“Aku tidak tahu, sebelum dia meninggalkanku. Dia pernah memberi kan rasa yang begitu hebat yang bahkan tidak pernah kudapatkan dari orang lain,” kataku sambil menatap wajah Ika.

Awal pertemuan sangatlah manis seperti gulali. Dan perpisahan sangatlah pahit seperti kopi hitam. melepaskan orang yang masih ingin kita miliki adalah sakit yang tidak bisa diungkapkan lagi.

Merindukan seseorang yang pernah dekat dengan kita adalah fase yang terberat. Tapi kita harus sadar kalau itu hanya sekadar masa lalu. Dan aku tahu menjadi asing dengan orang yang dekat dengan kita itu adalah berat.

Sesuatu yang sudah kita ikhlas kan, tak perlu kita harapkan lagi. Biarkan dia menjadi hadiah untuk orang lain, atau jika ia ditakdirkan untuk kita, biarkan Tuhan yang mengatur kapan dia kembali. Ya, mulut bisa ngomong ikhlas tapi  hati tidak.

Baca Juga  Aku Mau Memaku Kupu-kupu

“Apa fase yang paling gak enak yang kamu rasakan?” tanya Ika kepada ku.

“‘Ketika teringat betapa dekatnya dulu namun sekarang sudah jauh bahkan sangat jauh. Ketika dulu menjadi orang pertama yang tahu segalanya tentang dia sekarang hanya bisa menebak nebak saja. Dan ketika melihat isi room chat yang dulu dipenuhi dengan pesan-pesan singkat yang penuh warna sekarang menjadi room chat yang usang hanya tinggal tersisa nama dia dan sudah tidak lagi dipenuhi dengan pesan darinya,” curhatku kepada Ika.

Jika seseorang sudah menjauh darimu, ada baiknya kau jangan mencoba untuk mendekatinya lagi. Yaa memang itu hak mu untuk mendekatinya, tapi dia juga punya hak untuk menjauh darimu.

Baca Juga  Penasaran Terbentuknya Batuan Sendimen Batu Bara? Ini Prosesnya

Kau mungkin bisa memaksanya untuk terus bersamamu, tapi kau tidak bisa mengabaikan fakta bahwa sesuatu yang dipaksa itu tidak baik dan pasti nanti akan menghilang dengan cara apapun.

Tidak ada satu manusia pun yang mau dipaksa untuk melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan. Jadi akan lebih baik jika kau menghargai keputusan seseorang. Jika dia sudah membatasi diri dan menjauh darimu maka hargailah.

“Sehebat apa dia hingga kamu tidak bisa melupakannya?” tanya Ika lagi.

“Dia tidak hebat, tapi untukku dia adalah cukup. Entah kenapa perasaan ini tidak pernah berubah sedikitpun walaupun dia pergi. Menurutku dia berbeda dari orang yang sebelum aku kenal. Dia baik, dia bisa mengerti aku, dan dia selalu menjaga sholatnya. Dari itu aku takut kehilangannya dan aku kagum kepadanya,” jawabku menatap wajah temanku lalu aku tersenyum.

Baca Juga  Calon Imamku?

“Takut kehilangan? Kan kamu sekarang sudah kehilangan sosok dirinya? Sudahlah kamu harus bisa tanpanya. Lihat dia biasa saja tanpa dirimu,” ujar Ika sambil mengisi air putih.

“Kamu enak bilang begitu, kan yang ngerasain aku.  benar juga sih aku harus bisa tanpanya. Tapi, melupakannya butuh proses yang panjangkan dan tidak semudah yang kamu kira,” kataku sambil tersenyum.

Ali bin abi thalib pernah berkata, “jika kamu mencintai seseorang maka biarkan dia pergi, jika dia kembali berarti dia milikmu. Tapi tidak untuk pacaran.”

Tamat