Tangkap Aku dengan Kebusukanmu
Darah mengucur dengan keras dan erangan kesakitan memggema hingga keluar rumah. Aku memanfaatkannya untuk pergi kabur dari tempat neraka ini. Tak lupa aku mengambil kain panjang berwarna putih yang kutemukan di dekat ruang tengah untuk menutupi tubuhku yang sudah teramat sangat memalukan untuk dilihat.
Saat aku menoleh ke belakang, kulihat Zayn dengan kepala bocor dan berlumuran darah masih mampu mengejarku seperti binatang buas. Aku berlari sekuat tenagaku hingga aku keluar dari rumah itu, dia masih mengejarku dan kali ini membawa segenggam kapak di tangannya.
“Akan kuhabisi kau! Kau tidak bisa lolos dariku!” Amarah Zayn yang tak terbentuk dan luka-lukanya membuktikan bahwa dia adalah psikopat gila yang sangat terobsesi.
Aku tidak menghiraukan ancamannya, yang kutahu aku harus segera bebas dan melihat matahari lagi. Saat kami melewati hutan lebat, aku menemukan sebuah danau yang terdapat seekor buaya dengan ukuran sangat besar, kudengar bahwa buaya itu liar dan ganas. Tiba-tiba terbesit ide untuk menghentikan pengejarannya. Aku tidak peduli seberapa sadis aku melakukannya. Dia pantas mendapatkannya.
Saat dia muncul di hadapanku, dia tidak langsung menyerangku. Dia tertawa seperti maniak dan menyeringai puas karena berpikir aku kehilangan jalan.
“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kau tidak bisa lari dariku.” Saat itulah dia mengayunkan kapaknya ke arahku.
Aku dan teriakanku berusaha menghindarinya sambil berusaha memutar otak bagaimana caranya menghentikan aksi gilanya. Sempat beberapa kali aksi yang sama dilakukan, hingga aku memutuskan melawannya dengan sebisaku, seperti mencakarinya hingga melemparinya batu-batu yang kutemukan di sekitarnya. Hingga sampai pada saat aku mulai terpojok dan kapak Zayn sudah berada di depan mataku.
Aku tidak ingin mati dan berakhir di sini, aku berjanji pada Rachel bahwa aku akan hidup jauh lebih baik. Kekuatan itu muncul setiap aku mengingat pengorbanan Rachel demiku, untuk itulah aku menendang dadanya hingga tubuh besar Zayn terpelanting ke dalam danau. Aku memandangi dia yang bertarung dengan buaya tersebut sampai akhirnya Zayn tenggelam ke dalam danau dan tidak terlihat lagi. Merah darah muncul dari tempat tenggelamnya dan kemudian menyebar ke seluruh danau. Aku sadar bahwa aku sudah selamat, tidak ada lagi neraka. Aku bebas dan akan melihat matahari lagi.
Aku memutuskan melewati hutan menuju arah lain karena aku tahu mustahil untuk melewati danau itu. Aku tidak ingin menyusul Zayn ke neraka.
Aku berjalan dengan lesu dan lelah menuju entah berantah. Aku tidak tahu harus ke mana, aku tidak punya siapapun lagi. Jika Rachel masih hidup, mungkin aku akan mengajaknya pergi bersama. Tapi aku sendirian, berharap keberuntungan menghampiriku. Saat sedang berpikir, aku melihat sedikit cahaya dari kumpulan pohon lebat di depanku. Firasatku bagus, aku bisa merasakannya. Saat aku membuka ujung hutan ini, kulihat aspal hitam dengan sebuah mobil yang terparkir di sana.
Aku tak mampu lagi berdiri, aku jatuh dengan mode lambat. Aku terduduk di sana dengan menyedihkan dan tak lama pemilik mobil tersebut muncul dan melihatku dengan wajah khawatir dan keheranan sebelum menghampiriku. Akhirnya aku bebas, aku akan melihat matahari besok. Cahaya yang kurindukan selama ini.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.