Dear Fairy: Tatiana
Karya: Sheila Fiorencia Caroline
Kedinginan. Hawa dingin menyelimutiku tembus hingga ke tulang. Tetes demi tetes embun jatuh tepat di atas kepalaku. Perasaan kedinginan yang mencekam, terasa seperti kata-kata kematian yang dibalut rapi agar tak diketahui atau dirasakan oleh orang yang akan mengalaminya. Kedinginan seperti pertanda pertama menjelang kematian.
Bau besi berkarat bercampur dengan embun di pagi hari bukanlah bau yang baik. Kegelapan dan keheningan sudah bagai makanan sehari-hari yang telah basi. Tak terhitung berapa tetes telah jatuh dari balik pelupuk mata ini. Tak terhitung berapa hari telah berlalu sejak hari kejatuhan itu. Semakin banyak hari berlalu, semakin dekat rasanya aku dengan kematian sesungguhnya. Hanya dalam beberapa jam, kematian akan menghampiriku. Tinggal menunggu matahari terbit dari sang fajar.
Satu-satunya suara yang sering terdengar selama aku berada di sini adalah siulan seorang penjaga dan seruput kopinya di pagi hari. Kadang kala pria-pria lain datang dengan suara tegas atau marah, beberapa lainnya hanya bersenda gurau dengan sang penjaga.
Pernah suatu hari seorang pria bertubuh besar nan tegap menghampiriku. Dia membuang puntung rokok yang telah dihisapnya ke arahku. Dia memandang rendah sambil menyeringai padaku seolah mengejek kematianku yang semakin dekat.
“Kuharap kau makan dengan baik. Aku tidak ingin kau mati sebelum aku menembakkan senjataku padamu,” ujar pria keji itu sebelum melangkah keluar menjauh dari jeruji besi yang menyekapku.
Semua hanya bermula dari dua pemimpin negara yang saling membenci. Pemuda sepertiku diturunkan untuk maju demi membela negara kelahirannya. Banyak hal buruk terjadi setelahnya. Walaupun begitu, ada satu hal baik terjadi selama peperangan.
Aku ingat berakhir di salah satu kamp pertolongan pertama setelah sebuah peluru meluncur tembus ke dalam perutku. Pandanganku saat itu kabur, aku ingin segera pingsan agar aku tidak perlu merasakan rasa sakitnya lebih buruk lagi. Namun, keinginan itu menghilang seketika ketika aku melihat seorang wanita yang dengan sigap memberikan pertolongan pertama padaku.
Sekilas dari pakaiannya, aku tahu bahwa dirinya adalah seorang perawat. Ekspresinya menggambarkan keseriusannya dalam bekerja, walaupun suara tembakan tetap bergemuruh di luar sana. Mata birunya menggambarkan ketenangan, alisnya yang berkerut menandakan keseriusannya, dan bahumu menegang seketika melihat semakin banyak darah keluar dari tubuhku.
Sebelum tak sadarkan diri, aku mengamati wajah cantiknya. Mata biru bagai samudra yang mengalir dengan tenang, kulit putih bak porselen, dan rambut pendek berwarna cokelat yang disanggul ke belakang.
Sejak saat itu aku tahu bahwa aku tidak akan bisa melupakanmu. Tatiana….
Tatiana-ku yang cantik, kala itu aku hanya mampu mengagumimu sehingga kau harus memulai terlebih dahulu. Aku ingat saat aku terbangun setelah tidur panjang, wajahmu adalah hal pertama yang kulihat kala itu. Seperti namamu yang berartikan Ratu Peri. Aku seperti baru saja melihat seorang peri yang sangat cantik di hadapanku.
“Kuharap aku tidak terlalu mengejutkanmu. Namaku Tatiana. Aku bertugas untuk merawatmu saat ini.”
Aku termangu seperti orang bodoh saat itu. Kebingungan menyertaiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sesaat kemudian, aku celingukan menyadari aku tidak berada di tempat yang kukenali. Aku mengutuk efek morfin[i] yang masih terasa dalam tubuhku.
“Di mana…?” tanyaku linglung.
“Kita di markas pusat sekarang. Kondisimu buruk saat itu, jadi kau dikirim ke sini.”
“Tunggu, bagaimana perangnya?”
“Jangan khawatir, para pasukan lain berhasil mengambil alih wilayah barat,” ujarnya seraya tersenyum tipis.
Setelah itu, keheningan tiba-tiba menyelimuti. Aku mencoba mengatakan sesuatu, akan tetapi sesuatu serasa menahanku untuk berbicara. Antara gugup atau takut salah tingkah di hadapan Tatiana.
Akhirnya Tatiana memutuskan untuk memecah keheningan, “Aku mengenalmu sebenarnya, Letnan Michael.”
Pernyataan itu sontak membuatku terkejut, “Apa? Bagaimana kau bisa mengenalku?”
