhinya menciptakan monopoli kekayaan.

Baca Juga  Timah Bangka Belitung: Berkah atau Musibah?

Ideologi Kapitalis Menciptakan Lingkaran Setan Kemiskinan

Ideologi kapitalisme yang mengangungkan materi menciptakan lingkaran setan kemiskinan. Kemiskinan bersifat sistemik dan struktural. Sehingga wajar, sulit sekali keluar dari jerat kemiskinan. Negara yang menerapkan asas ekonomi kapitalisme menjadikan pemerintah sebagai pihak regulator saja yang membuat berbagai regulasi namun tidak benar-benar pernah menyentuh akar masalah. Sebut saja salah satu solusi mengatasi kemiskinan adalah dengan menggalakkan usaha rumahan. Ibu-ibu (utamanya) didorong membuat berbagai produk atau usaha untuk menambah pendapatan namun dari sisi modal cenderung kurang cukup diberikan untuk usaha atau diberikan berupa pinjaman kerjasama dengan pihak bank, jadi ini malah menambah beban utang.

Negara juga memiliki regulasi dengan memberi bantuan langsung, namun bantuan yang diberikan pemerintah amat minim yakni 300rb rupiah perbulan itupun tidak lancar kadang dirapel kadang tidak semua masyarakat miskin juga dapat. Tohpun jika dapat uang demikian sangat kurang. Artinya, dari pihak negara belum ada upaya hulu-hilir yang efektif memusnahkan kemiskinan. Rakyat miskin cenderung berjuang sendiri dan berusaha sendiri. Seringnya rakyat justru bantu rakyat, padahal penguasa adalah pengurus rakyat.

Sektor-sektor strategis justru dikuasai kapital rakyat kebanyakan jadi pekerja kasar atau buruh yang digaji sangat minim. Rakyatpun daripada tidak bekerja akhirnya memilih digaji ala kadarnya. Mereka tidak dapat menggerakkan ekonomi mereka sehingga hidup termiskinkan. Disisi lain mencari pekerjaan susah dan sudah dapat pun gaji rendah banyak dibawah UMR. Bahkan jika gajipun UMR masih belum terhitung sejahtera juga sebab kehidupan serba mahal. Harga sembako sebagai kebutuhan dasar  terus naik tidak seimbang dengan kenaikan gaji, biaya pendidikan dan kesehatan mahal padahal termasuk kebutuhan primer. Bisa dikatakan, ekosistem kehidupan kapitalistik yang serba uang membuat masyarakat semakin tercekik. Bagaimana lepas dari jeratan kemiskinan jika ekosistemnya membuat uang yang kita peroleh minim tapi mengharuskan kita mengeluarkan sebanyak mungkin? Sungguh ironis.

Baca Juga  HIV/AIDS di Bangka Selatan Melonjak karena Lelaki Suka Lelaki: Bagaimana Islam Menyikapi?

Lingkaran setan kemiskinan juga disebabkan adanya monopoli kekayaan oleh pemilik modal. Sumber Daya Alam (SDA) yang seharusnya dikelola negara demi kepentingan rakyat justru ambyar masuk kantong pribadi kapital. Berdasarkan pernyataan Mahfud Md (2023), jika SDA Indonesia dikelola dengan baik tanpa korupsi, setiap warga negara Indonesia berpotensi mendapatkan sekitar Rp20 juta per bulan. Contoh lain SDA Emas, para pakar mengatakan bahwa 1 juta ons emas diangkut setiap tahunnya dari Freeport. Jika dihitung-hitung mulai dari pertama kali freeport menancapkan bor di Papua hingga sekarang, emas yang yang diangkut itu senilai tak kurang dari Rp 357 triliun. Bayangkan jika emas itu benar-benar dikelola oleh negra sepenuhnya. Namun, faktanya baik emas maupun kekayaan alam, mayoritas dikuasai perusahaan asing atau swasta dan diangkut ke negara luar.

Jika SDA yang telah dianugerahkan Allah yang jumlahnya sangat fantastis itu dimonopoli oleh pihak-pihak pemilik modal saja maka dimana rakyat mendapat kesejahteraan?. Saat kepemilikan umum justru boleh dikuasai oleh segelintir orang. Inilah wajah ekonomi kapitalisme yang menganut asas kebebasan dalam kepemilikan. Siapa saja yang punya modal dan koneksi bisa mengelola kepemilikan umum seperti SDA. Rakyat miskin? Hanya akan jadi buruh kasar atau penambang ilegal yang bertaruh nyawa dan dapat sisa-sisanya saja. Ini membuat kekayaan hanya berputar digolongan konglomerat saja. Jadi harta itu ada, tapi tidak didistribusikan dengan baik sebab negara menganut asas ekonomi kapitalis.

Baca Juga  Gaza Terus Diblokade: Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam

Dengan demikian masalah kemiskinan bukan masalah individu malas bekerja, bukan karena tidak berpendidikan, tapi yah akses terhadap modal dan kekayaan itu dibatasi dan sulit sekali. Ibarat mau cari uang, cari kemana?. Semua dimonopoli para pemodal/kapital yang jauh lebih berkuasa. Negara tidak totalitas membantu rakyat keluar dari kemiskinan. Sistem kapitalisme hanya nyaman untuk orang super kaya saja. Sistem rusak ini melahirkan orang kaya semakin kaya orang miskin semakin miskin.

Anak dan Cacatnya Logika Kapitalis

Sistem kapitalisme yang berasaskan pemisahan agama dalam kehidupan menjadikan standar perbuatan adalah maslahat /manfaat. Kebahagiaan diukur dari diperolehnya materi/uang sebanyak-banyaknya. Sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang menjadi asas ideologi ini melahirkan sikap yang sesuai hawa nafsu, opini pribadi bebas dan liar dan tidak berpedoman pada aturan al-Khaliq. Dari sini lahirlah cacat berpikir, anak dianggap beban dihitung layaknya aset dan investasi.

Banyak anak dianggap akan banyak pengeluaran. Lahirlah pemikiran keliru bahwa bertambah anak akan bertambah sulit. Akhirnya banyak yang memilih childfree atau memilih tidak punya anak. Ini malah melahirkan masalah baru yang disebut depopulasi yang membuat banyak pihak kalang kabut. Sebab keberadaan manusia itu sangat penting untuk mendorong berjalannya kehidupan.  Depopulasi muncul akibat persepsi (mafahim) yang keliru tentang anak.