Mahkota Surga untuk Ayah Ibu
Karya: Nabila Cantika, Siswi SMP NU Toboali
Mia adalah seorang gadis kecil yang masih duduk di kelas 6 sekolah dasar.
Ia tinggal bersama orang tua dan satu adik perempuannya. Kehidupan mereka sangatlah pas-pasan. Mia memiliki semangat belajar dan cita-cita yang tinggi.
Ia bercita-cita menjadi seorang hafizah.
Keinginannya adalah melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren.
Kondisi keluarga Mia yang saat ini kurang memungkinkan sempat membuatnya putus asa. Mia sadar bahwa sekolah di pesantren membutuhkan biaya yang tidak sedikit sedangkan mereka untuk makan pun sulit.
Matahari yang mulai masuk di sela-sela jendela kamar Mia, membuatnya terbangun dan bergegas untuk bersiap-siap ke sekolah. Kring…kring…kring… bel sekolah berbunyi.
Mia beranjak masuk ke kelas bersama sahabatnya, Nurul. Ia terlihat bersemangat hari ini karena hari ini adalah pembagian rapor kelulusan. Mia yakin kalau ia akan lulus dan mendapatkan nilai yang bagus.
“Selamat Pagi, anak-anak. Hari ini adalah hari terakhir kalian duduk di kelas 6. Setelah itu kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hari ini juga hari pembagian nilai rapor kalian,” ucap Pak Marno sebagai wali kelas mereka.
Mendengar hal itu, Mia tak sabar ingin mengetahui nilai yang diraihnya. Akan tetapi, Mia juga sedih jika harus berpisah dengan teman-temannya.
“Baiklah anak-anak, bapak akan sampaikan siapa yang memperoleh juara kelas dimulai dari juara ke 3 Ya,” ujar Pak Marno.
“Kira-kira siapa ya yang akan memperoleh juara kelas kali ini?” tanya Nurul kepada Mia.
“Entahlah. Lebih baik kita tunggu saja sebentar lagi, Rul” jawab Mia.
“Juara ketiga diraih oleh Zidan dan juara kedua diraih oleh Nurul,” sebut Pak Marno. Teman-temanku pun memberikan tepuk tangan untuk Zidan dan Nurul. Nurul merasa senang karena bisa meraih juara kedua di kelasnya sedangkan Mia tidak berhenti berdoa semoga juara pertama diraih leh dirinya.
“Baiklah anak-anak, untuk juara pertama diraih olehhhh…….Miiiaaaaaa,” sebut Pak Marno dengan lantang seraya bahagia ke arah Mia.
Semua orang menoleh ke arahnya Mia dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.
Mia sangat bersyukur bahwa kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia. Setelah selesai pembagian rapor, Mia bergegas langsung pulang ke rumah karena ia tak sabar ingin memberitahukan kepada ayah dan ibunya perihal nilai yang diperolehnya. Saat sampai di rumah, Mia membuka pintu rumah sembari berteriak kegirangan.
“Ayahhhh…Ibuuuu… Mia Juara kelas,” ucap Mia kegirangan sambil berlari memeluk ibunya.
“Wah.. Anak ayah dan ibu hebat! Setelah ini Mia mau lanjut sekolah dimana, Nak?” tanya ayah.
Mia termenung sebentar dan berkata, “Sebenarnya, Mia ingin mondok, ayah. Mia ingin menjadi penghafal Al-Qur’an seperti Kak Musa, anakanya Bu Tini.”
Setelah mendengan hal itu, ayah Mia terdiam sambil berkata dengan nada lirih, “hhmm, ayah senang nak dengan keinginanmu. Akan tetapi, kamu tau kan kondisi keluarga kita? Untuk makan saja kita harus bekerja keras, nak.”
“Ayah, kenapa bengong?” tanya Mia sambil memegang tangan ayahnya. “I-iya Nak. Nanti ayah coba usahakan dulu ya supaya Mia bisa sekolah di pesantren,” jawab ayah sambil berkaca-kaca.
“Terima kasih, ayah.” Ucap Mia.
Keesokan harinya, Mia membantu ibu berjualan kue keliling kampung. Walaupun terkadang kue yang dijual Mia sepi pembeli, tetapi Mia tidak pernah putus asa.
Ia yakin, bahwa akan selalu ada jalan rezeki untuk keluarganya. Berhari-hari uang hasil berjualan kue dikumpulkan oleh ibu untuk biaya masuk pesantren.
Akan tetapi, biayanya tidak kunjung cukup. Saat sendiri, Mia sering termangu memikirkan biaya sekolahnya. tapi ia selalu bersemangat dan tidak menyerah. “Mia, kamu harus yakin bahwa kamu bisa mewujudkan mimpimu. Ayo semangat, Mia,” batin Mia dalam hati.
Beberapa hari kemudian, saat Mia berjalan-jalan sembari menikmati hebusan udara yang menyejukkan kulitnya.
Di tengah perjalanan, Mia tak sengaja melihat poster perlombaan. Cabang yang diperlombakan yakni Tilawatil Qur’an, Sholawat Nabi, dan Tartil Al-Qur’an.
“Wah… kebetulan sekali nih. Aku kan bisa tilawatil Qur’an. Aku coba ikut deh, siapa tau bisa menang. Hadiahnya juga lumayan untuk daftar sekolah” mia berbicara sendiri dengan penuh percaya diri. Mia mulau menghubungi pihak panitia untuk mendaftarkan dirinya dalam perlombaan tersebut.
Sepekan berlalu, Mia mendatangi tempat perlombaan itu. Saat ia tiba, beberapa peserta sudah mulai tampil. Mia gugup melihat para peserta yang penampilannya sangat memukau.
Jantung Mia berdebar semakin kencang tat kala namanya dipanggil untuk maju ke atas panggung. Mia mulai menampilkan yang terbaik untuk mendapatkan hasil sesuai yang diharapkannya.
Saat penampilannya telah selesai, semua orang yang hadir di acara itu memberikan tepuk tangan yang sangat meriah untuk Mia. Mereka takjub mendengar suara Mia yang merdu dengan pelafalan tajwid yang tepat.
Walaupun demikian, Mia harap-harap cemas apakah ia bisa menjadi juara atau tidak.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.