“Yang bilang kamu pembawa sial siapa? Bukan kamu penyebab Mama dan Papa bercerai Arumi,” ujar Akhtar menenangkan kembarannya.

“Aku cacat Akhtar! Aku lumpuh enggak bisa jalan! Mereka malu punya anak kayak aku! Buktinya mereka cuma memperebutkan kamu. Padahal aku anaknya juga!” teriak Arumi marah.

“Arumi …,” ujar Linda pelan dengan kedua matanya yang nampak berkaca-kaca.

“Mama minta maaf sayang.” Linda meninggalkan kopernya dan segera memeluk kedua anaknya.

Bukankah Linda egois jika meninggalkan anaknya di sini sendiri? Apalagi dengan kondisi kakinya yang lumpuh, bukankah Linda ibu yang jahat? Di mana hati nuraninya sebagai seorang ibu? Ttega menyakiti hati anaknya. Linda terus menangis dan meminta maaf kepada Arumi yang memberontak.

“Maafkan Mama ya sayang, Mama enggak akan tinggalin kalian berdua. Mama janji itu, maafkan Mama ya,” ujar Linda sambil mencium kedua tangan Arumi.

Baca Juga  Ilusi Manis 

“Mama janji ya jangan tinggalkan Arumi?” tanya Arumi yang perlahan mulai luluh.

“Iya sayang, Mama janji,” Linda mencium kening Arumi dan Akhtar bergantian.

“Sekarang terserah denganmu Mas. Kalau kamu mau tetap kita bercerai, aku harap kamu enggak memisahkan aku dengan kedua anakku,” ujar Linda memandang Danu.

“Berikan aku kesempatan kedua untuk membahagiakan kalian, kamu mau kan rujuk denganku Linda?” tanya Danu menatap sendu ke arah Linda.

“Tentu. Tapi aku mohon, jangan larang aku untuk bekerja di perusahaan. Itu impianku, Mas,” jawab Linda dengan kedua tangan memohon.

“Iya, tapi kamu harus berjanji untuk meluangkan waktumu untuk keluarga kecil kita,” ujjar Danu.

“Aku berjanji,” ujar Linda sambil tersenyum.

Baca Juga  Berdamai dengan Insecure

***

Setelah beberapa bulan kemudian, Linda dan Danu telah rujuk kembali. Kini, keluarga kecil itu sedang tiduran di atas kasur bersama. Akhtar dan Arumi di tengah, sedangkan Linda dan Danu di sampingnya.

“Besok kita ke Singapura untuk mengobati kaki kamu, ya, sayang,” ujar Danu sambil mengelus rambut Arumi.

“Iya, Pa,” ujar Arumi tersenyum.

“Akhtar diajak enggak Pa?” tanya Akhtar sambil memandangi wajah Papanya.

“Emm, enggak. Kan Akhtar sekolah,” jawab Danu berbohong, sambil tersenyum menahan tawa kala melihat Akhtar yang merajuk.

“Ihh, nasa Akhtar ditinggal? Mama Akhtar boleh ikut kan?” tanya Akhtar kepada Linda.

“Boleh, nanti izin sama Bu Guru,” jawab Linda tersenyum.

“Asyik, Papa aja yang ditinggal Ma. Papa kan nakal,” ujar Akhtar sambil memandangi wajah Papanya sengit.

Baca Juga  Perempuan yang Dirindukan Surga

“Ohh Papa ditinggal ya, ini rasakan …,” ujar Danu sambil menggelitiki perut Akhtar. Sedangkan Akhtar tertawa sambil meminta ampun.

“Haha, ampun Pa. Iya, haha Papa boleh ikut, haha,” ujar Akhtar sambil tertawa.

Bruuut!

“Haha, Akhtar kentut Ma, Pa,” ujar Arumi tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

“Hahaha!” Linda dan Danu ikut tertawa.

Sedangkan Akhtar, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu.

“Papa Akhtar malu!” teriaknya.

“Aku senang melihat Arumi dan keluarganya bisa bersama lagi,” ujar Bantal kepada Selimut.

“Iya Mut, doa Arumi terkabul, kan?” ujar Selimut.

“Bau juga ya, ternyata kentutnya Akhtar? Mana sekarang dia memelukku. Tidaaak!” teriak Selimut.

Sedangkan Bantal juga ikut tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Selimut.

Tamat