Filosofi Salat dalam Isra Miraj (1)
Pertama, perjalanan poros horizontal dikisahkan bahwa nabi Muhammad bertemu dengan beberapa nabi dan rasul yang telah wafat mendahului beliau. Dalam perjumpaannya dengan para nabi dan rasul tersebut, beliau mendapatkan berbagai hikmah bagaimana gambaran para nabi dan rasul dalam mendakwahkan ajaran islam kepada umat mereka masing-masing agar tercipta masyarakat yang bertauhid kepada Allah dan sekaligus tercipta masyarakat yang berkeadilan, makmur sejahtera dan memiliki nilai peradaban sesuai dengan zaman masing masing.
Hikmah ini sangat besar pengaruhnya bagaimana nanti Nabi Muhamamd Saw melanjutkan dakwah di Madinah yang pada akhirnya mampu mencetuskan peradaban kemanusiaan yang sangat hebat yang diakui oleh dunia barat sekalipun.
Kedua, perjalanan poros vertikal sekaligus menjadi esensi Isra’ Mi’raj adalah perjalanan spiritual nabi Muhamamad Saw. menghadap Allah Swt secara langsung untuk menerima perintah shalat. Perintah shalat diterima nabi Muhammad Saw. secara langsung yang artinya ibadah ini merupakan ibadah yang sangat penting dan sangat sakeral.
Dalam hal ini maka umat islam harus mampu menarik makna shalat yang notabanenya merupakan ibadah penting bahkan merupakan tiang agama pada maknanya yang kongkret sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Thaha ayat 14 dan Q.S. Al Ankabut ayat 45 .
Filosofi Shalat sebagai Matriks Spiritual dan Harmoni Sosial
Secara filosofis, Shalat memiliki dua nilai yakni nilai spiritual dan sosial . Nilai spiritual shalat adalah zikrullah atau mengingat Allah sebagimana yang dijelaskan dalam Q.S. Thaha ayat 14 yang artinya “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingatku”. Ayat ini secara tegas mengatakan bahwa dengan melaksanakan shalat manusia dapat mengingat kehadirat Allah dan merasakan kedekatan dengan Allah Swt. karena shalat adalah ibadah khusus yang secara real menyerahkan diri, fikiran, dan hati manusia ke hadirat Allah Swt.
Dalam bahasa yang lebih dalam lagi shalat adalah komunikasi langsung antara hamba dan pencipta dengan keintiman yang tidak berjarak. Maka dengan melaksanakan shalat yang jumlahnya lima kali sehari ditambah dengan shalat sunnah akan mengarahkan manusia dekat taqarrub dengan Yang Maha Pemberi Petunjuk yang akan membuat kehidupan manusia berada pada jalan yang benar, damai, dan kebahagian di dunia maupun di akherat kelak.
Nilai kedua dalam shalat adalah nilai sosial, sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. Al Ankabut ayat 45 yang artinya “Bacalah kitab yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah itu lebih besar. Allah maha mengetahuai apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat ini kita secara langsung dapat menangkap pesan bahwa tujuan shalat adalah mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Perbutan keji dan munkar identik dengan kejahatan sosial artinya kita dapat menangkap secara jelas bahwa shalat memiliki fungsi sosial yang kuat karena seolah ada jaminan bahwa jika umat islam melaksanakan shalat maka akan terhidar dari perbuatan keji dan munkar yang berarti akan terhindar dari kekejian dan kemunkaran diantara umat manusia dalam kehidupan masyarakat.
Bersambung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.