Waktu mendengar alasan pihak penegak hukum seperti itu, pak Budi hanya pasrah. Hendak melawan ia juga tidak faham tentang pasal dalam undang-undang.

“pokoknya adek tetap mau mencari keadilan”

Sang istri beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya yang masih memandangi gelang GPS di kakinya. Dalam pikiran pak Budi, ia pasti akan berhadapan dengan penegak hukum di persidangan.

*****

Pagi itu pak Budi dan istrinya mendapatkan sebuah kejutan. Sebuah surat panggilan untuk hadir ke sebuah kantor penegak hukum. Yang membuat mereka exited adalah isi surat tersebut. Dalam surat itu pak Budi dijanjikan akan bebas dari tuntutan dan tidak perlu mengikuti persidangan. Suatu yang memang diharapkannya selama ini. Dan yang paling menggembirakan tentunya gelang yang ada di kakinya akan dilepas.

Sebenarnya pak Budi masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa pihak penegak hukum memberikan janji manis seperti itu, padahal beberapa waktu yang lalu mereka bersikukuh bahwa pak Budi bersalah. Berbagai alasan dan pembelaan waktu itu terasa bagai angin lalu. Namun hari ini berubah seratus delapan puluh tujuh derajat.

Baca Juga  Pantun: Laki Bini Banyak Becekau

“Ada apa ya, Dek, kok mereka berubah pikiran?”

Dengan rasa penasaran pak Budi memandang istrinya.

“Mungkin mereka baru sadar, Mas”

Istri pak Budi menjawab sekenanya. Karena ia memang tidak tahu apa musababnya sehingga suaminya mendapat surat seperti itu.

*****

“Lho kenapa harus begitu”

Dengan penuh keheranan pak Budi bertanya kepada pihak penegak hukum.

“Iya pak, bapak harus menyiapkan uang tali asih untuk korban”

Seorang lelaki berkumis dengan seragam lengkap menjelaskan kepada pak Budi bahwa itu syaratnya.

“jika pak Budi tidak sanggup, maka perdamaian ini batal”

Lelaki berkumis itu melanjutkan.

“Apa uang tali asih tu, Pak?”

“Dan berapa jumlah yang harus saya keluarkan?”

Baca Juga  Sejati

Dalam ketidakmengertiannya pak Budi terpaksa bertanya dan memberanikan diri menyanggupi permintaan yang aneh itu.

“Uang tali asih itu adalah uang penghargaan sebagai ucapan terima kasih, Pak”

“Untuk jumlahnya nanti terserah pihak korban, Pak”

“apa, uang terima kasih?”

Pak Budi kaget bukan kepalang. Dalam hati ia bertanya uang terima kasih untuk siapa.

‘Ya Pak, karena keluarga korban mau berdamai dan tidak meneruskan kasus ini”

Karena dalam keadaan terdesak dan kebingungan pak Budi terpaksa mengikuti saja apa yang dikatakan penegak hukum itu.

“Oke, saya setuju,” pak Budi menganggukkan kepala dengan berat.

“Sekarang, apakah gelang ini sudah bisa dilepas?”

Pak Budi menunjuk gelang di kakinya yang selama ini sangat mengganggu aktivitasnya.

Baca Juga  Di Pekat Malam

Lelaki berseragam tadi kemudian masuk ke sebuah ruangan. Sejurus kemudian ia keluar membawa segepok anak kunci. Dan dalam hitungan detik gelang GPS yang ada di kaki pak Budi pun sudah lepas.

Perasaan lega terpancar dari mimik muka pak Budi dan istrinya. Mereka bersyukur karena kasus mereka selesai tanpa harus ke meja hijau. Walaupun mereka masih harus menyiapkan uang tali asih yang belum diketahui besarannya.

*****

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]