Yuni dan Ridwan terdiam mendengar jawaban anaknya itu. Padahal bukan itu yang membuat kondisi Jihan memburuk. Namun anak itu masih saja menutupi yang sebenarnya dari mereka.

Pandangan mata Jihan menatap Yuni dan Ridwan secara bergantian. “Jihan rindu kehangatan dari kalian yang seperti ini,” ujar Jihan.

“Jihan… Maafkan ayahmu, Nak. Ayah benar-benar menyesal. Dan ayah sudah menikah lagi sejak tiga bulan yang lalu.” Ridwan menundukkan kepalanya dalam.

“Kenapa Jihan tidak tahu, Yah..? Berarti hah ha-rapan aku be..nar-benar tidak bisa tercapai ya?” ratap Jihan dengan suara pelan, bak disambar petir yang kesekian kalinya. Ya, kepedihan yang berpuluh-puluh kalinya yang harus dialami Jihan akibat sikap dan perilaku egois ayahnya terhadap ia dan ibunya.

Lalu Jihan tertawa hambar, dan berucap, “Seharusnya aku tidak pernah mengharapkan itu. Mengharapkan bahwa kalian bisa kembali seperti dulu.” Perlahan tapi pasti. Suara isakan mulai terdengar dari mulut Jihan.

“Maaf. Maafkan Ayah sayang. Ayah menikah lagi tanpa memberi tahu kamu lebih dulu.” terang Ridwan menceritakan yang sebenarnya.

Jihan memejamkan matanya. Meresapi rasa sakit yang kini menjalar ke seluruh tubuh dan juga hatinya. Clarissa dan temannya yang lainnya tidak berani angkat suara. Mereka hanya diam seribu bahasa. Namun perasaan mereka sama. Kegetiran dan pahitnya perjalanan hidup Jihan dapat mereka rasakan sampai ke relung hati mereka yang terdalam. Kegetiran dan kepahitan yang sekian lama betah bersembunyi di balik senyum dan wajah manis teman mereka.

Kini Jihan memegangi pinggangnya yang semakin terasa nyeri. Gadis itu meringis pelan membuat yang lain merasa khawatir. Dokter Aris yang berdiri tak jauh dari mereka pun hendak membantu. Namun Jihan memberikan kode menolak.

Baca Juga  Malam di Ujung Selatan

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.” ujar Jihan terdengar begitu memilukan di telinga mereka.

Selang beberapa saat, Jihan hanya diam dan mencoba untuk mengatur napasnya yang terasa sesak. “Selamat ulang tahun Ibu. Aku ada hadiah untuk Ibu,” ucapnya sembari memberikan sebuah gelang yang sebelumnya sudah sempat ia pakai di tangannya. Gelang itu memang sudah ia siapkan untuk hadiah ulang tahun ibunya, Yuni.

Yuni yang sedari tadi mematung menyesali nasib anaknya, termasuk nasib dirinya, dengan tangan bergetar, mengambil gelang itu lalu memakainya. “Astaga, Jihan… ” suara Yuni tanpa mampu melanjutkan kata-kata lagi dan terdengar bergetar menahan isakan.

“Maaf. Aku minta maaf karena selalu menyusahkan kalian, terutama Ibu. Maaf aku belum bisa membuat kalian bangga padaku. Aku punya ribuan rasa bersalah pada kalian. Sekali lagi aku minta maaf.” Jihan memberi jeda sejenak lalu menarik pelan nafasnya. “Tapi tenang saja, aku tidak akan merepotkan kalian lagi. Aku… akkh-…” suara Jihan terputus.

“Jihan bicara apa Nak..? Jika Jihan memiliki ribuan rasa bersalah maka kami punya ribuan kata maaf. Tapi satu yang harus Jihan ketahui, Jihan tidak punya salah apa-apa. Jihan tidak perlu meminta maaf, Nak. Justru kami yang seharusnya meminta maaf padamu Jihan,” sela Ridwan memotong pembicaraan anaknya.

