Tatiana tertawa kecil, “Keberanianmu melindungi Ayahku telah membuatku kagum.”

Aku terdiam sejenak memikirkan perkataanmu. Sampai tiba-tiba memori itu berputar kembali dalam pikiranku. Saat itu, aku dan instingku hanya berusaha melindungi Jenderal. Aku ingat aku menggunakan tubuhku sebagai tameng agar jenderal kami saat itu tidak tertembak. Kenyataan ini semakin membuatku terperanjat. Spontan aku langsung memberi hormat kepada putri Jenderal.

“Tunggu, kau tidak perlu melakukan itu. Aku hanya melakukan tugasku sebagai perawat,” ujarnya lembut sembari menurunkan tanganku perlahan.

Pandangan kami bertemu. Sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Jantungku berdegup dengan sangat kencang. Napasku tersengal. Sentuhan tanganmu terasa begitu hangat di kulitku. Aku tidak tahu bagaimana takdir Tuhan akan membawa kami, namun saat itu aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta.

Sejak saat itu, kami semakin dekat. Rasa cinta itu tumbuh, berkembang bak membesarkan seorang anak. Perasaan cinta begitu indah dan berharga. Aku masih bisa merasakan rambutnya yang terurai jatuh ke dadaku saat dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Baca Juga  Jatukrama

Aku masih bisa merasakan genggaman tangannya yang hangat setiap kali kami berpegangan tangan. Aku masih bisa mencium aroma berry musim panas darinya. Kenangannya melekat dan tinggal di dalam hatiku. Hanya dengan Tatiana di dekatku, hatiku serasa bahagia bahkan di tengah gempuran perang sekalipun.

Akan tetapi Tuhan memiliki rencananya sendiri. Kebahagiaan tidaklah abadi. Aku dan rekan-rekanku berakhir dalam jeruji besi setelah pasukan kami berhasil ditaklukan hari itu. Kalimat terakhir yang Tatiana ucapkan padaku sebelum melepasku kembali berperang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Terakhir kalinya aku mendengar suaranya yang lembut.

“Berjanjilah kau akan kembali lagi ke sini hidup-hidup.”

Tangisku pecah saat suara itu terulang kembali dalam pikiranku. Dengan apa yang terjadi sekarang, aku tidak akan bisa memenuhi janjiku pada Tatiana.

Saat ini, jeruji besi telah dibuka, seorang tentara menghampiriku dan mulai menyeret rantai besi yang menahanku keluar sel. Ada banyak penjaga berjaga di luar penjara. Wajah mereka tak kenal belas kasih, senang bahwa manusia di hadapan mereka akan segera mati.

Baca Juga  Kepala Sekolahku

Aku berjalan dengan lemah nan gontai mengikuti sang tentara yang menuntun jalanku menuju kematian. Masih jelas wajah dan suara Tatiana dalam kepalaku. Masih terukir dengan jelas namanya di hatiku. Bahkan di saat-saat terakhirku, hanya Tatiana yang tinggal dalam pikiranku.

Langkahku terhenti begitu kurasakan rantai-rantai berhenti ditarik. Aku bisa mendengar seorang martir berteriak padaku, “Cepat maju!!’

Bagitu aku maju selangkah, aku bisa merasakan sebuah kain yang basah menutupi seluruh penghilatanku. Sesaat kemudian, kurasakan tubuhku diikat pada sebuah papan kayu yang juga basah. Aku bisa mendengar suara peluru yang diisikan ke dalam selongsong senapan. Para prajurit menghentakan kakinya.

“TEGAK!!!”

Satu napas, satu tarikan, dan satu luncuran peluru. Suara tembakan terdengar memekakkan telinga. Waktu seolah berjalan lambat sampai sebuah peluru menembus jantungku. Hanya aku dan Tuhan yang tahu saat jantungku berhenti berdetak. Aku tidak akan pernah lagi merasakan degup jantungku yang kencang akibat cinta.

Baca Juga  Kisah Kita

Tatiana, sayangku. Kuharap kau bisa memaafkanku karena aku tidak bisa kembali hidup-hidup padamu seperti yang kujanjikan. Aku hanya meminta satu permintaan pada Tuhan, yaitu agar kau selamat di mana pun kau berada dan kau dapat melanjutkan hidupmu dengan baik.

Aku hanya ingin kau tahu bahwa cintaku untukmu tidak akan pernah habis, tak bisa dihitung dengan angka dan luas bagaikan samudra yang terhampar di lautan sana. Sampai detik terakhir jantungku berdetak, aku akan terus mencintaimu. Namamu terukir dengan jelas di hatiku. Hanya surat ini yang bisa kuberikan padamu untuk terakhir kali. Simpan aku dalam doamu.

Prajuritmu tercinta, Letnan Michael.

[i] Morfin adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan intensitas sedang hingga parah.

Sheila Fiorencia Caroline, alumnus SMKN 1 Sungailiat, aktif menulis dan telah menerbitkan buku cerpen “Tiga Menit Hening”. Saat ini melanjutkan kuliah di UT Pangkalpinang.