Karya: Sudi Setiawan

BUMI Serumpun berkemulut marah. Bagaimana tidak, negeri yang damai seketika menjadi medan perang yang mengerikan. Perebutan kekuasaan, perang saudara, pengkhianatan dan keberadaan timah di pulau ini yang menjadi titik awal semuanya bermula.

Sumber dari segala sumber yang membuka gerbang neraka di pulau Bangka. Seperti dahulu kala, ketika Portugis menemukan pala di Banda. Timah juga menjadi titik awal pendudukan bangsa asing di negeri ini.

Kepulan-kepulan asap hitam yang dimuntahkan kapal uap bernama “Onrust” itu seperti sedang tertawa membawa kami yang ada di dalamnya. Aku berimpitan dengan manusia-manusia yang kehilangan arah. Aku sendiri tidak tahu, entah dan bagaimana nasibku selanjutnya.

Apakah aku akan menjadi budak-budak? Orang rantai? Atau bahkan hanya menjadi orang-orang buangan dari tanah kelahirannya. Mata terasa perih ketika aku kembali mengingat masa-masa bergerilya. Berjuang mengangkat tombak-tombak pembebasan.

Kali ini aku tidak akan mendengar Bujang Singkip yang bercerita seperti malam-malam pelarian, melainkan kali ini akulah yang akan bercerita tentang sebuah kisah kami.  Hingga malam-malam panjang ini ku temani kalian dengan cerita malam yang mendebarkan.

*

Legenda menceritakan; bahwa orang-orang dari Kampong[1] Penyampar ini adalah keturunan raja Jawa dan rakyatnya  yang dulunya dikutuk menjadi burung putih. Mereka lalu pergi meninggalkan pulau subur itu menuju ke sisi utara pulau-hingga ketika tuah sumpahnya hilang, mereka kembali lagi menjadi manusia sebagaimana mulanya.

Kisah tentang “Dara Petak” itu sangatlah tidak masuk akal untukku. Ya, kalau pun mereka dikutuk menjadi seekor burung putih, kenapa dia harus jatuh ke negeri kecil ini? Negeri yang sama sekali berbeda dengan Bumi Jawa.

Baca Juga  Pesan Diterima

Aku hanya meringis kecil ketika bualan-bualan itu keluar dari mulutnya, si Bujang Singkip; sang pencerita. Kalau pun itu benar. Siapa yang akan mempercayai legenda seperti itu? Pikirku.

“Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu,” Bujang Singkip mengerutkan dahi, matanya meruncing menatapku, meminta penjelasan seringaian ku.

“Apakah itu benar? Itu hanya seperti cerita yang dibuat-buat saja,” jawabku sembari memutar bola mata, mencoba berpikir secara manusia ketimbang cerita-cerita seperti itu.

“Awang! Bagaimana kamu berpikir bahwa aku berbohong tentang legenda itu!” Bujang Singkip berdiri dari kursi kayu yang dirakit dari batang rotan asal Gunung Maras Kecil. Wajah terlihat sangat masam seperti buah kelubi yang baru diambil dari batangnya.

Bagaimana aku bisa berpikir demikian padahal kita berdua sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak mandi dan hidup berlarian.

“Ya sudah. Anggap saja aku percaya. Waktunya kita turun ke desa,” pintaku padanya yang sudah mengepal tangannya erat-erat. Daripada kami berdebat soal legenda “Dara Petak” itu, lebih baik kami berdua turun dari pondok di tengah hutan ini.

Di sinilah kami merasa aman dari kejaran pemerintah Belanda yang haus akan keserakahan.  Setidaknya, tuan Batin[2] Kampong Penyampar ini sudah sudi menerima kami dengan senang hati.

Sudah sebulan lamanya aku disini. Aku masih ingat hari itu, hari pertama kali aku datang disambut dengan ramah khalayak orang-orang di Mendara. Suasana kampung di bawah kaki Bukit Maras Kecil ini begitu tenteram, sedikit berkabut dan ramahnya orang-orang yang meyakini mereka adalah dari keturunan dari tanah Jawa. Hampir saja aku meyakini bahwa legenda itu benar nyatanya.

