Benang Merah
Catatan itu berhubungan dengan urutan simbol elemen yang harus diputar. Setelah berpikir cukup lama dan mencoba beberapa kali, akhirnya Elaine berhasil membuka pintu ruang bawah tanah itu. Ukuran masuknya sangat kecil hanya lebih lebar sedikit dari Elaine. Elaine bertubuh kecil dan kurus, jadi dia cukup mudah masuk dan menuruni tangga penghubung ruang bawah tanah. Saat dia turun, yang pertama dia lihat adalah sebuah ruangan seperti sebuah kamar dengan nuansa klasik.
Dia tidak menyadari sebelumnya sampai tiba-tiba dia menyentuh sebuah bulu halus yang terasa seperti bulu burung. Saat dia berbalik, dia melihat seorang pria bersayap dan tanduk hitam, persis seperti yang ada di dalam sketsa.
Dia sedang tertidur di sebuah kursi kayu dengan sayapnya yang menjuntai ke bawah. Sayapnya sangat besar, tingginya hampir dua meter. Tak lupa otot perutnya terlihat di kemejanya yang terbuka di bagian perut. Bulu matanya yang lentik terpampang jelas pada matanya yang terpejam, kulitnya putih pucat, rambutnya hitam legam lurus dan kukunya panjang kemerahan.
Elaine terkagum sejenak sampai dia sadar bahwa bisa saja dia dalam bahaya dan dia harus pergi dari tempat ini secepat mungkin. Tapi secara tidak sengaja dia menginjak pecahan kaca yang dia tidak tahu ada di sana. Suara pecahan itu cukup nyaring sehingga membangunkan makhluk tersebut. Dia membuka mataya dengan cepat dan perlahan memiringkan kepalanya ke arah Elaine. Dia melihat mata ungunya yang gelap menatapnya seolah ingin memakannya. Makhluk tersebut berdiri dan semakin jelas betapa tingginya dia.
Makhluk itu berjalan perlahan ke arah Elaine. Elaine tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, dia sama sekali tidak bisa bergerak. Dia merasa seolah ada yang menahan tubuhnya untuk bergerak dan mulutnya seperti disumpal sesuatu sehingga dia tidak bisa bicara. Semakin dekat makhluk itu, semakin sesak dadanya.
Sampai saat di mana makhluk itu sampai di depan wajah Elaine. Dia bisa melihat dengan sangat dekat iblis ini, dia sangat tampan dan wajahnya mulus tanpa cela. Dia mungkin akan mengaguminya jika saja dia benar-benar manusia.
Tiba-tiba dia merasakan kendali pada mulutnya dan dia mengeluarkan teriakan sekuat tenaga yang mungkin terdengar seperti lolongan binatang buas.
“ARGHHH!!!!!”
*****
Sedetik setelah sang Nenek menirukan teriakan Elaine, aku ikut berteriak ketakutan. Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku dan air mata langsung membasahi tanganku. Kudengar sang Nenek cekikikan puas. Kuperhatikan jam lewat celah di jari-jariku dan untungnya sudah mencapai pukul 06.66. Namun, aku masih belum berani melihat hal lain.
“Baiklah, hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa esok hari,” kata sang Nenek masih cekikikan.
Aku mendengar langkah kaki pergi dari sang Nenek. Setelah suara itu menghilang, barulah aku membuka tanganku. Aku memeluk kakiku sambil meratapi bagaimana aku bisa berakhir di sini. Itu malam Halloween, aku hanya menginginkan permen. Aku dan teman-temanku berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk berburu permen.
Entah bagaimana caranya aku sampai di sebuah hutan dan menemukan rumah ini. Aku mengetuk pintu dengan keranjang yang dipenuhi dengan permen, dan aku masih mengharapkan permen-permen lain. Sang nenek keluar dan menjanjikan lebih banyak permen dan mainan di dalam rumahnya. Betapa bodohnya aku saat itu, kuharap aku tidak pernah menginginkan permen dan mainan.
Aku menangis tersedu-sedu memikirkan ayah dan ibuku yang mungkin mengira aku sudah mati.
Sekali masuk, kau tidak akan bisa keluar.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.