Sumur Angker
“Aduh, udah lah Man harus bukti apalagi? Tuh nyatanya nggak ada kan,” ucap Andi.
“Udah mungkin kamu capek, istirahat aja sana.” Lanjut Andi. Maka Andi pun pergi mengantar Aman ke kamarnya.
Malam pun tiba, saatnya Andi dan Aman untuk tidur.
“Man tidur yuk,” ajak Andi.
“Iya udah ayok, udah malem juga,” jawab Aman.
“Sebelum tidur gosok gigi dulu lah!” Perintah Andi.
“Nggak mau masih takut aku,” balas Aman.
“Dih, dasar penakut,” ejek Andi.
“Nggak peduli, mau kamu bilang aku penakut kek atau apa nggak peduli,” teriak Aman.
“Ye, ya udahlah aku mau gosok gigi dulu,” ucap Andi.
“Ya udah sana, aku mau tidur dulu,” ujar
Aman.
“Iya tidur lah,” ucap Andi.
Andi pun pergi menggosok gigi meninggalkan Aman.
“Yee, penakut banget sih Aman,” ejek Andi yang sedang di dalam kamar mandi.
“Gosok gigi dulu ya kan, biar gigi nggak bau,” ucap Andi.
Ketika Andi hendak melihat ke arah cermin tiba-tiba hal yang serupa terjadi kepada Andi. Terdapat tulisan “Tolong” di cermin dengan menggunakan noda darah. Andi pun kaget melihat tulisan tersebut mendadak muncul di cermin. Lekas, Andi lari dari kamar mandi sembari berteriak heboh.
“Maaan, Maaan!” teriak Andi memanggil nama Aman sambil ketakutan. Aman pun terbangun mendengar teriak Andi.
“Kenapa An?” tanya Aman.
“Ad-ada tulisan ???????????????????????? di cermin,” jawab Andi sambil ketakutan.
“Hah? Kamu melihatnya juga?” tanya Aman.
“Iya,” jawab Andi.
“Kok bisa sih, kita sampai diteror kayak gini?” tanya Aman.
“Aku juga nggak tau. Ehh, tunggu. ….” Andi menggantungkan kalimatnya.
“Apa jangan-jangan, gara- gara hantu yang meminta tolong di sumur waktu itu?” Andi melengkapi kalimatnya dengan pertanyaan.
“Mungkin saja,” jawab Aman.
“Terus kita harus gimana, masa diem aja diteror gini,” sungut Andi.
“Kalau begitu, gimana kalau kita pergi ke sumur itu saja. Kita cari tau ada apa di sumur itu,” ajak Aman.
“Gak usah lah … takut … serem.” Andi menolak. Namun, temannya memaksa, hingga Andi pun setuju untuk memeriksa sumur.
Aman dan Andi pun pergi ke sumur itu. Ketika hampir sampai di sumur, tiba-tiba terdengar lagi suara seseorang minta tolong.
“Tolong … tolong!” Teriakan minta tolong yang berasal dari dalam sumur, tentu saja membuat Andi semakin ketakutan.
“Man, su-suara itu lagi,” ujar Andi.
“Iya, An ayok kita lihat disana ada apa,” kata Aman sambil menarik tangan Andi.
“Yaudah ayok,” jawab Andi memberanikan diri.
“Nah ini sumur itu,” ucap Aman .
“Iya,” jawab Andi.
“Ayok kita lihat ke dalam ada apa,” sambung Aman.
Ketika mereka melihat isi yang ada di sumur itu, alangkah terkejutnya mereka melihat ada mayat yang berada di dasar sumur. “Astaghfirullah,” ucap Andi dan Aman dengan serentak sambil kaget.
“Ada mayat!” kata Aman dengan wajah pucat.
“Iya,” sahut Andi dengan wajah sama pucatnya.
“Duh, gimana ini jadinya, Man?” tanya Andi dengan gemetaran.
“Cepat kamu panggil warga desa dan Pak Kades ke sini, cepat!” Aman memerintah dengan panik. Andi pun segera berlari menjauh. Secepat mungkin Andi berlari, hingga sampailah di rumah kepala desa. Beruntung di sana juga telah ada beberapa warga.
“Paaak … paaak!” teriak Andi dengan nafas yang memburu.
“Iya, ada apa Andi? Kok, larinya cepet banget kayak orang yang sedang dikejar setan,” sahut Pak Kades berusaha menenangkan Andi.
“It-itu Pak …. Hah, hah,” suara Andi. dengan nafas yang ngos-ngosan.
“Kenapa Andi? Coba tarik nafas pelan-pelan lalu embuskan.” Perintah Pak Kades.
“Haaam … huuu … haaam … huuuu!” Terdengar suara tarikan nafas Andi.
“Nah coba ceritakan ada apa,” tanya Pak Kades.
“Itu Pak, ada mayat seseorang di dalam sumur,” jelas Andi masih dengan gemeteran.
“Hah?” warga desa dan Pak Kades serempak kebingungan.
“Yang serius kamu, jangan bercanda,” tegas Pak Kades.
“Iya Pak, saya serius. Di sana sudah ada Aman yang berjaga-jaga,” jelas Andi dengan mimik serius.
“Ya udah, ayok bapak-bapak kita pergi sekarang,” ajak Pak Kades kepada para warga yang memang sedang berkumpul di rumahnya. Serentak mereka pun berjalan menuju sumur yang dimaksud. Sesampainya di dekat sumur, mereka melihat Aman yang sedang berdiri tak jauh dari sumur.
“Aman, di mana mayat yang dikatakan oleh Andi?” tanya Pak Kades
“Mayatnya ada di dalam sumur, Pak!” jelas Aman.
“Astaghfirullah, kok bisa ada mayat disini?” Pak Kades mulai kebingungan.
“Terus kalian ngapain disini?” lanjut Pak Kades memasang wajah curiga.
“Kami kesini karena diteror hantu, Pak. Karena kami ngga mau lagi diteror, jadi kami kesini buat cari tau ada apa,” jelas Aman.
“Oh, begituuu,” jawab Pak Kades dan warga hampir serempak.
“Iyaaa,” tegas Aman dan Andi kompak.
“Baik, jika demikian ijinkan saya menelpon polisi sebentar.” Lekas saja tanpa menunggu jawaban warganya, Pak Kades mengambil ponselnya dan memencet nomor pihak yang berwajib. Tak lama kemudian, bunyi sirine polisi meraung di sepanjang jalan desa. Disusul pula dengan mobil jenazah.
Pada akhirnya, setelah mayat tanpa identitas itu ditemukan, suara minta tolong pun mendadak saja hilang. Entah bagaimana hasil autopsi mayat malang itu, yang pasti Andi dan Aman harus segera kembali ke sekolah mereka.
Tamat.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.