Pada pembelajaran modul 1, saya langsung tersentak karena dalam materi Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara, laku pendidikan tidaklah seperti yang saya kerjakan selama ini.
Pendidikan lebih menekankan pada bagaimana kita bisa mengimplementasi apa yang menjadi jantung pendidikan itu sendiri.

Yaitu, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Ternyata guru bukanlah figur utama dalam pengajaran namun murid-lah yang menjadi pemeran utama.

Guru hanya sebagai fasilitator sedang murid sebagai kreator untuk menciptakan pembelajaranya.

Maka, sesuailah filosofi tersebut.

Guru hanya menuntun dengan memberi contoh, mendorong, dan motivasi.
Hal itu dilakukan karena murid sudah memiliki lakunya masing-masing sedangkan tugas kita hanya menebalkannya.

Baca Juga  Rakyat, Sebuah Kartu yang Menentukan Nasib

Sehingga dalam konsep itu, muncul kesadaran pada diri saya, bahwa pembelajaran haruslah menghamba pada murid.
Maksudnya adalah bagaimana pembelajaran yang memfasilitasi murid untuk menjadi kreator dan aktor, dengan dilandasi pada pendidikan yang mengembangkan kodrat anak yaitu kodrat zaman dan kodrat alam.
Terlebih ketika saya beranjak pada modul selanjutnya.

Utamanya pada pembelajaran guru harus memiliki nilai, peran, visi dan mampu untuk menciptakan lingkungan yang positif bagi murid untuk tumbuh-kembangnya di sekolah.
Di mulai dari nilai dan peran guru penggerak, saya belajar.

Selama ini Saya tidak memahami betul nilai dan peran saya sebagai guru, kecuali pada skala profesionalisme yang harus dimiliki seorang guru.

Baca Juga  Buka Puase Nam

Ternyata pemahaman itu masih sangat jauh.
Berbekal pada pembelajaran yang saya alami, saya memahami bahwa seorang guru memiliki nilai dan peran yang ada dalam dirinya.

Nilai itu mencakup nilai mandiri, inovatif, berpihak pada murid, koloboratif serta reflektif.

Sedangkan peran, menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong koloborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, serta menggerakan komunitas praktisi.
Dari situ kemudian merubah pemikiran saya tentang apa itu guru?.

Guru bukan hanya seorang yang tugasnya membuat administrasi, datang, mengajar, buat penilaian, sudah.

Guru memiliki nilai dan peran yang sudah ada dalam dirinya, namun tidak pernah ditekan tombol aktifnya.
Oleh karena itu, hari ini tombol itu saya tekan, sehingga saya  punya pandangan visi yang berbeda terhadap pembelajaran yang saya lakukan.

Baca Juga  Membumikan Kelekak, Solusi Kerusakan Alam Bangka Belitung

Visi itu selain dihiasi oleh nilai dan peran kita sebagai guru juga diisi dengan nilai-nilai dari profil pelajar pancasila (mandiri, kreatif, berbineka global, gotong-royong, bernalar kritis, dan beriman bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia).

Visi tersebut juga diharapkan memiliki kaitan yang erat dengan road map tujuan pendididikan Indonesia.

Lebih dari itu, visi yang kita pegang tersebut mampu menjadi pengingat diri untuk memfasilitasi pembelajaran yang berpihak pada murid. (Bersambung)