Awan dan Cerita-Cerita Malam
“Pergilah ke Selatan, di bawah kaki Bukit Maras Kecil ada seorang Batin yang dari dulu dengan baik hati membantuku dan para leluhur. Di sana, kau bisa bersembunyi sementara. Jika nanti situasi sudah lebih aman. Kau boleh berhenti melawan musuh, tetapi jika tidak-jangan pernah turunkan kepalamu menunduk pada penjajah.” Suaranya lembut itu terasa halus masuk ke telingaku.
Aku masih ingat, wajahnya yang dulu ku kagumi kini mulai meredup kehilangan cahaya yang bersinar, garis-garis keriputnya pun telah tampak di rupanya dengan sisa-sisa kobaran perjuangannya tetap ada dalam hatinya.
“Bagaimana dengan tuan? Apakah keputusan ini sudah tepat?”
“Awang. Kau adalah salah satu panglima terbaik di barisan pejuang rakyat Bangka. Kau seharusnya tidak perlu risau dengan kondisiku. Awang, aku tidak takut mati, tetapi aku lebih takut jika perjuangan kita semuanya sia-sia,” tuan Depati Amir menepuk pundakku dengan berat hati. Aku menunduk, sejenak menangkan pikiranku yang terbang entah kemana. Ada sejuta keraguan yang terus membayangi diriku malam ini.
“Bujang Singkip, Panglima Awang! Berjanjilah” suara tuan bergetar, membakar sesuatu di dalam hatiku. Matanya tajam menatap kami di bawah terpaan rembulan yang remang-remang, merontokkan rasa-rasa keraguanku sebelumnya. “Untuk setia kepada rakyat…”
Rembulan mungkin sedang bersembunyi dibalik malam, tetapi aku tetap saja tidak bisa menyembunyikan perasaan akan perkataannya. Tuah itu seperti pesan yang tak tersirat. Satu lagi, bisikan terakhir ketika memelukku adalah pesan yang selalu ku pegang hingga saat ini. Kau tahu perkataan apa yang tuan Depati katakan! Kami diminta berhati-hati dengan Tumenggung dari Kute Mentok, yang malam hari ini akan kami temui di Sungai Selan.
*
Tahun 1851, Kampong Koba; persembunyian terakhir kami.
Belum usai rasa sedih meninggalkan tuan Depati di persembunyian, kini berita penangkapan tuan Batin Tikal di Sungai Selan oleh seorang Tumenggung yang didalangi pemerintah Belanda telah membuatku terasa sesak di dada.
Bagaimana bisa, mereka dengan keji menjebak dan membuatnya seakan-akan hilang ditelan bumi sejak saat itu. Aku hanya bisa bersimpuh di hadapan rembulan yang temaram, semilir angin laut telah menemaniku dengan tenang dan meminta penyelesaian yang berkecamuk di dalam pikiranku.
Berpisah dengan tuan Depati Amir, kadang kala membuatku merindu, rindu betapa hebatnya beliau memimpin kami. Kenang-kenangan bersama tuan Depati seakan terus menghantui rasa bersalahku telah meninggalkan mereka di tempat persembunyian.
Kudengar, kini pemerintah Belanda telah memutus hubungan antara para pejuang dengan rakyat yang sebelumnya terikat erat. Mereka dengan licik membakar kampong-kampong dan memindahkan pada jalan-jalan kerja paksa yang mereka kerjakan.
Ini semua tak lain tak bukan ialah untuk mempersempit ruang gerak-gerik kami. Para pejuang Bangka yang merindukan kebebasan. Sejak saat itu, aku benar-benar tak memperoleh kabar apapun tentang pemimpin kami.
Riuh kumbang, riuh madu,
Nyari kembang laki-bini
Men bejuang takut maju,
Tima dilimbang diangkut kumpeni
Suaraku sedikit getir ketika pantun tua itu keluar dari mulutku, terasa hampa dan tak bertenaga. Seakan-akan malam ini adalah malam terakhir diriku bisa menatap rembulan yang indah di langit malam. Aku tersenyum, entah karena aku bahagia akan perjuanganku selama ini atau karena rasa kesepian yang kerap kali datang ketika mengingat masa-masa berperang.
“Bruk!” Suara yang menghantam bumi dengan keras. Debu-debu beterbangan ketika seonggok daging tumbang bersimbah darah di sebelahku. Bujang Singkip! Sial. Belum usai aku melihatnya. Selaras senapan panjang menempel di punuk kepalaku.
“Selamat malam, kutu-kutu sang Depati”.
Bulu kudukku berdiri hebat, suara berat itu membuatku merinding. Bagaimana bisa mereka bisa tahu persembunyian kami?
***
SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang. Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ape Tu, Awan! (2024)
[1] Kampong: Kampung
[2] Batin : kepala rakyat berdasarkan aturan dan tradisi di Bangka yang diangkat dari pribumi sejak masa Kesultanan Banten
[3] Tumenggung : Penguasa atau pemimpin yang diberi kewenangan oleh sultan dari Kesultanan Palembang untuk memimpin wilayah tertentu
[4] Kute: Kota
[5] Hoofd Jaksa : penegak hukum
[6] Depati : gelar yang diberikan Sultan Palembang kepada elite di Bangka
[7] Lelap : rawa-rawa
