“Gue aja deh. Mumpung lagi enggak ada kerjaan. Derry lagi main game, si satria lagi bucin. Bagas sama Dimas lagi ngerjain tugas. Kesambet kek nya tuh anak tumben-tumbenan rajin,” ujar Pandu yang ikut berdiri mengikuti Asep.

“Yee, giliran gue males ngerjain tugas, Di omongin. Giliran gue rajin, Di omongin. Tinggal di Indonesia tuh harus punya banyak stok sabar ya, pedes semua nyinyiran nya,” ujar Bagas.

“Sabar, orang sabar mukanya lebar,” celetuk Dimas yang asik mengerjakan tugasnya.

“Kita cabut dulu,” pamit Asep.

*

Saat ini sudah menginjak pukul sebelas malam. Karena merasa tidak enak badan, Bagas minta diantar pulang oleh Dimas.

“Ini ada apa kok ramai-ramai di rumah gue?” tanya Bagas ketika baru sampai di rumahnya.

“Mana gue tau,” jawab Dimas yang juga bingung.

“Pak, ada apa ini?” tanya Bagas.

“Ya Allah Bagas! Kemana aja kamu ditelpon enggak di angkat. Ini Bagas udah datang,” teriak pak Tejo. Kemudian, ia menarik Bagas memasuki rumahnya.

Terlihat, ada seseorang  yang terbaring kaku tak berdaya. Dengan kain jarik  yang menutupi seluruh tubuhnya. Dengan hati-hati juga tangan yang bergetar, Bagas membuka dengan perlahan jarik tersebut hingga batas wajah nya. Saat itu juga, teriakan histeris terdengar.

Baca Juga  Tiga Menit Hening

“Ibuuuu!!!!” teriak Bagas seraya memeluk mayat ibunya erat.

“Gas, jangan sampai air mata mu terkena wajah ibumu,” ujar Bu Dwi.

Dengan perlahan Bagas menghapus air mata nya. Setelah itu, Bagas merenung sejenak sambil menatap wajah ibu nya yang damai namun nampak pucat.

“Sebenarnya apa yang terjadi sama ibu bude?” tanya Bagas kepada Bu Salamah, tetangganya.

“Ibu kamu tadi sekitar jam sembilan pergi ke warung. Ada pamit juga sama bude. Ya udah  bude titip beli telur sekalian. Terus, sekitar jam setengah sepuluhan belum datang juga. Bude udah khawatir. Terus datang warga pakai mobil, kata nya ibu kamu dibegal di gang jalan nanas. Karena ibu kamu memberontak saat gelang emasnya mau di ambil, begalnya nusuk perut ibu kamu. Saat ibu kamu dibawa kerumah sakit, di tengah jalan ibu kamu kehabisan darah dan meninggal dunia,” cerita Bu Salamah sambil meneteskan air mata kemudian menghapusnya.

“Gang jalan nanas?” tanya Dimas memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Ia pun nampak sedikit terkejut.

“Iya. Alhamdulillah, begalnya udah ketangkep. Mereka benar-benar meresahkan warga,” jawab Bu Salamah.

“Ciri-ciri begal nya gimana bude?” tanya Bagas penasaran.

Baca Juga  Hapkido Bangka Selatan Sabet Juara Umum II pada Kejurda I Bangka Belitung

“Katanya ada dua orang laki-laki masih muda pakai motor king. Yang satu seumuran lah dengan kamu, yang satunya lagi agak dewasa,” jawab Bu Salamah

“Ya Allah, enggak mungkin kan.. kalau.. Astaghfirullah Al azim aku ini mikir apa?” Bagas terus beristighfar dalam hati. Bagas terus mengusir pikiran jahat yang hinggap di kepalanya.

*

Keesokan harinya, setelah pemakaman ibunya. Bagas pamit kepada Bu Salamah untuk pergi melihat pelaku pembunuh ibunya tersebut.

“Ternyata memang kalian berdua ya? Siapa yang nusuk ibu gue?” tanya Bagas dengan suara yang pilu.

“Sorry Bagas, Kita benar-benar enggak tau kalau perempuan itu ibu Lo. Dari awal kan emang gue enggak tau wajah ibu Lo,” ujar Pandu dengan raut wajah bersalah.

“Siapa yang tusuk ibu gue!” tekan Bagas dengan nada yang dingin. Bukan itu jawaban yang ia inginkan. Ia hanya ingin tau siapa yang telah menusuk ibunya dengan pisau.

“Gue Bagas. Tapi gue enggak bermaksud. Habisnya dia,”

“Brengsek!! Senakal-nakal nya kita, jangan membunuh orang! Itu kan perjanjiannya yang telah kita sepakati bersama?! Lo bego atau gimana ha!” bentak Bagas yang memotong ucapan Asep.

“Harap tenang, jangan buat keributan disini,” ujar seorang sipir penjara.

Baca Juga  Pergi dan Tak Kembali

“Gue harap kalian menyesal dengan apa yang telah kalian perbuat!” ujar Bagas, setelah itu ia pergi meninggalkan tempat dimana Asep dan pandu di penjara.

*

“Bu, Maaf kan Bagas ya. Bagas masih belum bisa membahagiakan ibu di dunia. Bagas enggak bisa menjadi anak yang Sholeh. Bagas enggak bisa jagain ibu. Bagas belum bisa membawa itu ke tanah suci. Hiks.. Bagas brengsek Bu. Bagas minta maaf Bu. Hiks…” tangis Bagas pecah di bawah guyuran air hujan yang deras. Ia menangis seraya memeluk batu nisan ibunya.

“Bagas janji Bu, akan menjadi anak yang baik. Bagas akan bertobat ke jalan Allah Bu. Bagas akan menyerahkan diri  ke polisi. Di sini, Bagas sadar, bahwa ini  juga kesalahan Bagas. Maaf kan Bagas bu. Ibu jangan pernah benci Bagas ya. Semoga ibu di tempat kan yang terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin ya rabbal allaamiin,”

Seperti itu lah kehidupan. Yang awalnya hidup sebagai ahli maksiat, hingga Allah SWT datang kan hidayah untuk merubahnya menjadi ahli ibadah. Ketahuilah, bahwa hidayah sangat lah berharga. Maka jagalah dan manfaatkanlah baik-baik hidayah dari Allah SWT. Semoga, kita selalu mendapat hidayah dari Allah SWT.

Tamat.