“Emilia, kau harus– Oh, Tuhan! Apa yang terjadi pada kamar ini?!”

Emilia hanya bisa menatap Sarah dengan mulut terperangah dan sorotan mata ketakutan. Sarah dengan cepat mengambil surat yang semalam lupa dibaca Emilia, membukanya dengan kasar. Baru sebentar membacanya, Sarah terkejut bukan main sambil menutup mulutnya.

“Astaga, kau tidak akan percaya ini.”

Emilia segera menghampiri Sarah dan merebut kertas yang dibaca Sarah. Isi surat itu benar-benar menbuka pikirannya.

“Hai, sayang. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi kau akan mengetahuinya nanti. Aku tahu kita ditakdirkan bersama sejak pertama kali bertemu. Kau gadis putus asa yang malang, kuharap kita bertemu lebih awal agar aku bisa membantumu.

Bus itu adalah tempat bersejarah di mana kita bertemu untuk pertama kali. Kau adalah bidadari yang diturunkan dari surga hanya untukku. Alam semesta pun tahu kita ditakdirkan bersama. Kita harus segera bertemu kembali untuk membahas pernikahan kita. Tuhan memerintahkan kita untuk menikah. Aku akan terus mengawasimu. Kau milikku, hanya milikku, selamanya milikku. Emilia Josefina Hartawan.

 Dari cinta sejatimu yang hilang, Tuan Anonim.”

Lutut Emilia lemas seketika, kertas pun terlepas dari tangannya. Sarah langsung menuntunnya duduk di atas tempat tidurnya. Sarah tahu Emilia masih sangat terkejut, akan tetapi firasat Sarah mencurigai sesuatu.

Baca Juga  100 Pasangan Calon pengantin Ditargetkan Ikut Nikah Massal Gratis

“Anak-anak kos lain mendengar keributan semalam. Suaranya berasal dari atas. Sepertinya ada seseorang di atap kita.”

Emilia antara mendengar dan tidak mendengarnya. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran pria yang ada di bus malam itu. Dia menguntitnya dan bisa saja dia mengawasinya sekarang.

Dia bisa saja ada di mana saja. Saat mereka sedang dipenuhi rasa takut, seorang teman kosmereka, Nina, tiba-tiba masuk ke kamar mereka. Raut wajah cemas dan ketakutan terpampang jelas, membuat keduanya semakin ketakutan.

“Kalian– kalian harus ikut denganku! Ini darurat, terutama untukmu Emilia.”

Wajah Emilia seketika pucat. Tak lama, dirinya dan Sarah mengekori Nina yang menuntun mereka ke kebun belakang rumah kos. Mereka melihat anak laki-laki tertua Bu Ratna yang berada di dalam kerangka atas rumah yang telah dilubangi.

Ternyata sesaat mereka berdua pergi, anak-anak kos lain mengeluhkan suara mengganggu dari atas yang mereka dengar semalam. Pada akhirnya mereka menemukan lubang di belakang rumah. Atap rumah memiliki kerangka dalam yang benar-benar kecil, hanya memungkinkan orang dewasa masuk dengan berjongkok. Namun, apa yang mereka temukan justru kebalikannya.

Baca Juga  Awal Tahun 2023 Sudah Ada 5 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Kota Pangkalpinang

“Ada orang, Galih?” tanya Bu Ratna.

Putra sulungnya menggelengkan kepalanya, “Kosong, Bu. Tapi memang seseorang telah bermalam di sini. Ada kantong tidur dan cemilan berserakan di dalam. Ehm, bu, bisa tolong panggilkan anak kos ibu yang namanya Emilia?”

Sontak Emilia langsung berjalan menerobos anak-anak kos lain yang sedang berkerubung menonton kejadian tak biasa itu. Sesaat melihat Emilia, raut wajah Mas Galih berubah khawatir.

“Masuklah ke dalam dan lihatlah apa yang terjadi.”

“Tapi, mas. Saya takut.”

Mas Galih menatap anak-anak kos lain yang menatap mereka sebelum beralih pada Emilia dengan wajah prihatin, “Mas tidak bisa memperlihatkannya padamu, mas tidak tega. Begitu pertama lihat, mas tidak mau lihat lagi. Kalau kau melihatnya sendiri, maka kau akan mengerti.”

Bu Ratna menyerbu Emilia, “Sudah, masuk saja ke dalam. Kalau anakku sudah menyuruh masuk, pasti itu sesuatu yang penting.”

Baca Juga  Mahkota Surga untuk Ayah Ibu

Terpaksa Emilia memasuki ruangan sempit itu dibantu Mas Galih. Sesaat masuk, Emilia merasakan deja vu yang hebat, ruangan itu mengingatkannya pada mimpinya. Lalu ia beralih ke kantong tidur, termos, dan beberapa cemilan yang berserakan di sana, memang benar ada orang yang bermalam di sana.

Namun, pusat perhatiannya tertuju pada gundukan yang ditutupi sebuah jaket hitam yang familiar. Emilia menyingkirkan jaket itu dan menemukan sesuatu yang akan menghantuinya seumur hidup.

Tumpukan polaroid bergambar dirinya berserakan di mana-mana. Masih dalam keadaan terguncang, Emilia memeriksa satu-persatu foto dengan tangan gemetar. Dari foto saat ia masih duduk di bus malam itu sampai foto-foto liburannya pun ada.

Tapi yang paling membuatnya tercengang adalah foto bugil dirinya saat mandi. Seketika Emilia menangis, meraung, dan mengacak-acak foto-foto yang bertebaran. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Mas Galih yang mendengar raungan Emilia, segera menariknya keluar.

Dia ada di mana-mana. Dia terus mengawasimu. Dia bahkan tahu segala hal tentangmu. Orang jahat bertebaran di luar sana dan kau tidak akan pernah menyadarinya.

Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat