Setelah berhasil mengambil obatnya yang berada di dalam lemari, Jihan kembali duduk di atas kasur. Ia memasukan satu pil obat ke dalam mulutnya lalu meminum air putih yang ia pegang. Kemudian ia merebahkan diri di kasur. Air matanya kini sudah mengering, dan matanya merasakan kantuk yang berat akibat efek obat tidur yang terkandung di dalam obat pereda nyeri tadi.

“Huuh… akhirnya,” lirih Jihan pelan. Matanya kini mulai terpejam selaras dengan rasa sakit yang mulai mereda.

***

Jihan berusaha mati-matian menahan rasa sakit yang saat ini ia rasakan. Tangan kanannya tak berhenti meremas pinggang dan tangan kirinya ia gunakan untuk menyimpan gelang dengan liontin alphabet huruf ‘Y’ yang akan ia berikan pada ibunya mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ibunya.

Napasnya mulai tak beraturan. Karena tak ingin ada yang menyadari hal ini, Jihan buru-buru berlari keluar kelas menuju toilet. Ia berlari secepatnya, bahkan tanpa menghiraukan Irsyad, pacarnya yang terus memanggilnya.

“Akhh.. Sakit,” Jihan merintih pelan sambil kembali meremas pinggangnya sebelah kanan.          Sekarang ia tengah berada di toilet sekolah. Karena ini merupakan jam kosong, jadi ia mengambil kesempatan untuk keluar kelas agar ia bisa melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan tanpa perlu takut diketahui oleh siapapun. Jihan berpikir bahwa ia benar-benar sendirian di toilet itu.

Namun perkiraan Jihan salah. Ternyata di balik dinding besar yang berada di dalam toilet tersebut ada Clarissa yang sedang mengintipnya. Sengaja Clarissa melakukan itu karena merasa khawatir dengan kondisi Jihan. Saat di kelas ia memperhatikan gerak gerik Jihan seperti sedang kesakitan.

Ketika Jihan hendak keluar kelas ia memutuskan untuk mengikutinya. Dan benar saja, ia dibuat tambah khawatir dengan kondisi Jihan, apalagi saat ia mendengar Jihan merintih kesakitan beberapa kali.

Baca Juga  Kenali Gejala Listrik Statis, Mengapa Terjadi Petir dan Kilat?

Clarissa merasa kondisi Jihan sepertinya semakin buruk, karena rintihan yang keluar dari mulut Jihan semakin lama semakin berubah menjadi tangisan. “Jihan kamu kenapa?” tanya Clarissa yang tiba-tiba muncul di depan Jihan dengan kedua tangan memegang bahu Jihan.

“Kamu sakit apa Jihan? “tanya Clarissa lagi ketika melihat botol obat di tangan Jihan.

Jihan masih belum mengeluarkan suara, ia masih menundukkan kepalanya.

“Ini kenapa?” tanya Clarissa terkejut ketika melihat ada beberapa luka seperti bekas suntikan di tangan Jihan.

Jihan mengangkat kepalanya. “Bukan urusanmu,” ujar Jihan pada sahabatnya itu. Ia kemudian menepis kedua tangan Clarissa dari pundaknya dan hendak pergi dari tempat ia berdiri, namun dengan cepat Clarissa menahannya.

“Tapi Jihan..,” balas Clarissa dengan tatapan mata penuh keheranan.

“Sudah kubilang ini bukan urusanmu! Urus saja urusanmu sendiri!” sentak Jihan pada Clarissa lalu melenggang pergi dari hadapan sahabatnya.

Clarissa hanya bisa terdiam mematung melihat perlakuan Jihan padanya. Tapi ia tidak memiliki niat untuk membenci sahabatnya itu karena ia tahu Jihan seperti itu pasti punya alasan tersendiri.

Jihan berlari pelan menuju kelasnya dengan tangan yang tak pernah lepas dari pinggangnya, dan kedua kakinya terlihat semakin membengkak sehingga membuatnya sedikit kesulitan berjalan. Ia mengambil ponselnya lalu melihat tanggal yang tertera di layar ponsel. “Hari ini jadwal ku untuk cuci darah,” ucapnya pelan lalu memasukkan kembali benda pipih itu kedalam saku bajunya.

Sesampainya di kelas ia langsung menyambar tasnya lalu berjalan keluar.

