Pendidikan Guru Penggerak, Tak Bermanfaat? (1)
Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd, Guru SMP Negeri 2 Lepar, Pegiat Literasi Bangka Selatan
OPINI, TIMELINES.ID — Tak terasa kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) akan segera berakhir.
Ketika menulis catatan ini, waktu menunjukan pukul 05;25 WIB pada Kamis, 30 Maret 2023.
Tak terkira pembelajaran dan pengajaran yang saya dapatkan melalui kegiatan PGP Tersebut.
Materi, keluarga baru, diskusi yang membangun, kritik – saran.
Utamanya adalah mengembangkan diri kita dalam kaitan pembelajaran atau pengelolaan iklim pendidikan yang menghamba pada murid.
Sebelum mendapat gelontoran materi dari PGP, apa yang saya sebut belajar sangat berbeda dengan difinisi belajar setelah mengikuti PGP.
Mencatat, berdiskusi, melakukan presentasi, taya – jawab, menggunakan metode ini, metode itu dengan lembaran admistrasi yang berjilid-jilid.
Dengan harapan bisa membentuk murid sesuai yang kita harap-harapkan, belum lagi ekspektasi kita terhadap pembelajaran yang kita lakukan.
Inginya seperti ini, hasilnya seperti itu, kadang tidak nyambung, bahkan terkesan sangat tidak relevan, sekian lama mengajar murid tak kunjung dapat nilai yang diharapkan.
Lebih-lebih menempatkan pembelajaran yang kita lakukan seperti memperlakukan koran.
“Habis dibaca dijadikan bungkus makanan” tidak memiliki makna.
Bagaimana tidak!.
Berbulan bulan kita mengajar, mengejakan PAS, PTS atau uji kompetensi lainnya dengan waktu yang sangat singkat dan dengan hasil yang tidak memuaskan.
Dalam hati kecil apa yang salah dengan pelajaran yang Saya lakukan?, apa yang kurang?, nilai-nilai saja harus didongkrak, dinaikan dan dikatrol.
Waktu itu Saya selalu berorientasi pada diri dan lebih banyak menyalahkan murid karena tidak belajar atau tidak mendengarkan apa yang ajarkan kepada mereka.
Orientasi itu kemudian perlahan terkikis melalui Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang saya ikuti.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.