Karya: Khoiriah Apriza, siswi Kelas XI SMAN 1 Airgegas

Siapa yang tidak kenal dengan Bagas? Hampir semua siswa-siswi di sekolahnya kenal dengannya. Bahkan, di luar sekolah pun namanya terkenal. Namun, perlu diketahui, Bagas dikenal bukan karena kepintarannya, melainkan karena kenakalannya. Ia suka membolos sekolah, merokok di WC, merusak fasilitas sekolah dan masih banyak lagi kenakalan yang ia lakukan di sekolah.

“Bu, ini ada surat panggilan dari sekolah,” ujar Bagas yang baru pulang sekolah. Bajunya dikeluarkan, dengan dua kancing atas bajunya dibuka. Tak lupa juga dasinya yang terikat di kepala.

“Surat lagi?” tanya ibu yang sedang melipat baju.

“Iya,” jawab Bagas seadanya. Ia meletakkan surat tersebut di atas tumpukan baju. Kemudian ia pergi memasuki kamarnya.

“Enggak capek kamu buat kenakalan terus di sekolah? Kamu itu udah kelas sebelas. Harus nya kamu itu lebih giat lagi belajarnya. Cari banyak-banyak prestasi, bukan banyak-banyak sanksi,” omel ibu seraya membuka surat tersebut kemudian membacanya.

“Wajarlah Bu anak remaja nakal.  Lagian, Jadi cowok nakal itu keren tau Bu,” sahut Bagas dari kamarnya.

Baca Juga  Zoey, si Gadis Culun

“Keren dari mana? Dari kolong jembatan?” ledek ibunya

“Iya Bu bener. Anak-anak yang tinggal di jembatan, sering bilang Bagas ganteng. Hehe,” kekeh Bagas. Ia keluar kamar sambil menenteng handuk.

“Ketauan merokok lagi?” sindir ibu Bagas setelah membaca surat tersebut. Kemudian ia melanjutkan melipat baju.

“Hehe kayak enggak kenal Bagas aja ibu,” ujar Bagas lalu mendekati ibunya dan mencium pipi ibunya.

“Merokok itu enggak baik untuk kesehatan Gas, Jangan di biasain,” ujar Ibu Bagas. “Sana mandi, terus makan. Habis itu sholat Ashar. Tadi Sholat Dzuhur kan?” tanya Ibu.

“Sholat kok,” jawab Bagas.

Inilah kehidupan sehari-hari Bagas. Hidup berdua dengan ibu nya yang bekerja sebagai petani sayuran. Ayahnya telah menceraikan ibunya dan kini kabarnya telah menikah lagi.

Walaupun nakal, tetapi Bagas sangat menyayangi ibunya. Bahkan cita-citanya pun, bisa menaikkan haji ibunya.

“Bro! Dari mana aja Lo baru nongol?” tanya Asep, teman tongkrongan Bagas.

“Ibu lagi sakit di rumah. Jadi tadi beli obat,” jawab Bagas kemudian tanpa permisi mencomot pisang goreng di piring.

Baca Juga  Jiwa Mereka yang Tersesat

Saat ini, Bagas sedang nongkrong bersama teman-temannya.

“Masih ingat ibu ternyata lho Gas,” Celetuk Dimas dengan rokok di tangannya.

“Di luar, gue di pandang jelek enggak apa-apa, Di depan ibu, gue harus jadi yang terbaik,” ujar Bagas sambil menepuk dadanya bangga.

“Yoi, gue setuju sama pendapat Lo,” ujar Derry.

“Btw, gue belum pernah ketemu sama ibu Lo. Kapan-kapan boleh lah gue main ke rumah Lo,” ujar Asep.

“Gue juga. Siapa tau kan, kita di masakin gitu. Lumayan, makan gratis,” sahut Pandu.

“Idihh tapi boleh deh entar gue bilang ke ibu,” ujar Bagas, ia mendekati Dimas kemudian merebut rokok Dimas dan menyesapnya. “Jangan ngerokok, kata ibu gue enggak baik buat kesehatan,” celetuk nya.

“Alahh prettt. Situ ngapain ngerokok kalau gitu?” ujar Dimas dengan kesal.

“Buat menghangatkan tubuh,” jawab Dimas asal.

“Gyus, ada mangsa di ujung jalan sana. Ada yang mau?” tanya Satria yang baru datang kemudian turun dari motor kingnya.

Baca Juga  4 Cara Membuat Karya Sastra Tulisan Yang Menarik Perhatian Orang

“Gue aja deh. Mau enggak Lo gas?” tawar Dimas.

“Ayo aja gue mah,” jawabnya

Setelah itu mereka berdua pun pergi menaiki motor king hitam milik Bagas.

Saat ini, mereka sedang mengintai seorang pemuda berjalan kaki seorang diri. Bagas yang duduk di belakang, melihat kanan dan kiri untuk memastikan keadaan. Setelah merasa aman, Bagas menepuk pundak Dimas. Dimas yang diberi kode pun, segera melajukan motornya menuju pemuda tersebut. Dengan lihai, Bagas merebut tas yang dipakai pemuda tersebut. Pemuda tersebut sempat terjatuh, kemudian bangkit lagi dan teriak meminta tolong.

“Tolong! Tas saya di copet! Tolong!” teriak pemuda tersebut sambil lari mengejar Dimas dan Bagas.

Ini lah Bagas di luar sekolah. Anak laki-laki yang bergabung dengan komplotan preman yang suka mencopet. Namun, Bagas tidak pernah mengambil uangnya barang sedikit pun. Ia hanya sekadar hobi mencopet.

*

Di suatu malam.

“Gyus, ada mangsa tuh di dekat gang jalan Nanas. Siapa yang mau ikut gue?” tanya Asep yang baru datang di tempat Bagas nongkrong biasanya.