Oleh: Ummi Sulis

Realita kita ini negara berkembang dengan realita kembang telah berbiji, biji telah berkecambah, tunas-tunas muda siap menghujam tanah
Berkembang biak beranak pinak utang untuk menumbuhkan unsur bumi di dalamnya

Realita kita ini agraris maritim, impor merajalela menembus batas paradikma dengan paradoksnya
Tetes air harus antri dengan tetes minyak bahkan keringat

Realita yang bukan realita, antara petinggi dan rendahan dibatasi jurang
Makin menganga akibat tergerus longsor, bocor dan pemalakan
Banjir … air mata yang berubah jadi kolam darah.
Perut-perut terikat dengan batu, bukan karena malas, tetapi peluang tak sesuai dengan teori peluang yang diajarkan di sekolah

Baca Juga  Goresan Hati