Karya Azza Auliya. Q, Siswa Kelas 7 SMPN 2 Toboali

“Kenapa?” tanya Jihan dengan suara kelu. Jihan dibangunkan di tengah malam oleh orang tuanya hanya untuk mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya memutuskan akan berpisah.

Ia pikir ia akan mendapatkan kejutan dari mereka karena memang hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu sejak tujuh belas tahun lamanya. Ya, ini adalah ulang tahunnya yang ke tujuh belas.

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu sudah tidak tahan dengan sikap ayahmu yang semena-mena terhadap Ibu Nak,” ujar wanita paruh baya yang merupakan ibu Jihan.

“Kenapa menyalahkan aku? Ini semua karena kamu. Tidak pernah becus dalam mengurus rumah dan satu orang anak!” bentak ayah Jihan pada ibunya.

“Jaga omonganmu! Kau tidak pernah tahu rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga! Kau pikir mudah, hah?!” balas ibu Jihan setengah berteriak di hadapan suaminya.

“Dasar kurang ajar,” sahut Ridwan sembari mengangkat satu tangannya, bersiap menampar sang istri.

“Cukup..!” teriak Jihan seraya memegang tangan Ridwan yang hendak mendarat di pipi Yuni, ibunya.

“Kalian tahu? Perbuatan kalian berdua ini akan merugikan anak kalian,” ujar Jihan. Setelah itu ia pergi meninggalkan keduanya.

Kejadian malam itu membuat Jihan mengurung diri di dalam kamar. Lima hari lamanya. Ia tidak pergi sekolah, tidak makan, bahkan dirinya tidak menyentuh ponselnya sekalipun.

Karena kejadian itu juga ia kehilangan sosok ibu yang dulu. Sosok ibu yang selalu memperhatikannya, yang selalu menjadi tempat ia bertukar cerita, dan yang selalu memberikannya kehangatan.

Baca Juga  Jiwa Mereka yang Tersesat

***

Hampir sepuluh bulan berlalu. Jihan pun sudah kembali bersekolah seperti biasa. Namun yang tidak biasa adalah perubahan sikap dan perilaku Jihan yang sangat drastis pada dirinya. Sosok Jihan yang dulunya rajin, baik hati dan ceria, kini berubah menjadi sosok yang dingin dan keras kepala. Perubahan tersebut tentunya membuat teman-teman Jihan merasa sedih sekaligus bingung. Terlebih Clarissa, sahabatnya dan Irsyad, kekasihnya.

Sedangkan Jihan sendiri, ia menyadari perubahan tersebut tapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan setelah perceraian orang tuanya, kehidupannya menjadi tidak teratur. Benar-benar tidak teratur. Tindakannya itu mengakibatkan penyakit yang seharusnya tidak ada pada tubuhnya. Dan Jihan pun malah mengabaikan itu dan beranggapan bahwa itu hanyalah sakit biasa.

Hingga sampai pada suatu saat Jihan menyadari bahwa rasa sakit itu mulai sering timbul dan semakin terasa. Ia akhirnya memutuskan untuk memeriksa kesehatannya ke rumah sakit. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa dirinya mengidap penyakit yang cukup serius.

Sejak saat itu, pendirian Jihan yang selalu tak acuh dengan penyakitnya mulai berubah. Ia mulai mau mengikuti saran dokter untuk melakukan pengobatan rutin, mengingat sakitnya yang tidak biasa dan tidak bisa dianggap remeh tersebut.

***

Malam begitu dingin. Hujan yang cukup lebat masih enggan berhenti. Jihan berjalan pelan ke arah ibunya yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Ia menghampiri ibunya dengan satu tangan yang memegang amplop berwarna putih.

“Ibu,” panggil Jihan seraya meletakkan amplop putih tersebut di atas meja kerja ibunya.

Baca Juga  Madame Belleza

Ibunya menoleh, menatap putri tunggalnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Lalu ia melirik amplop itu, mengambilnya dan membukanya.

Di lembar itu tertampang jelas bahwa itu adalah surat panggilan orang tua. Sang wali kelas memberikan itu pada Jihan karena dua minggu terakhir ia sering bolos di beberapa mata pelajaran. Hal tersebut bukan karena keinginan Jihan, melainkan karena ia harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan perawatan untuk penyakitnya.

“Apa ini, hah? Kamu ini bisanya hanya memalukan nama baik keluarga!” sergah Yuni pada Jihan yang tengah menundukkan kepalanya.

“Aku tidak bisa datang, cari saja orang bayaran untuk datang ke sekolahmu,” lanjut ibu Jihan seraya mengeluarkan beberapa kertas uang berwarna merah.

“Tapi, Bu…,” ujar Jihan terhenti dengan suara bergetar.

“Apa lagi? Apa uangnya masih kurang?” tanya ibunya.

“Aku tidak butuh uang itu Ibu,” ujar Jihan pelan tapi masih bisa didengar oleh ibunya. Sepertinya sebentar lagi ia akan menangis.

“Sudah kubilang aku tidak bisa datang, apa kau tidak punya telinga, hah?! ” bentak ibunya yang mengerti dengan apa yang Jihan katakan. “Aku lebih tidak butuh anak seperti mu!” lanjutnya dan berhasil membuat hati Jihan terasa seperti sedang ditusuk oleh seribu jarum. Dan pada saat itu juga terdengar sambaran petir yang menggelegar dan membuat kedua anak-beranak itu terkejut.

“Baiklah, Bu…,” ucap Jihan pelan lalu menghilang dari hadapan ibunya.

Setelah Jihan pergi ke kamarnya, Yuni berpikir sejenak. “Apakah aku keterlaluan?” Yuni membatin.        “Ah, tidak pedulilah,” ucapnya lalu kembali pada kesibukannya ke laptop dan berkas-berkas kantor yang sengaja ia bawa pulang. Seperti biasa, ibu selalu menghabiskan waktu untuk kerja, kerja dan kerja, baik di kantor ataupun di rumah.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

Memang, sejak bercerai dengan ayah Jihan, dirinya sangat fokus terhadap pekerjaan, sehingga karirnya pun melesat dan penghasilannya bertambah. Akibatnya, waktunya untuk memperhatikan Jihan menjadi berkurang.

Bahkan untuk menanyakan perkembangan sekolah Jihan pun sangat jarang ia lakukan, tidak seperti dulu, dimana ia dan Jihan sangat dekat dan selalu ingin tahu apa saja aktivitas Jihan sepanjang hari.

Kini Jihan sedang berada di kamarnya. Badannya bergetar. Ia merasakan sakit di bagian pinggangnya dan terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia juga merasakan pusing yang begitu hebat di kepalanya. Air mata mengalir.

Tapi bukan air mata sakit hati atas perkataan ibunya, air mata itu sudah berubah menjadi air mata kesakitan pada tubuhnya yang kian semakin menjadi-jadi.

Suara hujan yang begitu lebat membuat tangisan dan rintihan Jihan tidak dapat didengar oleh siapapun. Jihan masih meringkukkan tubuhnya di atas kasur. Tangan kanannya ia gunakan untuk meremas pinggang sebelah kanannya yang menjadi asal rasa sakitnya.

Kini nafasnya mulai tersengal-sengal. Ia merubah posisinya menjadi telentang, lalu mulai menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Setelah dirasa nafasnya mulai stabil, dengan bersusah payah ia bangkit dari tidurnya dan berjalan sempoyongan dengan kaki yang bergetar menuju lemari pakaian yang terletak tak jauh dari kasurnya.