Cinta Sejati
“Ampun Bu, Ayana pulang,” ujarku kemudian lari di pesisir pantai mengindari amukan ibuku. Tak jarang, para teman-temanku menertawaiku saat aku dikejar oleh ibuku. Jika dulu aku tertawa mengingat kenangan itu, sekarang malah air mata yang menghiasi wajahku.
Aku bangkit dari dudukku. Kemudian melepas sandal dan berlari di pinggir pantai. Terasa bebas, dan bebanku sedikit terangkat.
***
“Ayana, Ibu kamu di mana, ya? Bapak dari tadi panggil-panggil, kok, enggak ada?” Pertanyaan itulah yang menyambut kedatangan Ayana yang baru pulang dari pantai. Ayana tak langsung menjawab, ia memejamkan matanya pelan kemudian membukanya kembali. Ia mendekati bapak nya yang duduk di kursi ruang tamu.
Ayana bersimpuh sambil memegangi kedua tangan bapaknya. Ayana menciumnya dengan khidmat. Tanpa sadar, tangan bapaknya basah karena air mata Ayana. Terdengar isak tangis Ayana. Bapak mengelus pelan kepala Ayana yang terbalut hijab pashmina biru.
“Kenapa nangis?” tanya bapaknya. Ayana tak menjawabnya, ia masih belum berhenti menangis. Namun, setelah beberapa saat akhirnya tangis Ayana reda.
“Pak, Ibu sudah kembali kepada Allah,” akhirnya, Ayana bisa menjawab pertanyaan bapaknya.
“Kembali?” tanya bapaknya dengan bingung.
Ayana meneteskan air matanya kembali, namun langsung dihapus dengan tangan kanannya. “Ibu sudah meninggal, Pak!”
“I-Ibu sudah me-meninggal ya?” tanya Bapak, tanpa sadar air mata membasahi pipinya. Bapak terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Ayana mendengar, di balik tawa bapak tersimpan begitu banyak jutaan luka.
“Bapak lupa kalau Ibu sudah meninggal,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Pak, kita ikhlaskan ibu, ya. Insya Allah, Surga adalah tempat ibu berada,” ujar Ayana sambil mengelus tangan bapak nya yang sudah keriput.
“Aamiin,” setelah mengucapkan itu, bapak pergi meninggalkan Ayana di ruang tamu sendiri. Bapak memasuki kamar, kemudian menutupnya. Ayana kemudian bangkit dari duduk nya, ia menuju kamar bapaknya. Terdengar suara tangisan yang pilu dari balik kamar. Ayana yang mendengarkan, hanya bisa ikut menangis. Hati Ayana bagikan tergores pisau tajam kala melihat bapaknya menangis karena kepergian cinta sejatinya, yaitu Ibu.
Ayana memilih pergi meninggalkan kamar bapaknya. Ia akan pergi mandi kemudian segera masak untuk makan malam.
Setelah beberapa jam kemudian, Ayana kembali ke kamar bapaknya. Namun tidak terdengar lagi suara tangisan bapaknya. “Mungkin lagi tidur,” pikir Ayana.
Ia segera membuka pintu kamar. Terlihat Bapaknya tiduran di atas sajadah dengan bingkai foto ibunya yang ia dekap dengan kedua tangannya. Mata bapaknya terpejam. Terlihat bekas air mata yang membasahi pipi seperti habis menangis.
“Pak, makan malam udah siap. Kita makan dulu yuk,” ajak Ayana. Namun bapaknya tak merespon.
Ayana kembali membangunkan bapaknya, tapi tetap tidak mendapatkan respon. Jantung Ayana berdebar kencang, Kedua matanya berkaca-kaca. Dengan tangan gemetar, Ayana mendekatkan tangan kanannya ke hidung bapaknya. Tidak ada embusan nafasnya. Dunia Ayana hancur untuk yang kedua kalinya. Apa ini Allah? Setelah kepergian ibunya yang baru empat hari, kini bapaknya ikut menyusulnya?
“Bapak! Jangan pergi tinggalkan Ayana, Pak!” teriak Ayana dengan air mata berlinang, Ia memeluk tubuh bapaknya erat. Ia menggerakkan tubuh bapaknya berharap bisa membangunkan bapaknya.
“Allah, aku harap ini hanya mimpi. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!” teriak Ayana dalam hatinya.
“Bapak!” teriak Ayana dengan keras sambil menangis.
“Ada apa Ayana? Bapak kamu kenapa?” tanya Bibinya sambil memasuki kamar.
“Bapak sudah kembali kepada cinta sejatinya, Bi,” jawab Ayana sambil memandangi wajah bapaknya dengan air mata membasahi pipinya.
*Selesai*
Khoiriah Apriza kini tinggal di Desa Tepus Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan.
Salah satu karya cerpennya telah dibukukan dalam antologi Cerpen Resah Jadi Lillah. Khoiriah baru saja melaunching buku kumpulan cerpen yang berjudul Ayah, Aku Rindu.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.