Sosiolog UBB Soroti Kasus Kekerasan Seksual di Babel
“Secara sosiologis mengapa hal ini terjadi, bahwa dalam konstruksi sosial anak-anak merupakan kelompok subordinat yang lemah yang tidak memiliki hak independen atas dirinya,” lanjutnya.
Menurutnya, dalam proses sosialisasi dan pendidikan di kebanyakan keluarga Indonesia, orang tua masih menganggap anak-anak belum tahu apa-apa. Anak-anak masih berada di bawah tanggung jawab dan pengawasan orang dewasa atau orangtua secara penuh.
Sehingga anak-anak lebih lama mengalami kedewasaan dengan kemampuan untuk memutuskan sesuatu untuk dirinya. Bahkan menolak hal-hal yang mereka tidak suka.
“Kondisi dan posisi ini membuat anak-anak tidak memiliki posisi tawar di depan orang dewasa di lingkungannya, sehingga sangat mudah mengeksploitasinya. Dengan tekanan dan ancaman, anak-anak sangat mudah menjadi korban kekerasan, terutama kekerasan seksual di dalam rumah tangga,”jelasnya lagi.
Solusi untuk kasus kekerasan terhadap anak, menurut dia keluarga, masyarakat dan pemerintah harus menciptakan bentuk kepedulian seperti memberikan pendidikan sejak dini, mulai dari rumah, lingkungan dan sekolah.
Tak hanya itu, Fitri berharap peran serta media massa pun penting.
“Peran Media massa memberikan edukasi bahwa anak-anak harus memahami tentang dirinya dan punya hak penuh atas dirinya sendiri. Sehingga mereka memiliki kemampuan untuk memutuskan hal-hal tentang dirinya dan menolak atau mengatakan tidak terhadap sesuatu yang dapat membahayakannya,” tutupnya.
Editor: Dedy Irawan


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.