Tersesat di Jalan yang Benar
Oleh: Ummi Sulis
Suatu saat terjeda
Mataku telah menjadi hampir buta
Hatiku tetiba menumbuhkan cabang baru; dua, tiga, entah berapa
Sebentar gelap, sebentar berpendar, dan sebentar tertangkap cahaya
Banyak paradigma
Aduh … rasanya warna warni dalam kepala sulit meraba
Entah sejak bila
Pancasila, Undang-Undang Dasar, semua norma, berubah menjadi hanya draft di kepala tiap kita
Bukan untuk penuntun benarnya tatanan baku sejak alat-alat itu diresmikan dalam sebuah negara
Tetapi hanya teori yang diajarkan di sekolah-sekolah berbanding terbalik dengan penerapannya
Mengandalkan mata dan telinga saja untuk memperjelas, sekarang makin takjelas, benang kusut di antara doa-doa
Konspirasi lebih berjaya
Ah, iya, masih ada norma agama, biarlah aku tersesat di sana
Untuk mengobati buta, tuli, bisu, serta lupa, agar tak lupa
Semoga banyak yang tersesat di jalan benar yang sama
Harapannya, kita, hanya kita yang dapat mengubah carut marut performa
