Uang Tali Asih
Oleh: Syabaharza
Braaak.
Tiba-tiba suara hantaman keras menambah hiruk pikuk siang itu. Sontak semua orang yang berada di pinggir jalan menyerbu ke arah sumber suara. Dalam sekejap tempat kejadian sudah penuh oleh manusia. Dari balik kerumunan terlihat dua sosok lelaki tergeletak kaku. di sampingnya tampak sebuah sepeda motor masuk ke selokan jalan. Belum diketahui keadaan pengendaranya, tapi dilihat dari visualnya kedua lelaki itu sulit untuk diselamatkan.
“Cepat tolong”
Seseorang berjaket hitam dengan helm masih di kepala berteriak.
“Bawa ke rumah sakit terdekat”
Ibu-ibu berseragam putih juga berteriak panik.
“Telepon ambulance”
“Telepon polisi”
Suara teriakan terus bersahutan.
Sementara kedua sosok lelaki itu tampak sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Keduanya mengeluarkan darah di sekitar kepala. Sepeda motor tanpa plat milik kedua lelaki yang terkapar itu juga tidak bisa diselamatkan lagi.
“Sepertinya mereka sudah meninggal dunia,” ucap seorang lelaki setengah baya.
Mendengar ucapan itu, semua yang ada di situ terperangah. Kekagetan orang-orang di situ bertambah dengan tidak adanya pengenal yang dimiliki korban. Sehingga bingung untuk mencari anggota keluarganya. Di samping tubuh korban hanya ditemukan sebuah pisau cutter dan sebuah tas perempuan warna hitam.
Karena terlalu fokus dengan korban yang terkapar. Orang-orang itu tidak menyadari ada sebuah mobil berhenti tepat di belakang tempat kejadian. Mobil itu dikendarai oleh seorang laki-laki yang berusia sekitar 43 tahun. Laki-laki itu bernama Budi. Ia hanya terdiam di depan setir mobil. Tampaknya ia shock dengan insiden barusan. Lampu sein mobilnya masih menyala.
“Mas tidak apa-apa?”
Tiba-tiba seorang perempuan dengan sepeda motor datang dari belakang menghampiri mobil lelaki itu.
“Alhamdulillah, mas dak apa-apa dek”
Lelaki dalam mobil itu menjawab dengan logat Jawa yang kental.
“Di mana dua orang itu mas”
Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya mengarahkan telunjuknya ke kerumunan di samping mobilnya.
Perempuan yang ternyata istri dari lelaki dalam mobil itu sangat kaget.
“Mas tabrak mereka ya?”
Pertanyaan istrinya membuat lelaki bertambah shock. Seingatnya jarak antara mobil dan motor yang dikejarnya tadi cukup jauh. Ia ingat hanya mendekati motor demi untuk menjaga jarak dan memberikan tekanan kepada pengendara motor supaya berhenti.
“Mereka jatuh sendiri, Dek”
Mendengar jawaban dari sang suami, perempuan itu merasa sedikit lega.
*****
“Sampai kapan benda ini harus mas pakai?”
Pak Budi berbicara kepada istrinya sambil memandangi sebuah benda mirip jam tangan. Bedanya benda itu dilingkarkan di pergelangan kaki. Menurut pihak penegak hukum benda itu untuk mengontrol gerak-geriknya. Benda itu diperolehnya setelah beberapa hari yang lalu ia dinyatakan tersangka atas kasus meninggalnya dua orang pengendara sepeda motor.
“Mereka tega, Mas”
“Iya, Dek”
“Kita harus melawan, Mas”
“Mas kan hanya ingin mengambil tas adek yang dijambret mereka”
“Betul Dek, tapi bagaimana cara melawannya?”
Tiba-tiba pak Budi merasa pesimis. Kepercayaan dirinya mendadak hilang, karena yang mereka hadapi bukan orang sembarangan.
Walaupun secara kronologi pak Budi dalam posisi benar, namun menurut pihak penegak hukum ia tetap salah. Perbuatannya yang membuat nyawa melayang itulah dijadikan alibi untuk menjeratnya menjadi seorang pesakitan. Menurut pihak penegak hukum ia dikenakan Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yakni kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas hingga korban meninggal dunia.
