Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Langit gelap dengan angin yang menyapu setiap benda ringan di muka bumi ini akhirnya muncul kembali. Mataku menatap bintang dan bulan secara bergantian dengan jangka waktu yang cukup lama. Malam yang gelap adalah pemandangan yang kulihat setiap hari, setiap jam, dan setiap saat.

Aku sudah lama tidak melihat terang dan hangatnya matahari. Aku lupa bagaimana cahaya yang indah itu masuk melewati jendela karena aku harus terjebak di ruang gelap dan hanya dibiarkan melihat gelapnya malam. Sepertinya aku juga sudah sensitif dengan cahaya saking lamanya aku tidak melihat cahaya terang yang indah.

Aku bosan memandangi langit malam, mereka memang indah, tapi aku melihatnya setiap hari. Bulan dan bintang sudah kelabu bagiku. Aku memeluk tubuhku yang hanya ditutup oleh tank top tipis transparan. Aku merasa malu walaupun tidak ada orang yang bisa melihatku, aku tidak pernah lagi memakai celana semenjak hari yang menentukan itu.

Baca Juga  Bukan Cinderella

Setiap aku mengingat kejadian itu, air mataku mengalir dengan sendirinya, hatiku mendadak perih dan terasa sangat sakit. Aku membenamkan kepalaku ke dalam bantal, membiarkan bantal itu basah oleh semua air mataku. Aku tidak bisa kuat, aku sangat lemah sekarang. Aku menangis hampir setiap hari. Hari ini aku menangis berduka atas kepergian seorang teman yang telah menemaniku melewati neraka ini bersama-sama. Dia pergi terlalu cepat, terlalu muda, terlalu menyedihkan.

Kudengar pintu kamarku digedor dengan kekuatan yang besar dan penuh dengan amarah yang keji. Aku menghela nafas, aku muak merasa ketakutan padanya. Aku terlalu marah untuk membukakan pintu untuknya, bersikap seperti malaikat untuk monster sepertinya? Mungkin aku terlalu bodoh.

Baca Juga  Pengertian dan Pemahaman Hubungan Daya & Energi Listrik

Aku tetap membiarkannya sampai dia berhasil mendobrak pintu yang kukunci dari malam sebelumnya. Dia muncul dengan ekspresi marah dan kesal seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Matanya liar dan seperti siap menyantap siapapun yang berani mendekatinya.

Aku sudah tidak tahu kapan terakhir kali aku makan dengan benar atau tidur dengan nyenyak. Hanya saja malam ini adalah puncak dari semua penderitaanku. Dia telah membawa satu-satunya temanku yang selama ini menjadi kekuatanku, menjagaku walaupun dia sendiri adalah orang yang perlu dijaga. Dia Rachel, dia mati karena overdosis narkoba. Rachel gadis manis yang baik, nasibnya yang buruk sama sepertiku.

Dia dicecoki 10 suntikan Heroin setiap harinya, jiwanya yang rapuh melayang karenanya. Hatiku sakit untuknya, gadis yang malang. Kami harus menjadi korban nafsu ganas dari pria ini. Dia meneriaki dengan kata-kata kasar yang memekik telingaku. Tapi kali ini, aku tidak akan rakut dan gemetar sedikitpun. Saatnya merubah takdirku, merubah nasibku, membalikkan situasi di mana kemenangan memihak padaku.

Baca Juga  Penurunan Titik Beku dalam Kehidupan Sehari-hari, Ini 4 Contohnya

“Wanita jalang!! Berani sekali kau mengabaikanku!”

Dia menarik pakaianku dan mengangkatku. Tangan kekarnya dengan mudah mengangkat dan menarik tubuhku ke hadapanku. Tangannya berpindah ke leherku, saat itulah aku meludahi wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya seperti orang kesurupan dan aku menggunakan kesempatan ini untuk memukul kepalanya dengan dengan botol minuman keras yang sempat dia bawa dan dia taruh di atas meja sebelah tempat tidurku.

Dia adalah Zayn, pria yang menculikku dan wanita lainnya untuk dia jual agar mendapatkan pundi-pundi uang. Dia memperlakukan kami seperti binatang, dan sekarang akan kuperlakukan iblis ini seperti binatang.