TIMELINES1.COM, BANGKA – Akhir-akhir ini viral beredar iga sapi atau disebut iga gondrong yang dipasarkan dengan harga murah secara online di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Hampir setiap hari postingan pedagang online menawarkan iga gondrong kemasan pak seberat 1kg dengan harga variatif mulai dari Rp. 35 ribu hingga Rp. 75 ribu per kilogram.

Munculnya iga sapi murah ini ternyata menjadi kecurigaan di kalangan masyarakat Bangka Belitung. Lantaran harga iga sapi yang dijual dipasar lokal Bangka Belitung masih berkisah Rp. 70-80 ribu per kilogram.

Berbagai macam komentar dan kecurigaan netizen untuk daging dan tulang yang merupakan bagian premium dari hewan ternak berjenis sapi ini.

“Secara logis gak masuk akal. Harga iga sapi dibawah harga ayam potong,” komentar netizen beramai ramai.

Para pedagang online yang memasarkan iga gondrong dengan sistem reseller ini terus menampik kalau produk yang mereka jual halal dan aman. Namun belum dapat dipastikan daerah pemasok iga gondrong hingga masuk dalam jumlah ton-an ke wilayah Bangka Belitung, khususnya Kabupaten Bangka.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Syarli Nopriansyah, S.STP, mengatakan dari hasil uji fisik sample yg dilakukan tim ahli, iga gondrong yang masuk ke Dispaper ini bukanlah bentuk Iga yang dipropagandakan penjual.

“Ini dipastikan sapi dan masih tercium bau sapi tiap tiap potongan tulang yang dilakukan uji fisik oleh tim ahli kami. Hanya saja, ini bukan tulang iga melainkan bagian tulang punggung/lumbo sacral atau pun bagian dari leher. Sehingga memang isi dalam kemasan ini mayoritas tukang dan lemak, dagingnya cuma 15% jadi ini bukan iga sapi,” jelas Syarli Nopriansyah usai melakukan tes fisik sample iga gondrong.

Menurutnya dalam tehnik marketing para pedagang produk ini disebut Iga agar konsumen tergiur dengan produk yang dijual dengan harga murah.

“Ini memang bagian dari sapi. Di bawah ke Indonesia dan diedarkan dan diberikan brand Iga. Tehnik marketing dan pengambilan foto produknya bisa menggiurkan pembeli,”jelas Syarli.

Namun untuk kandungan kelayakan produk yang gencar dipasarkan via sosial media ini memang terlebih dahulu harus dilakukan uji lab oleh agen pemasok barang. Menurut Syarli ada beberapa prosedur yang harus diikuti agen pemasok daging beku atau rekomendasi pemasukan pangan asal ternak atau bahan asal ternak di Kabupaten Bangka.