Karya: Viona Putri Anatasya, siswi SMPN 2 Toboali, Bangka Selatan

Suatu hari, saat masa liburan sekolah dimulai, terdapat keempat sekawan yang sedang asyik bermain di dekat rumah kosong yang terkenal dengan keangkerannya.

Kabarnya rumah itu dihuni oleh para hantu. Nama keempat anak itu adalah Mita, Amel, Putri, dan Nuna. Sembari bermain, salah satu anak bernama Mita merasa penasaran dengan rumah terbengkalai itu.

“Teman-teman, kalian tahu ga, kenapa rumah itu tak ada yang menghuni?” tanya Mita.

Mendengar pertanyaan temannya, Putri pun menjawab,”Katanya dulu rumah itu ada yang menghuni, tapi entah kenapa sekarang tidak ada lagi penghuninya.”

Setelah pembicaraan tentang rumah kosong itu, mereka pun melanjutkan lagi permainan yang sempat terhenti.

Sementara sore hampir habis, waktu telah menunjukkan pukul 18.15 WIB. Adzan pun mulai terdengar. Empat sekawan itu pun hendak pulang ke rumah masing-masing.

“Tolong … tolong sayaaa!” Tiba-tiba suara putus asa terdengar dari kejauhan. Membuat Nuna menghentikan langkahnya. Nuna pun segera memanggil teman-temannya yang telah berjalan lebih dahulu di depannya.

“Tunggu! Sepertinya ada seseorang yang berteriak meminta tolong. Kalian denger, ga?” Jelas saja suara keras Nuna berhasil menghentikan langkah teman-temannya. Namun, taka da satu pun dari teman-temannya yang mendengar apa yang didengar oleh Nuna.

Baca Juga  Sumpah Ampak

Nuna mengatakan, “Kayaknya suaranya berasal dari rumah kosong itu.” Bukannya takut Nuna malah bermaksud mengajak teman-temannya ke rumah kosong itu untuk memeriksa.

Namun, Amel yang merasa takut menolak. Teman-teman lainnya juga tak ada yang mau. Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing.

***

Keesokan paginya, Mita menceritakan apa yang dialami oleh Nuna kemarin kepada ibunya. Mendengar cerita Mita, ibu pun melarang Mita dan teman-temannya memasuki rumah kosong itu. Mita pun hanya diam saja.

Kemudian pada pukul 11.30 WIB, datanglah Nuna dan teman lainnya ingin mengajak bermain.

“Ini pukul 11.30, kata orang dan kata ibuku ‘gak boleh keluar rumah kalo lagi jam begini’, Nuna!” tolak Mita. Nuna segera merayu Mita. Akhirnya Mita pun setuju untuk bermain bersama teman-temannya. Lalu mereka bermain kembali di dekat rumah kosong itu.

Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba Nuna mendengar suara teriakan itu lagi. Namun, rupanya hanya Nuna saja yang mendengar, sedangkan teman-temannya tidak mendengar suara apapun.

Baca Juga  Bawaslu Basel Ingatkan Masyarakat Tidak Terlibat Politik Uang

Akhirnya, Mita mengajak teman-temannya pulang saja. Sepertinya Mita juga merasa takut. Akan tetapi, Nuna terus saja memaksa. Beruntung adzan kembali terdengar.

Allahu Akbar … Allahu Akbar

“Alhamdulillah, sudah adzan. Bagaimana kalo kita sholat dulu? Setelah itu baru kita ke rumah itu sekitar jam dua sore nanti, gimana?” tawar Amel. Entah kenapa Amel mendadak paling berani. Padahal kemarin dia yang merengek minta pulang.

Setelah mereka sholat dan jam sudah pukul 14.30 WIB mereka pun mulai berkumpul. Setelah beberapa menit, sampailah mereka di rumah itu.

“Braaak!”

“Sepertinya itu suara benda jatuh,” kata Nuna. Mita pun semakin ketakutan dan tidak berani masuk ke dalam rumah. Namun, Nuna memaksa. Maka sambil ketakutan Mita masuk ke dalam rumah. Ke empat sekawan itu segera berpencar untuk mencari sumber suara yang didengar oleh Nuna.

“Tolong … tolong!” Terdengar lagi suara putus asa itu, tapi kali ini terdengar lebih dekat.

“Sepertinya ada orang sedang menangis, tetapi dimana yah?” tanya Nuna dalam hati.

Baca Juga  Sebuah Keikhlasan

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Tiba-tiba Nuna mendengar suara tangisan berada di dalam ruang kamar yang kosong.

Nuna membuka lemari, ia dikagetkan dengan baju yang berlumuran darah kering. Dengan ketakutan, Nuna berteriak memanggil teman-temannya.

“Apa apa, Nun?” tanya teman-temannya serentak. Nuna segera menunjukkan temuannya, “Lihat baju ini!” seru Nuna. Teman-temannya pun kaget.

“Ayo, kita pulang dan bawa baju itu, nanti akan kuberikan pada ibu. Biar ibuku saja yang bertindak,” usul Mita, yang disetujui teman-temannya.

Sesampainya di rumah, Mita segera melaporkan temuan baju bernoda darah itu kepada ibunya. Melihat itu, ibu mulai bercerita.

“Dulu ada keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-laki yang menghuni rumah itu. Lalu entah bagaimana rumah itu mendadak tak dihuni lagi hingga terbengkalai sampai saat ini?” Cerita ibu kepada Mita. Ibu pun berpesan kepada Mita agar tak lagi mengunjungi rumah kosong itu. Namun, sayangnya Mita dan teman-temannya rupanya tak mengindahkan pesan ibu.

Pada pukul 21.30 WIB, tanpa  sepengetahuan orang tua mereka masing- masing, anak-anak kecil itu menyelinap masuk ke rumah kosong itu.