Karya Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Kami sampai di rumah sakit, dan kami harus menunggu beberapa menit sampai kami akan diberi kabar oleh dokter sendiri. Air mataku terus mengalir, tapi bibirku terkatup diam. Ibu sudah cukup tenang untuk menenangkanku. Dia membelai kepalaku dan mencium kepalaku.

“Bu, Ayah kenapa?” tanyaku sesengukan.

“Ayah baik-baik saja, sayang. Dia akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula, Ibu janji.”

Tapi janji itu hanya janji. Tidak ada yang baik-baik saja. Semuanya salah dan menakutkan. Aku akhirnya mengetahui bahwa Ayah memiliki kanker di paru-parunya dan sudah mencapai stadium 4. Dia harus rutin terapi dan dirawat inap di rumah sakit sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Aku dan Ibu setia merawat dan menunggunya, mencari secercah harapan yang tersisa di setiap kemungkinan buruk. Tapi harapan itu sedikit demi sedikit menghilang seiring berjalannya waktu.

Baca Juga  Puisi untuk Ibu

Aku melihat sendiri bagaimana Ayah harus kehilangan rambutnya akibat terapi rutinnya. Dia semakin kurus dan ada banyak alat terpasang di tubuhnya yang membuatnya semakin lemah. Semakin sulit untuk berjalan, berujung berakhir dengan kursi roda. Namun setiap dia melihatku, dia selalu tersenyum dan membelaiku seolah memberiku kenyamanan. Hanya saja tindakan itu membuat hatiku jauh lebih terluka.

Ibu dan para dokter sudah kehilangan harapan mereka, tapi tidak menunjukkannya. Mereka tahu Ayah akan pergi tidak lama lagi, tapi mereka tidak memperlihatkan keputusasaan mereka. Sementara, aku menolak percaya Ayah akan pergi meninggalkanku. Setiap hari aku berdoa untuk kesembuhannya. Tinggal di sampingnya adalah satu-satunya hal yang ingin kulakukan, tidak ingin kehilangan sedetikpun momen antara aku dan Ayah.

Baca Juga  Membaca Kota Menerjemahkan Musim

Malam itu, dia mencium tanganku dan tersenyum lembut sama seperti saat dia masih sehat dan lebih bahagia. Sementara aku membaringkan kepalaku di bagian tempat tidurnya yang kosong, dengan posisi duduk yang jelas-jelas tidak nyaman tapi akan kunikmati selagi aku bersama Ayah. Dia membawa tanganku dalam tidurnya, menempatkannya di atas dadanya. Kami tertidur bersama.