Dewan juri rapat dan diumumkan hasil pemenang lomba masing-masing cabang. Saat diumumkan pemenang yang kedua, namanya belum juga muncul.

Ia semakin gelisah karena takut usahanya akan sia-sia. Lalu, tibalah saat pengumuman juara pertama Mia menutup telinganya karena Mia takut tidak sesuai harapan.

“Pemenang pertama diraih oleehhhhh… Miiiiaaaaaaaaaaa”. Orang-orang disekilingnya bertepuk tangan sambil memberikan pujian kepadanya.

Mia senang dan menangis teharu karena akan membawa pulang hadiah.

Mia pulang langsung berteriak memanggil ayah ibunya. “Ayah, Ibu, Mia menang,” ucapnya kegirangan.

“Wahh.. anak ayah dan ibu hebat. Akan kamu gunakan untuk apa nak hadiahnya?” tanya Ibu. Dengan senang Mia menatap ibunya sambil berkata, “Aku mau pakai uang hadiah ini untuk daftar sekolah di pesantren ya, Bu. Mia ingin menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat agar bisa memberikan mahkota surga untuk kalian,”

Mata ayah dan ibu berkaca-kaca mendengar perkataan Mia. “Baiklah, Nak.

Nanti kita sama-sama pergi daftar ya Nak,” Mia tersenyum mendengar ucapan ayah dan ibunya.

Mia dan kedua orang tuanya pergi mendaftarkan Mia di salah satu pesantren di Jawa Timur. Setelah sampai di lokasi, Mia kagum akan keindahan pondok itu.

Baca Juga  Di Himpang Lime Aku Menyanyi Nina Bobok

Ia tak sabar untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-citanya di sana. Orang tua Mia segera mengurus administrasi pendaftaran Mia . Setelah selesai, ayah Mia bertanya kepada pengurus pondoknya, “Mas, ini mulai masuk pondoknya kapan ya?”

“3 minggu lagi Pak,” jawab pengurus pondoknya, Mas Ujang.

“Baiklah Mas. Terima kasih informasinya. Kami pamit pulang dulu.”

“Sama-sama Pak, Bu. Hati-hati dijalan ya,” ucap Mas Ujang.

Hari-hari berlalu, hingga tiba waktu yang ditunggu-tunggu oleh Mia.

Mia sangat senang dan bersemangat walaupun harus terpisah sementara dengan keluarganya. Perjalanan dari rumah Mia ke pondok memakan waktu 3 jam.

Saat tiba di sana, Mia bergegas masuk membawa barang-barangnya dan diantar oleh pengurus pondok pesantrennya. Ayah, Ibu, dan Adik Mia segera berpamitan pulang. Terlihat raut kesedian dari wajah keluarganya.

Di pondok pesantren, Mia belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa menjadi hafidzah.

Target hafalannya yaitu 30 juz karena ia ingin sekali membahagiakan orangtuanya. Ia tidak pernah lelah mendoakan kedua orangtuanya. Begitu pula orangtuanya.

Baca Juga  Wisma Ranggam

Mia sangat menikmati hari-harinya di pondok bersama dengan teman-teman barunya. Namun, kebahagiaan itu tidak kunjung lama. Tiba-tiba saja ia mendapatkan kabar bahwa ibunya telah meninggal dunia.

Mia sangat sedih. Dunianya serasa hancur saat ditinggalkan oleh malaikat takbersayapnya itu. Tapi, berkat teman-temannya, Mia kembali bersemangat menggapai Cita-citanya.

“Mia, kamu tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Kamu harus bangkit dan melanjutkan impianmu agar bisa memberikan mahkota bagi ibumu yang sudah ke surge terlebih dahulu,” ujar salah satu teman Mia.

“ Kalian benar. Setidaknya aku harus bisa memberikan mahkota surga bagi mereka,” jawab Mia.

Enam tahun kemudian, Mia lulus dari pondok pesantren membawa banyak ilmu untuk bekalnya kemudian hari.

Mia juga berhasil menggapai target hafalan 30 juz Al-Qur’an sebagaimana yang ia inginkan demi kebahagiaan orangtuanya. Mia bergegas untuk kembali ke kampung halamannya untuk menemui ayah dan adiknya.

Di perjalanan pulang, Mia mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah menyusul ibunya. Mendengar hal itu, Mia menangis sesengukan. “Mengapa Ayah dan Ibu pergi secepat itu meninggalkan Mia?” Mia berbicara sendiri sembari menangis tak henti. I

Baca Juga  Ombak yang Tak Bersalah

a pun meminta supir busnya untuk bisa mempercepat kendaraan agar ia bisa menghadiri pemakaman ayahnya.

Setibanya di rumah, dengan mata bengkak karena tak henti menangis diperjalanan, Ia menghampiri adiknya dan memeluk adiknya dengan erat.

Saat ini, tinggal ialah harapan orantuanya untuk bisa membantu adiknya menjadi orang sukses seperti dirinya. Pemakaman usai, tiba-tiba seorang kyai dari pondok pesantrennya itu mengahimpiri Mia dan menawarkan pekerjaan kepadanya.

Mia menerima tawaran untuk bekerja sebagai pengajar di pondok pesantren tempat ia menimba ilmu dulu.

Meskipun ia telah kehilangan kedua orangtuanya, ia tidak pernah putus asa. Ia terus mengasah hafalannya agar bisa memberikan mahkota surga bagi ayah dan ibunya. Selain itu, masih ada adiknya yang harus ia bahagiakan untuk memenuhi pesan orang tuanya.

Tamat

Nabila Cantika adalah santriwati SMP NU Toboali Kabupaten Bangka Selatan