Prioritas Amal di Akhir Ramadhan
Kedua. Melakukan i’tikaf. Sebagaimna Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA: Bahwa Rasulullah selalu Iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Masih banyak diantara kaum muslimin yang melewatkan hari-hari istimewa ini begitu saja. Padahal Rasul, beserta sahabat, dan juga mengajak istrinya-istrinya untuk mengoptimalkan ibadahnya.
Seoalah-olah waktu tersebut memang dikhususkan untuk membangun hubungan dengan Allah. Coba kita simak sebuah hadist yanng disampaikan sayyidah Aisyah Ra.
Ketika Rasulullah melakukan i’tikaf “Sungguh Rasulullah memasukan kepala beliau kepada ku ketika beliau sedang ber-Itikaf di masjid, lalu saya menyisirnya. Apabila beliau beriktikaf, tidak masuk kerumah kecuali ada keperluan.” (HR Bukhari).
Bahkan tidak meninggalkan masjid kecuali memang hal tersebut sangat mendesak. Nampaknya hal ini terlihat begitu sulit dilakukan jika memang tidak membuat persiapan yang matang.
Apalagi kondisi harus bekerja, dan lain sebagainya. Akan tetapi, prinsipnya adalah seandainya belum bisa melakukan semuanya. Jangan pernah meninggalkan semuanya.
Paling tidak kita sudah berniat ingin beri’tikaf dan berusaha untuk memaksimalkan amal kita.
Hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat, karena masih banyak yang belum mengerti.
Bukan mereka tidak mau, melainkan karena keterbatasan ilmu untuk melakukan hal itu semua. Para takmir masjid harus kreatif untuk memakmurkan masjid, agar mampu mengajak masyarakat untuk membudayakan hal semacam ini.
Agar puasa Ramadhannya semakin bermakna dan bernilai, sehingga satu komplek masyarakat mendapat gelar muttaqin disisi Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.
Ustad Abdussalam Alghozali, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Quran Cahaya Kabupaten Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.