Doaku dan Doamu Menembus Langit yang Sama
Tiba-tiba, si Fajar sampai ke rumah melihat jam yang rupanya telah pukul 17.00, pria muda itu pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Beberapa menit kemudian, Fajar pun selesai melaksanakan salat Ashar.
Tidak lupa ia pun berdoa, “Yaa Allah aku mencintai Anisa, akan tetapi aku sedang berproses untuk masa depanku. Jagalah dia yaa Allah … jauhkan dia dari lelaki yang hanya ingin menyakitinya. Dan aku yakin yaa Allah … sujudku dan sujudnya akan bertemu di aamiin yang sama,” doa Fajar dengan kedua tangannya mengusap wajahnya.
Tidak menyangka mereka saling mencintai dan saling mendoakan.
Itu adalah cara bagus untuk mencintai seseorang tanpa pacaran.
Tidak berkomunikasi, tapi saling menjaga lewat doa. Dan mereka yakin bahwa sujudku dan sujudmu akan bertemu di aamiin yang sama.
Satu tahun kemudian, Anisa sudah mendapatkan gelar sebagai sarjana Farmasi, tepatnya menjadi seorang CEO.
Pada suatu pagi, Anisa berjalan menuju apotek tempat ia bekerja.
“Mpurrr!” Suara tabrakan antara Anisa dengan Fajar dan berkas-berkas berhamburan dan terjatuh.
“Eh … eh … eh! Maaf ya, saya tidak sengaja menabrak kamu,” kata Fajar dengan mengangkat tangan Anisa, supaya berdiri.
“Loh … loh, kamu kan Fajar, sudah lama kita tidak bertemu,” kata Anisa dengan wajah yang kaget dan tangannya mengusap lutut.
“Eh iya Anisa, kamu sekarang sudah sukses ya, sudah tercapai cita-citanya kamu yang selama ini kamu impikan. Selamat ya Anisa atas sarjananya,” kata Fajar dengan tatapan penuh cinta dan mulutnya tersenyum lebar.
“Terima kasih Fajar, kamu juga selamat ya sudah menjadi CEO,” kata Anisa dengan menatap wajah Fajar dan mulutnya tersenyum.
Beberapa jam kemudian hari pun sudah malam.
“Tok …. Tok …. Tok!” Suara pintu rumah anisa. Anisa pun membuka pintu rumahnya. Rupa-rupanya itu adalah si Fajar dan kedua orang tuanya.
“Anisa kedatangan saya ke sini ialah ingin melamarmu. Waktu yang selama ini kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, sudah lama aku mengagumimu lewat doaku dan kini sudah saatnya aku ingin melamarmu,” kata Fajar dengan wajah tersenyum dan rasa tidak menyangka di hatinya.
“Masya Allah Fajar, apakah ini mimpi bagiku, apa benar ini nyata? Aku pun selama ini menunggu kamu, aku mendoakanmu di setiap sujudku,” kata Anisa dengan raut wajah yang sedih bercampur bahagia.
Akhirnya mereka pun menikah, itulah cerita dari Anisa dan Fajar yang penuh rintangan.
Rasa sedih, kecewa, dan bahagia yang mereka rasakan. Walaupun tidak pacaran, yakinlah takdir Allah pasti yang terbaik, jadi bersabarlah.
Dan cinta terbaik memang bukan dia yang datang karena kelebihanmu, tapi cinta terbaik adalah dia yang siap bertahan walaupun tau kekurangan dalam dirimu.
Orang yang tidak bisa bertahan dengan apa yang kita hadirkan, berarti dia bukan cinta yang terbaik untuk kita. Kadang kita nggak butuh cinta yang sempurna. Karena cinta itu sudah sempurna dengan maknanya sendiri.
Selesai

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.