Oleh: Indra Pirmana

Waktu, begitu cepat
bagaikan matahari menerobos awan putih
saat memancarkan cahayanya.
Putih biru, menjadi saksi dan akan tersimpan rapi di memori.
Saat-saat bersama, penuh canda tawa di lorong kelas.
Terima kasih guruku …
Tanpamu, kami siapa?
kami paham,
amarahmu sebagai bukti, dedikasi, dan didikan penuh ketulusan
bukan sekadar ucapan.
Tetapi,
demi kami menggapai mimpi.
Terima kasih …
Teman-teman seirama,
teman-teman seperjuangan
Putih biru …
Bukan akhir segalanya,
perjalanan masih panjang
Ini baru langkah ketiga untuk menggapai mimpi.
Putih biru adalah jembatan putih abu.
Selamat tinggal putih biru!
Selamat tinggal putih biru!
Selamat tinggal putih biru!
Selamat tinggal putih biru!
Selamat tinggal putih biru!
Kenang ini, menjadi saksi bertemu pasti berpisah,
berpisah karena bertemu.

Baca Juga  Jika Pemimpin Tak Lagi "Mesra"