Jihan tertawa tanpa suara. Lalu ia memulai lagi kalimatnya. “Terima kasih Ayah. Tapi, aku tetap harus minta maaf karena aku tidak bisa menjadi diriku seperti yang dulu lagi. Jihan yang sekarang ini lemah. Jihan tidak bisa tertawa lepas seperti dulu lagi. Hidup Jihan semua bergantung pada rumah sakit.” Jihan menghela napas. “Dan mulai sekarang, Jihan tidak mau bergantung pada rumah sakit dan cuci darah lagi. Jihan ingin tertawa lepas dan bermain bebas lagi seperti dulu. Tapi tidak di sini,” pungkasnya dengan suara yang semakin pelan.

Baca Juga  Perempuan yang Dirindukan Surga

Ridwan mendekat. “Jangan bicara seperti itu, Nak. Jihan pasti bisa kembali seperti dulu lagi dan masih bersama kita sayang.”

“Iya sayang, kita bisa perbaiki semuanya. Tapi Jihan harus janji Jihan bisa bertahan ya, Nak,” timpal Yuni dengan suara bergetar. Air mata ibunya semakin mengalir deras.

Jihan memejamkan matanya. Ia berusaha keras menahan cairan bening yang ingin menerobos keluar dari matanya. “Untuk apa, Bu? Toh, keinginan Jihan sudah tercapai. Jihan sudah memberikan hadiah ulang tahun pada Ibu untuk yang terakhir kalinya.”

Kali ini Irsyad angkat bicara karena sudah emosi dengan omongan kekasihnya yang mulai melantur kemana-mana. “Tidak. Tidak ada yang terakhir. Kisahnya masih akan berlanjut. Semuanya pasti akan membaik, Jihan. Berhenti bicara yang tidak-tidak. Ku mohon bertahan Jihan, aku tidak ingin kehilanganmu,” ujar Irsyad dengan suara bergetar dan kedua tangan yang mengepal.

“Irsyad benar. Kau pasti bisa sembuh dan kita akan merayakan kelulusan sama-sama seperti yang kau inginkan Jihan,” ucap Clarissa terisak.

“Aku juga kan pernah bilang bahwa aku memintamu mewakiliku untuk lulus dan mengambil ijazahku? Kau ingat itu kan? ” tanya Jihan pada Clarissa.

“Kalau begitu aku tidak akan melakukannya. Kau harus melakukan itu sendiri, Jihan. Kau harus menepati janjimu untuk bersama-sama hingga kuliah dan mengambil jurusan yang sama. Kau harus tepati itu, Jihan,” balas Clarissa terisak-isak. Suaranya bahkan terdengar seperti raungan yang menggema di seluruh sudut ruangan kecil tersebut.

Baca Juga  Ayah, Aku Rindu

Ruangan bernuansa putih dan berbau obat itu kini dihiasi dengan penuh tangisan. Semuanya merasakan kehancuran dan kegagalan. Tidak ada satu pun yang tidak ikut menangis, termasuk Farida, istri baru ayah Jihan. Mereka semua merapalkan do’a untuk kesembuhan Jihan.

“Aakhh…sakit…” Jihan merintih karena merasakan sakit yang luar biasa pada area pinggangnya.

Dokter Aris yang melihat bahwa kondisi kesehatan Jihan kembali memburuk langsung memberi tanda isyarat dengan tangannya kepada semua pengunjung untuk keluar dari ruangan, dan ia pun segera menangani Jihan.

***

Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa mengubah takdir Tuhan tentang kematian seseorang, sekalipun dengan berbagai usaha dan do’a. Ternyata rasa sayang yang dimiliki Tuhan kepada Jihan lebih besar dibandingkan dengan teman, kekasih dan keluarganya. Di usia yang masih terbilang muda itu Jihan sudah dipanggil  untuk kembali oleh sang Pencipta.

Tepat pukul 03.13 malam Jihan menghembuskan nafas terakhirnya dan memejamkan mata untuk selama-lamanya. Semua merasakan kehilangan yang besar dan sukses membuat pertahanan mereka hancur seketika. Terlebih kedua orang tua Jihan. Rasa menyesal terus merayapi hati mereka, karena keegoisan mereka semua ini terjadi.

Benar kata pepatah, bahwa penyesalan selalu datang terakhir. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Semuanya sudah ada garis takdirnya masing-masing. Mau menyesal dan menangis sekuat mungkin pun tidak akan mengembalikan Jihan yang sudah bahagia dan lepas dari derita batin dan sakit yang dialaminya selama ini.

TAMAT