Petang ini-sebelum ba’da isya-kami berdua harus menemui salah satu penguasa di selatan Pulau Bangka. Kami mengenal sebagai sosok yang tegas dan yang pasti dia tidak tunduk kepada pemerintah Belanda.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

Rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin yang dipadukan dengan kayu nyatoh terpahat mengesankan, atapnya dari daun rumbia yang dipasang rapi sejajar dengan sepasang payung pengantin di kanan kiri tiang rumah ketika hendak masuk ke rumah sang Batin.

Benar, aku dan Bujang Singkip akan membahas hal penting bersamanya, beliau berpesan untuk datang lebih awal agar bisa lebih cepat membahasnya. Kupikir, tuan Batin memanggil kami untuk musyawarah atau sekadar memasang pos pantau untuk melihat gerak-gerik musuh seperti biasanya. Ternyata dugaanku salah.

“Batin! Percaya kepada kami. Itu hanya tipu muslihat pihak musuh,” Bujang Singkip dengan lantang menolak secarik kertas berisi undangan dari seorang Tumenggung[3] dari Kute[4]Mentok yang masih dekat dengan pihak musuh. Lembaran kertas yang ditulis itu seakan hanya sebuah kiasan-kiasan tak seperti yang ada di pikirannya, kami berdua paham betul soal ini,” kata Bujang Singkip.

“Singkip, undangan ini ditulis dengan makna dan kesan yang amat tersirat. Lantas mengapa? Apakah aku hanya berdiam diri ketika ada maksud dibaliknya,” ungkap tuan Batin Tikal, meletakan kedua tangan di atas paha dengan wajah tegas yang mengatakan dia tak setuju dengan ucapan Bujang Singkip.

“Tuan Batin Tikal, percaya kepada kami. Ini hanyalah jebakan!” ungkapku. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi tegang. Bagaimana tidak, bahkan dulu kami hampir terjebak ketika Letnan Campbell beserta pasukannya menyergap kami yang hendak bertemu dengan Tumenggung yang saat itu menjabat sebagai Hoofd Jaksa[5] dari Kute Mentok di Pangkalpinang.

Baca Juga  Kau Ingin Abadi

Padahal, kami diundang secara pribadi oleh seorang Tumenggung kepercayaan sultan Palembang. Nyatanya, mereka berpihak pada penjajah negerinya sendiri.

“Tuan, apakah tuan lupa dengan cita-cita tuan Depati[6] Amir? Hoofd Jaksa itu hanyalah komplotan dengan para penguasa”. Bujang Singkip dan aku tahu rasanya melihat para pengkhianat yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Mereka hanyalah wajah-wajah dengan darah Melayu yang tunduk oleh pemerintah Belanda.

“Awang! Bujang Singkip!” Suara lantang itu membuat kami bergeming, sang Batin terlihat sudah muak dengan peperangan yang sudah lama terjadi. Perang panjang yang tak berkesudahan. Wajahnya muram seperti sudah lelah dengan semua keadaan, rakyat-rakyatnya dibuat sengsara oleh ketamakan para petinggi negeri ini. “Aku tahu kalian berdua adalah kepercayaan Tuan Depati Amir. Tetapi, kali ini saja…” Kedua mata sang Batin memerah, “percayakan  padaku.”

Tawaran itu mungkin terdengar bagus, tapi yakinlah tuan. Kami tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama. Lubang yang sudah disiapkan oleh penghianat-penghianat yang menjilat para petinggi Belanda. Bujang Singkip keluar dari Rumah Kebatinan diikuti diriku di akhir tanpa sebuah penyelesaian.

*

Tahun 1851, pasca Perang Pidung di Ketiping selesai dan para pejuang melarikan diri menuju gelapnya hutan di Gunung Maras. Bersembunyi dibalik dinginnya malam dan lebatnya hutan keramat.

Malam terasa begitu panjang. Kami hanya berdua, aku dan Bujang Singkip keluar dari persembunyian diam-diam melewati lelap[7] dan pekatnya udara malam. Kami memutuskan untuk melarikan diri ke Selatan.

Andai ini bukan permintaan dari tuan Depati, dengan berat hati aku akan tegas menolak. Permintaan berat itu harus kuterima dengan ribuan kekhawatiran yang akan segera ku ketahui.