Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Seorang nenek tua bertubuh kurus ringkih berjalan pelan ke sofa beludru merah di ujung ruangan. Dia memakai kerudung berwarna merah yang jatuh tempat di dadanya. Aku menatapnya tersenyum padaku sambil menunjukkan sebuah buku tebal berwarna merah yang sebelumnya ia sembunyikan di punggungnya.

Nenek itu duduk perlahan di sofa favoritnya yang berada tepat di hadapanku. Aku mengikutinya duduk di atas karpet berwarna kuning. Sebelah kiriku ada sebuah perapian kecil dengan potret seorang wanita muda dipajang di atasnya. Ada dua buah lilin merah diletakkan di kedua sisi potret tersebut. Sebelah kananku ada sebuah meja bundar kayu dengan sepiring kue kering dan secangkir susu yang sengaja nenek itu buatkan untukku.

Hari ini, saat ini, di tempat ini, dan sesuai janji sang Nenek, aku akan disuguhkan kisah menarik yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Seluruh dinding dan lantai rumah terbuat dari kayu, bahkan jam dindingnya terbuat dari kayu. Entah mengapa di rumah ini jam selalu berhenti di pukul 06.66. Mungkin nenek itu lupa kalau jam tua miliknya sudah rusak. Aku menatap wajah nenek dengan kegugupan mendalam di benakku, nampaknya sang Nenek dapat merasakannya lewat kulitnya. Tepat sebelum dia berbicara, aku mengalihkan pandanganku ke karpet jerami yang kududuki.

Baca Juga  Kepala Sekolahku (bagian 2)

“Baiklah, sesuai janjiku, aku punya sebuah kisah untukmu. Kuharap setelah mendengarkannya, kau bisa mengenal hal-hal yang tidak pernah kau ketahui selama ini. Kapanpun jam menunjukkan pukul 06.66, maka aku selesai bercerita. Jangan berteriak sebelum aku selesai bercerita. Mengerti permainannya, Nak?” Aku mengangguk dan dia segera membuka buku dan membacakannya.

*****

Elaine berlari menuju sebuah pondok besar yang berada di ujung pandangannya. Elaine harus melewati hamparan rumput dan ilalang. Rasanya seperti sensasi kesemutan yang mengikutinya setiap tapakkan kakinya. Dia tidak tahu mengapa dia merasa harus bersembunyi dan menetap di pondok tersebut, tapi yang dia tahu dia akan aman berada di sana.

Saat dia sampai di pondok tersebut, dia memperhatikan hal-hal janggal di sana. Pondok itu sepenuhnya terbuat dari papan kayu yang dibangun dengan rapi menjadi sebuah pondok yang berukuran besar ini, namun di dalamnya terdapat perabotan lengkap seperti rumah pada umumnya, hanya saja perabotan-perabotan tersebut tidak berada di tempatnya.

Baca Juga  Dicegat Tuyul

Itu berantakan, kotor, dan dipenuhi sarang laba-laba. Rasanya sangat mustahil ada yang tinggal di sana, mungkin sudah tidak ditinggali selama bertahun-tahun. Aneh sekali pemilik sebelumnya tidak membawa barang-barang berharga di sini, barang-barang itu masih bagus dan bisa digunakan walaupun sangat kotor dan terbiarkan.

Elaine menyebutnya pondok karena tempat itu tidak memiliki ruangan, hanya satu persegi yang berisi banyak barang. Jika itu rumah, harusnya ada banyak ruangan, seperti kamar, kamar mandi, dapur, dan lainnya.

Elaine memutuskan untuk menelusuri pondok itu lebih jauh. Dia memeriksa barang-barang yang menurutnya agak mencurigakan. Salah satunya adalah sebuah buku sketsa. Ada sebuah sketsa dengan gambar seorang pria dengan sayap dan tanduk berwarna hitam, matanya berwarna ungu gelap dan tatapannya seolah menyihirnya.

Dia begitu misterius dan membuat bulu kuduknya berdiri. Dia duduk bersila di atas rumput dan tampak berada di padang rumput yang sempat Elaine lewati tadi. Saat diperhatikan lebih dekat, nampak kukunya yang panjang. Dia sepertinya adalah sketsa iblis, namun dia harus mengakui bahwa iblis itu memiliki perawakan yang tampan dan gagah. Dia seperti terlalu bagus untuk menjadi iblis.

Baca Juga  Serial Keluarga Ummi: Negara Kita, Negara Maju

Saat sedang memandangi sketsa tersebut, tiba-tiba lantai bawah pondok tersebut bergetar. Seperti sesuatu sedang mengguncangnya. Elaine sempat panik, tapi guncangan tersebut tidak berlangsung lama. Saat guncangan itu berhenti, Elaine melihat sesuatu yang janggal di sofa yang ada di belakangnya. Pada bagian bawah sofa itu, muncul kabut asap gelap. Sesuatu mendorong Elaine mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi Elaine mendorong sofa itu dan menemukan sebuah pintu ruang bawah tanah yang sama sekali tidak terduga.

Pintu itu terbuat dari kayu dan terdapat semacam kode rahasia yang berbentuk 5 simbol elemen kehidupan. Elemen terdiri atas Api, Air, Angin, Tanah, dan Kegelapan. Tiba-tiba terbesit dalam pikirannya untuk melihat buku itu lagi. Dia membuka buku itu dan memeriksa setiap halamannya. Sampai dia menemukan semacam simbol yang sama persis. Ada catatan yang nampaknya harus dipecahkan oleh Elaine.

Catatan itu bertuliskan, “Yang hidup akan menapak bumi, yang mati dihembuskan ke dalam kegelapan. Setiap yang hidup dapat terbakar dan dapat mengalir.”