Baca Juga  Pengertian dan Pemahaman Hubungan Daya & Energi Listrik

“Jihan, kamu mau kemana?” tanya Arya sang ketua kelas kala melihat Jihan yang hendak keluar kelas dengan menyandang tas di pundaknya.

“Aku ada urusan mendadak,” ucap Jihan dengan mata melotot di depan hidung Arya yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Jihan.

“Ada apa ini? Jihan kamu kenapa?” Tanya Irsyad yang baru saja kembali dari koperasi sambil menggenggam tangan Jihan. Tanpa menghiraukan pertanyaan Irsyad,  Jihan dan Arya terus saja berdebat hingga membuat Irsyad kebingungan.

“Tapi Jihan, kamu sudah beberapa kali bolos mata pelajaran,” ujar Arya bermaksud menasehati Jihan. “Walaupun ini sudah jam terakhir, tapi akan tetap berpengaruh pada nilaimu di raport Jihan,” lanjutnya.

“Tolong beri aku satu kesempatan lagi sebelum aku benar-benar tidak bisa datang lagi.” Jihan berujar dengan napas yang tersengal-sengal.

“Ma-maksudnya?” tanya Arya karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jihan.

“Kamu bicara apa, Jihan?” Irsyad menimpali sambil tangan kanannya menghentak-hentakkan tangan Jihan. Ia terus dibuat kebingungan dengan keadaan ini apalagi saat mendengar ucapan Jihan.

“Kumohon,” pinta Jihan.

Arya mengusap wajahnya gusar. “Haah… Baiklah,” ucapnya pasrah.

Setelah mendengar jawaban dari Arya, Jihan segera melepaskan genggaman tangan Irsyad padanya. “Aku harus pergi,” Ucapnya perlahan lalu melenggang pergi dari hadapan mereka.

Jihan terus melangkahkan kakinya menuju halte depan sekolah. Ia tidak mempedulikan bahwa sekarang belum waktunya pulang sekolah. Bahkan ia tidak merasa khawatir jika besok ia akan berhadapan dengan wali kelas atau guru BK yang akan mempertanyakan mengapa dan kemana lagi ia bolos hari ini. Setibanya di halte, Ia menunggu sebentar sembari menyempatkan diri untuk minum obat pereda nyeri.

Baca Juga  Perempuan yang Dirindukan Surga

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, Jihan melambaikan tangannya ketika melihat angkutan umum berjalan ke arahnya. Segera ia memasuki angkutan umum tersebut.

Saat sampai pada tempat tujuan Jihan langsung turun dan membayar ongkosnya. Dirinya kini tengah berdiri di seberang rumah sakit Bagaskara, menunggu-nunggu agar jalanan sepi dan ia akan menyeberang menuju rumah sakit itu.

“Ah sudah sepi,” ucapnya ketika ia melihat jalanan yang sudah sepi dari kendaraan yang melintas. Sejenak ia melirik ke arah gelang yang sedari tadi tidak ia lepas dari tangannya dan tersenyum tipis sambil terlintas dalam pikirannya momen yang akan terjadi di balik gelang tersebut. Lalu segera ia melangkahkan kaki menyeberang jalan. Tiba-tiba, ada sebuah mobil Avanza hitam yang menuju ke arahnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

Semua terjadi begitu cepat. Beberapa orang yang sempat menyaksikan kecelakaan tersebut langsung memberikan pertolongan. Jihan yang terkapar di aspal dan dalam keadaan antara sadar dan tidak, segera dilarikan ke rumah sakit yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat kejadian. Petugas medis pun sigap memberikan pertolongan dan membawakan bed dorong medis untuknya.

Detak jantung Jihan mulai melemah. Matanya pun berkunang-kunang. Ia tidak dapat mengingat apa yang sedang terjadi pada dirinya. Berbagai gambaran peristiwa datang silih berganti di kepalanya. Mulai dari cita-cita mulia untuk membanggakan ibunya, ayah dan ibunya yang kembali bersatu, dan gambaran-gambaran  lainnya. Matanya semakin sayu dan sayu. Hal terakhir yang Jihan ingat sesaat sebelum matanya tertutup adalah ia sedang berada di ruangan bercat putih dan beberapa orang asing berpakaian putih yang mengelilinginya.

(BERSAMBUNG)