Keesokan harinya, aku bangun dan melihat Ayah masih tidur dengan posisi sama. Tanganku masih digenggamnya dengan erat. Tapi tangan Ayah terasa dingin, begitu juga dengan bagian tubuh lainnya. Aku mulai menyadari monitor jantung yang tidak merekam detak apapun, hanya garis lurus simetris. Aku ketakutan dan berteriak memanggil Ibuku sekuat tenaga. Meronta-ronta saat Ibu menarikku pergi dari Ayah agar tim medis dapat mengurusnya.

Mereka memakai Deflibilator yang membuat Ayah tersentak beberapa kali, namun tidak ada perubahan sama sekali. Pada akhirnya, dokter menggelengkan kepala dengan kesedihan dan putus asa, lalu menutup selimut sampai menutup wajah Ayah. Aku sadar Ayah sudah pergi. Tapi kenyataan ini membuatku marah dan kecewa. Aku berakhir dengan berteriak dengan liar dan menyerang Ibuku, menangis seperti binatang yang terluka.

Baca Juga  Si Kecit dan Pelangi Timah

Kehilangan Ayah membuatku sadar bahwa tidak mudah menjadi bintang. Kau mungkin akan dikenang dan akan terus dikagumi, tapi kau akan menyakiti orang-orang yang kau cintai. Itu berkali-kali lebih menyakitkan, dan aku kecewa aku baru menyadarinya saat semua sudah terlambat. Kau tidak diizinkan untuk menjadi lebih baik lagi karena kau sudah terlalu baik.

Aku banyak menyesal sekarang, andai saja aku menyadari penyakit Ayah dari awal, aku akan lebih memperhatikannya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Tapi satu hal yang membuatku tetap kuat sampai sekarang. Dia memberiku sebuah pesan agar aku tetap tegar dengan apapun yang terjadi.

“Jika Ayah pergi, jangan sedih ya. Ingat saja bahwa kita sering menghabiskan waktu bersama dan kita sama-sama beruntung memiliki satu sama lain. Bersyukur karena kita dipertemukan, sayang. Aku bersyukur menjadi Ayahmu.”

Baca Juga  Aik Nyet

Begitupun aku, sangat besar rasa syukurku menjadi anakmu. Awalnya aku tidak memahaminya, tapi sekarang aku menyadari betapa berartinya kata-kata itu. Ayahku bukanlah Bintang Sirius. Karena dia bintang yang paling bersinar terang di hidupku dan tidak akan pernah redup.

TAMAT