Sumur Angker
Karya: Dea Sukar Lina, Siswi SMP Negeri 2 Toboali, Bangka Selatan
“Tolong … tolong …!” Terdengar suara teriakan seseorang dari arah sumur. Rupanya suara itu juga didengar oleh dua sekawan, yakni Andi dan Aman. Mendengar teriakan itu Andi dan Aman segera menghentikan langkah kaki mereka yang hendak melewati sumur itu.
“M-man … it-itu … suara apaan?” tanya Andi kepada Aman dengan ketakutan.
“Itu sepertinya suara orang minta tolong,” jawab Aman.
“Iya, kayak ada orang yang mau minta tolong, tapi siapa?” tanya Andi lagi.
“Mana kutahu!” jawab Aman ketus.
“Dari pada penasaran, gimana kalo kita cari tau suara siapa itu?” lanjutnya, sembari melangkah.
“Kamu aja sendiri,” tolak Andi. Mendengar jawaban temannya, benar saja Aman nekad hendak melangkah sendirian. Namun, Andi kembali bersuara untuk melarang temannya.
“Kita pulang ajalah yok, nantilah kita cari tau,” pinta Andi.
“Nggak lah aku mau sekarang udah penasaran banget ini,” kekeh Aman.
“Nanti saja, Man, udah malem banget ini, mending pulang aja,” pinta Andi.
“Baiklah, ayok kita pulang.” Aman pun menurut.
“Nah gitu dong,” ucap Andi.
Andi dan Aman pun pulang ke rumah dan meninggalkan suara tersebut. Andi dan Aman adalah seorang siswa SMK, yang sekarang sedang magang di desa Kendari.
Pagi hari pun tiba. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar rumah.
Tok … tok … tok …,
“Assalamualaikum,” terdengar suara berat seseorang dari luar rumah.
Andi dan Aman pun terbangun karena mendengar suara itu.
“Man, Man! Bukain pintu sana!” perintah Andi dengan masih dalam keadaan mengantuk.
“Kamu ajalah, aku masih ngantuk nih,” ujar Aman.
“Aku juga masih mengantuk,” balas Andi.
“Kalau begitu kita berdua ajalah yang bukain,” saran Aman.
“Yaudah,” jawab Andi.
Aman pun membuka pintu sembari menjawab salam. Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Pak Kades Kendari.
“Silakan masuk Pak, duduk dulu,” sambut Aman.
“Iya,” jawab bapak kepala desa itu.
“Ada apa ya, Pak, ke sini?” tanya Andi.
“Ini mau melihat keadaan kalian. Bagaimana, nyaman nggak tempat tinggalnya?” tanya Pak Kades yang bernama lengkap Jahara itu.
“Ouh, nyaman kok, Pak. Pak, aku mau nanya boleh nggak, Pak?” Aman pun membuka suara dengan hati-hati.
“Alhamdulillah. Lalu mau bertanya perihal apa?” balas Pak Kades.
“Begini, Pak. Semalem, aku sama Andi lagi jalan tuh buat cari makan, nah tiba-tiba ada suara orang yang meminta tolong dari arah sumur. Nah, kira-kira itu suara apaan ya, Pak,” tutur Aman menceritakan pengalaman semalam.
“Kalo soal itu Bapak nggak tau, Man,” ujar Pak Kades.
“Oh begitu ya, Pak,” balas Aman.
“Iya,” tegas Pak Kades.
“Ya udah, Bapak pamit dulu ya, masih banyak kerjaan soalnya,” pamit Pak Kades usai mengucapkan salam.
Setelah mendengar jawaban dari Pak Kades, kedua sekawan itu pun kembali berdiskusi.
“Aneh, ga sih, masa Pak Kades aja ga tahu?” gerutu Aman.
“Iya, terus kenapa?” cibir Andi.
“Lah kamu merasa aneh nggak sih, masa kepala desa di sini nggak tau?” tandas Aman.
“Ya, mungkin aja emang nggak tau,” pungkas Andi.
“Hmm, tapi aneh nggak sih?” tanya Aman penasaran.
“Aneh dari mananya, mungkin aja semalem kita salah dengar,” tampik Andi.
“Emm, mungkin,” keluh Aman.
“Dari pada mikir ini terus, mending mandi aja,” ujar Andi.
“Iya, benar kata kamu mending mandi,” balas Aman.
“Iya, nah jadi sekarang siapa duluan yang mandi?” tanya Andi.
“Aku ajalah yang duluan,” ujar Aman.
Percakapan kedua sekawan itu pun tak menemukan hal berarti. Kemudian, setelah percakapan itu, Aman pun mandi. Setelah selesai mandi Aman mulai menggosokkan giginya menghadap ke depan cermin. Tiba-tiba terdapat tulisan “Tolong” yang telah berada di cermin itu, dengan menggunakan noda darah. Aman pun terkejut dan lari saat melihat tulisan tersebut.
“Aaaa …,” teriak Aman sambil terus berlari menggunakan handuk di pinggangnya.
Mendengar teriakan itu Andi pun menghampiri Aman. Andi pun bertanya kepada Aman, “Hei, kenapa kamu teriak-teriak?”
“I – itu,” jawab Aman terbata-bata sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kamar mandi.
“Itu kenapa?” tanya Andi penasaran.
“Itu ada tulisan minta ???????????????????????? di cermin,” tutur Aman.
“Elah, nggak percaya aku,” cibir Andi.
“Malah nggak percaya!” tukas Aman sembari membenarkan handuknya.
“Emang nggak percaya, buktikan dulu baru aku percaya,” kata Andi.
“Kamu butuh bukti? sini aku kasih bukti,” ucap Aman sambil menarik tangan Andi dan segera pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi alangkah kagetnya Aman melihat bahwa tulisan “Tolong” yang dia lihat di cermin telah menghilang.
“Ini buktinya … hah, mana tulisan tadi?” Aman kaget bukan main.
“Mana buktinya?” tanya Andi.
“Itu tadi disana!” Tunjuk Aman ke arah cermin.
“Di mana nggak ada, kosong tuh cerminnya.” Andi masih tak percaya.
“Ada tadi di sana serius,” ujar Aman sambil kebingungan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.