Oleh: Dr. Darus Altin, SE, MMSI
OPINI, Secara administratif, Pulau Gelasa masuk ke wilayah Desa Batu Beriga, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah.

Jarak terdekat dari Pulau Gelasa ke daratan Pulau Bangka adalah sekitar 18 mil laut atau 29 kilometer. Secara letak Pulau Kelasa/Gelas berada di gugusan Kepulauan Bangka Belitung.

Pulau ini tepatnya terletak di sisi timur Pulau Sumatera. Berdasarkan hasil survey toponim pulau tahun 2006 oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, pulau ini tidak mengalami perubahan nama dari Pulau Gelasa menjadi Kelasa.

Namun, tidak diketahui kenapa pulau ini diberi nama kelasa sehingga arti Kelasa yang disematkan pada pulau ini belum diketahui.

Dari aspek history,  masyarakat sekitar menamakan pulau ini pulau Kelasa yang berarti bonggol ditekuk atau punggung binatang dikarenakan pulau ini terlihat seperti bonggol yang ditekuk dari jauh.

Dalam perjalanan waktu, sejarah Pulau ini juga telah tercatat dalam dalam buku “The China Sea Directory” yang diterbitkan oleh Pemerintah Inggris pada 1878 bernama “Gaspar Island” atau Pulau Gaspar.

Baca Juga  Jasad Suwandi Nelayan Kurau Ditemukan 20 Meter Dari Titik Hilang

Apa sebetulnya yang menjadi peluang  pengembangan perekonomian  dari kehadiran “Gelasa” ini?.

Tentunya telah banyak publikasi-publikasi terkait pulau ini dan membawa efek secara ekonomis jika itu akan dilihat suatu pola pengembangan ekonomi baru.

Potensi tersebut tentunya bisa memberikan arah pengembangan ekonomi baru bagi Provinsi Bangka Belitung dan secara khusus Kabupaten Bangka Tengah.

Keasrian dan kelesatarian pulau Gelasa ini tentunya beriringan dengan sejarah panjang dari pulau tersebut.  Beberapa temuan penting dari beberapa publikasi digital menunjukkan bahwa ada historical terkait kekayaan lingkungan di Pulau ini.

Seperti Karang Porites yang berukuran besar dan terendam di lautan selama ratusan tahun yang diibaratkan memory card-nya bumi!.

Selain itu, terdapat Penyu hijau, penyu sisik , dan penyu belimbing dimana masuk Daftar Merah IUCN [The International Union for Conservation of Nature’s] atau masuk CITES Appendix I, artinya spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang diperdagangkan secara internasional dalam segala bentuk.

Baca Juga  Algafry Soroti Digitalisasi Bangka Tengah Masih Tertinggal, Camat Diminta Gencarkan QRIS

Tentunya ini bisa merupakan salah satu fokus konservasi bagi dunia internasional. Selanjutnya, data dari Kementerian Kelautan Perikanan RI juga terdapat Dugong di Pulau Gelasa ini dan merupakan salah satu mamalia laut langka yang hidup di perairan tropis.

Tersebar di berbagai penjuru dunia seperti Indo Pasifik, Afrika Timur, hingga Kepulauan Solomon. Indonesia melindungi dugong dengan UU No.7 Tahun 1999 dan Permen LHK Nomor 20 Tahun 2018.

IUCN menetapkan statusnya Vulnerable atau Retan punah. Dugong tergolong Appendix I CITES yang berarti dilarang diperdagangkan dalam bentuk apa pun.

Di pulau Gelasa ini juga terdapat hiu pari dan hiu paus. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18 Tahun 2013 dan sudah ditetapkan masuk Appendix II dalam Convention on Migratory Species [CMS] Di mana,  hewan ini merupakan adalah Top Predator dalam sistem rantai makanan laut. Dengan sering ditemukannya hiu di Perairan Pulau Gelasa, membuktikan jika kondisi perairan tersebut dalam kondisi baik.

Baca Juga  Orang Kuat Perusak Demokrasi

Data Kementerian Kelautan Perikanan juga menunjukkan bahwa di Pulau Gelasa ini terdapat Ikan Napoleon merupakan ikan ukuran besar penghuni ekosistem terumbu karang dengan panjang mencapai 230 centimeter, dan berat hingga 191 kilogram di mana  Ikan napoleon masuk daftar CITES Appendix II pada 2004.

Data KKP juga menunjukkan terdapat spesies ikan lain yang dilindungi seperti Lumba-lumba hidung botol dan Ikan Pari manta  dimana ikan pari manta ini sebagai jenis ikan dilindungi secara penuh, melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4/KEPMEN-KP/2014.

Saat ini ikan pari manta dikategorikan Appendiks II CITES dan juga masuk dalam Daftar Red List IUCN dengan kategori rawan terancam punah. Selain itu terdapat sejenis kerang “Kima” [Giant clam].

Di dunia, sekitar hanya terdapat 12 jenis kima telah diidentifikasi dan  delapan jenis ditemukan di Perairan Indonesia.