“Nanti kita ajak kakek dan nenek nonton, yuk,” ajak Gilsha.

“Nonton? Nanti kita lihat saja, ya,” jawab Ilham.

Ilham menatap aku dan istriku bergantian dengan raut wajahnya yang kini berubah. Bahkan Farida ikut menjadi cemas.

Aku juga melihat tatapan khawatir Fatimah seolah ada yang tengah menganggunya. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku tetap diam saat itu.

Kami berhenti sebentar di tempat pengisian bensin. Tak ada rasa heran saat melihat betapa panjang antrian pengisian bensin saat ini.

Anak-anak kami tertidur di kursi belakang. Memang perjalanan kami cukup menguras tenaga mereka.

Aku sedang melirik-lirik sekitar saat Fatimah tiba-tiba memberi isyarat ingin berbicara sesaat di luar mobil. Aku mengangguk setuju dan langsung meminta izin Ilham.

Ilham hanya mengangguk pendek tanpa berkata sepatah katapun, seolah tahu apa yang ingin dibicarakan Fatimah.

Sesaat di luar mobil, Fatima dengan raut cemasnya berkata, “Bapak bagaimana, Mas?”

Aku menghela napas pendek sembari tersenyum, “Apanya yang bagaimana, dek?”

“Bapak masih di rumah sakit, kan? Gilsha mau jalan-jalan dengan kakeknya. Bagaimana bilangnya ke Gilsha?”

Baca Juga  Di Himpang Lime Aku Menyanyi Nina Bobok

Aku memeluk Fatimah dengan lembut sebelum berkata, “Kamu tenang saja, ya. Urusan Gilsha, biar aku dan Ilham yang urus. Mungkin memang sudah saatnya Gilsha tahu keadaan kakeknya.”

Dengan itu, Fatimah hanya bisa mengangguk lesu. Tak terasa, bensin mobil sudah diisi, kami bergegas kembali ke dalam mobil.

Salah satu alasan kepulangan kami selain mudik adalah karena ayah sedang sakit stroke dan dirawat di rumah sakit.  Sepanjang sisa perjalanan, kami banyak tak bicara.

Kelurahan Bukit Betung, Sungailiat

Menjelang buka puasa

Jalanan berbatu dengan pasir kuning kami lewati dengan mulus. Daerah kami yang jauh dari perkotaan membuat daerah kurang diperhatikan infrastrukturnya. Namun, itulah yang membuatnya istimewa.

Suasana pedesaan yang asri membuatnya tetap menjadi tempat yang damai dan menenangkan seperti ingatan terakhir masa kecilku.

Sesekali Ilham menceritakan suasana di kampung selama aku tidak ada dan aku akan tersenyum sembari memandangi pemandangan dari balik jendela.

Lima menit kemudian, kami sampai di depan rumah. Aku, Fatimah, dan Farida saling tatap khawatir melihat Gilsha yang bersorak gembira.

Baca Juga  Aku Ingin Menjadi Polwan

Aku mencoba melakukan kontak mata dengan Ilham, namun dia punya senyum lebar di wajahnya dan tidak teralihkan dengan tatapanku. Kenapa dia terlihat senang?

Pertanyaan itu mengambang begitu saja ke udara begitu aku melihat dua orang yang keluar dari rumah itu. Ibu mendorong kursi roda yang didudukinya keluar rumah.

Mereka tersenyum hangat seperti di masa lalu. Jantungku berdegup dengan kencang dan dengan cepat aku keluar dari mobil, bahkan lebih cepat dari Gilsha.

Aku berdiri di hadapan kedua orang tuaku. Mereka terkejut melihatku yang mendadak agresif, namun aku yakin mereka memahaminya. Ya Allah, Bapak baik-baik saja. Aku langsung berhambur ke pelukan bapak yang duduk di atas kursi roda.

“Ya Allah, pak. Bapak– bapak udah sehat?”

Dengan senyum hangat dan tawa kecil beliau berkata, “Alhamdulillah Allah mengizinkan bapak rayakan Idul Fitri di rumah bersama keluarga besar.”

Setelah berpelukan cukup lama, aku beralih memeluk Ibu yang menunggu pelukan dariku. Tak lama keluargaku dan Ilham ikut menghampiri. Fatimah sama terkejutnya denganku, namun aku yakin dia bersyukur bukan main.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

Ilham nampak puas telah memainkan suasana hatiku. Secara bergantian Fatima, Farida, dan Gilsha memeluk dan mencium orang tuaku. Semua menghela napas lega, kecuali Gilsha.

“Kakek, kenapa naik kursi roda? Kakek sakit?”

Dengan lembut ayah menjawab, “Iya, kemarin kakek sakit. Tapi sekarang sudah sehat.”

Aku menatap Ilham yang masih tersenyum puas. Dengan main-main aku berkata, “Ku gawe ka! (Awas kau!)”

Sebagai gantinya dia justru beralih kepada anak-anakku dengan berkata, “Bantu om keluarin hadiah, yuk.” Dengan cepat kedua anakku berlari mengeluarkan hadiah dari bagasi.

Tak lama kemudian, Adzan pun berkumandang. Suara syahdu nan menggetarkan hati menggelegar di atas langit. Lafadz Hamdallah diucapkan oleh setiap mulut.

Ibu mengajak kami masuk untuk berbuka dengan masakan yang telah ia siapkan untuk kami.

Aroma khas lempah kuning menyeruak masuk ke dalam hidung. Suara piring berdenting terdengar pertanda kebersamaan yang selama ini dirindukan. Hari raya tahun ini akan jauh lebih bermakna.

Tamat